F4 : Love Proposal

F4 : Love Proposal
BAB 48 : Victor dan Kisahnya


__ADS_3

Felix masuk ke kamarnya dengan santai, ia lupa ada Qila yang sudah jadi taman hidupnya mulai saat ini.


"Eh astagfirullah, lupa ada kamu." ucap Felix menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Gak apa, udah biasa di lupain kok." jawab Qila tersenyum pedih. Felix jadi merasa bersalah dengan Qila. Sudah menikahi Qila begitu saja tanpa adanya kata setuju dari Qila.


"Kamu tidur di tempat tidur biar aku di bawah." ucap Felix.


"Gak usah kak, kakak ksn baru pulang dari rumah sakit, jadi kakak yang tidur di tempat tidur." ucap Qila.


"Yaelah lebay banget, ketembak doang. Bukan koma kan?" tanya Felix asal.


"Tapi luka tembak itu perlu perawatan lebih kak, gak bisa sembarangan gitu aja." bantah Qila.


"Oke oke, biar adil kita berdua tidur di tempat tidur, selesai!" ucap Felix langsung naik ke tempat tidurnya dan menepuk tampat di sebelahnya.


"Ayo tidur, udah malem. Apa mau kasih aku jatah?" tanya Felix menyeringai


"Jatah? Kakak belum makan? Kakak gak dapat jatah makan di rumah sakit?" tanya Qila polos. Felix menepuk jidatnya.


Vara yang seumuran dia gak polos banget, ini mah polosnya gak ketulungan. Batin Felix.


"Ga itu sayang ya allah, polosnya!" kesal Felix.


"Yaudah tidur sini." geram Felix ingin mencubit pipi gembul Qila itu. Qila yang notabenya penurut, mau saja tidur di samping Felix.


Felix menarik Qila dalam pelukannya. Sontak jantung Qila seakan lari maraton karna sentuhan Felix yang lembut.


"Ngadep sini." ucap Felix. Qila membalikkan tubuhnya menghadap Felix dan langsung di suguhi dada bidang milik Felix. Felix pun menjadikan lengannya sebagai bantal Qila dan mengusap rambut Qila lembut seperti ia menidurkan Vara dulu.


Lama kelamaan, Qila akhirnya tertidur pulas di pelukan Felix begitupun Felix yang nyaman dengan posisinya saat ini. Biasanya ia tertidur di temanin guling saja, sekarang sudah ada yang sah untuk menemaninya tidur.


•••


"Tapi kak, Aku masih marah sama kak Felix." ucap Vara pada Dino. Dino menepuk punggung Vara pelan. Saat ini posisi mereka sedang saling memeluk di tempat tidur.

__ADS_1


"Hm, kamu mau terus marah sama kakak kamu? Lagian kondisinya terdesak, mau gimana pun langkah yang diambil Felix ada benarnya. Kamu kan bisa berteman sama Qila dan bisa nilai sendiri Qila itu orangnya gimana." ucap Aldino.


"Ya, aku kira bakalan si Arsy itu yang jadi kakak ipar aku. Gak nyangka aja gitu, seorang kak Felix ngambil keputusan secara tiba-tiba." ucap Vara.


"Yaudah, sekarang kita urusin masalah kita. Masalah Felix itu biar dia sendiri yang nyelesaikan." ucap Dino tersenyum.


"Emang masalah kita apa kak?" tanya Vara polos.


"Katanya mau punya anak kayak Kai, yang lucu." ucap Dino menyeringai.


"Wah gak bener nih." ucap Vara mengambil ancang-ancang. Dan benar yang di perkirakan Vara, itu terjadi lagi.


•••


"Jadi kita minggu depan semuanya udah siap Ma." ucap Fardan.


"Gaunnya udah? Cincin? seserahan? Pelaminan? Gedung? Penghulu?" tanya mamanya Fardan.


"Udah ma. Udah siap semua." jawab Fardan.


"I don't think I have any ideas, try asking your brother." jawab papanya Fardan.


"Victor? No for this time I will not ask his opini." jawab Fardan.


"You are so mean bro, I just want to help." kesal Victor. "Dah lah, diam aja." lanjut Victor lagi.


"Mom, enough?" tanya Fardan mengabaikan Victor.


"Yes, I think that's enough for now, the rest can be discussed with Fay." jawab mamanya Fardan.


"Oke, finish." jawab Fardan.


"Kalian bertengkar lagi?" tanya papanya Fardan.


"Pernah gak Victor sekali aja gak ngeselin Pa?" tanya Fardan. Papanya Fardan menggeleng.

__ADS_1


"Nah itu dia, Abang gak mau nikahan abang kacau karna kamu." ucap Fardan.


"Lah emang gua ngapain di nikahan lu, kayak gak ada kerjaan aja gua." balas Victor.


"Victor.." tegur mamanya Fardan.


"Apaan sih ma! Selalu aja bang Fardan bang Fardan. Gak pernah gitu sekali mama sebut Victor. Ya aku tau aku cuman beban sedangkan bang Fardan sangat berguna!" ucap Victor mengeluarkan uneg-unegnya kalu keluar dari rumah.


"Victor!" teriak Fardan kesal.


"Lu jangan ikut campur bang!" kesal Victor dan berlari keluar rumah.


"Fardan jangan keras sama Victor. Mama tau dia belum dewasa, tapi dengan cara kamu keras dengan dia kayak gini, dia malah makin keras." ucap mamanya Fardan.


"Mendingan kamu kejar Victor sekarang." ucap papanya Fardan.


"Ck, biarin aja. Udah gede kan dia? Ntar balik sendiri pa." ucap Fardan membawa buku catatannya ke dalam kamarnya.


•••


Victor berlari sekuat tenaganya. Ia ingin menghilangkan rasa sesak di dadanya. Memang sepertinya ia selama ini tidak pernah di banggakan. Lagian apa yang harus di banggakan dari seorang Victor? Sering masuk BK? Sering buat masalah? Sering dapat nilai rendah? Beban orang tua? Sering dapat IP rendah? Itukah yang di banggakan dari Victor? Kebanggaan yang buruk?


Sedangkan abangnya Fardan, banyak sekali yang di banggakan dari Fardan. Nilainya bagus, anaknya tidak pernah buat masalah, dia calon penerus perusahaan keluarga, semuanya memuji Fardan. Sedangkan Victor? Ntah apa yang akan di dapatkan Victor.


Selama ini topeng senyum dan tengilnya ternyata tak cukup menutupi seluruh wajah dan hatinya, nyatanya Victor kembali merasa sedih.


"Hei! Sendirian aja?" tanya seorang perempuan sambil memberikan sapu tangan kepada Victor.


"Gua gak perlu di kasiani Friza. Gua bisa sediri." ucap Victor.


"Gak usah sok kuat lo, gue tau lo itu anaknya gak lemah gak kuat juga hehe." cengir perempuan yang bernama Friza itu.


"Sialan lo!" kesal Victor.


•••Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2