F4 : Love Proposal

F4 : Love Proposal
BAB 13 : Pikiran Felix


__ADS_3

Felix berbaring di kamarnya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Ia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh papanya tadi. Jika ia menerima perjodohan itu, maka ia akan di jodohkan dengan Fay.


"Kalau gua terima, gua gak mikirin perasaan Fay. Dia udah nolak gua duakali dengan alasan yang gak pasti. Walaupun dia gak mengucapkan penolakan lewat lisan, tapi sikapnya menunjukkan dia gak suka sama gua. Sebaliknya, Gua rasa Vara tertarik sama Alden. Dan Alden itu menurut gua anak yang bisa di katakan baik." ucap Felix.


Felix mengacak rambutnya. Ia sungguh bingung. Jika benar adiknya akan menikah setelah adiknya lulus SMA, Felix tidak apa-apa. Tapi jika Vara menikah sekarang juga, Felix menolak keras. Lagian Papanya kenapa main jodoh-jodohin anak sendiri sih? Ini bukan jaman Siti Nurbaya.


"Gua gak mau egois dengan nerima perjodohan itu dan nyakitin hati Fay. Gua lumayan yakin Fay tertarik sama Fardan. Ya wajar aja sih, Fardan sama gua beda jauh kalau masalah agama. Mana pangkat Fardan itu termasuk gus pesantren. Apalah daya gua yang cuman orang biasa. Bukan santri maupun ustadz." ucap Felix lagi.


Felix meraih ponselnya dan mencari nomor Fito.


"Hallo Fit, Gua.." belum selesai Felix berbicara, Fito menyela.


"Lu mau cerita kan? Ntar aja. Mak gua ngamuk! Bye!" ucap Fito langsung mematikan sambungan sepihak.


"Kalau bukan temen gua, udah gua kubur lu hidup-hidup Fito." kesal Felix.


"Sekarang gimana? Masa gua cerita sama Fardan. Ya kali, gua cerita tentang Fay dengan Fardan. Kalau gua cerita sama Frizy, mulutnya ntar koar-koar kayak toa." ucap Felix. Akhirnya Felix memilih untuk belajar. Seminggu lagi ia akan menghadapi ujian nasional berbasis komputer atau UNBK.


Paginya....


"Felix mau ujian Pa. Masa pergi lagi." tolak Felix.


"Deket kok. Cuman ke Seoul." bujuk Alby.


"Korea Utara? Titip salam sama tentaranya ya kalau lu gak bisa keluar." ucap Ervan. Vara pun bertos dengan Ervan.


"Seoul, Korea Selatan. Bukan Korea Utara. Kalau Korea Utara ibu kotanya Pyongyang." ucap Felix.


"Ampun anak IPS." ucap Arsen ikut-ikutan dengan kedua adiknya.


"Hahaha iya. Papa ambil jurusan Ipa, Arsen Ipa, Ervan Ipa, Vara pun Ipa. Ada angin apa kamu ngambil Ips?" tanya Alby.


"Ngasal milih kemarin." jawab Felix malas. Felix berdiri dari duduknya dan menyandang tas sekolahnya lalu menghidupkan motornya yang berada di depan rumah. Dengan sekejap, Felix hilang dari kediaman keluarga Altezza.


"Arsen, kamu aja gih." ucap Alby.


"Gak Om makasih, Arsen lebih milih Koas demi dapat gelar dokter." ucap Arsen menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Vara aja pa!" ucap Vara mengajukan diri.

__ADS_1


"Gak!" ucap Ervan, Arsen dan Alby serentak. Vara mengerucutkan bibirnya. Padahal ia sangat senang jika ke Seoul, ia pasti akan ketemu dengan para bujang tampannya.


"Mau ketemu Jaemin!!" ucap Vara merengek.


"Gantengan Felix tuh daripada Jimin." ucap Ervan.


"Ih bang Ervan, kenapa jadi Jimin sih? Jimin itu member BTS, kalau Jaemin member NCT. Biasnya Vara itu Jaemin!" kesal Vara.


"Oh beda? Kiarin sama." ucap Ervan.


"Lagian tante Flora dari korea kan? Kakak kamu Felix itu, kental banget wajah koreanya. Liat aja dia terus." ucap Arsen.


•••


Bruk!


Felix merasa ada yang menabrak punggungnya. Felix pun menoleh kebelakang dan melihat Fay yang terduduk.


"Eh Fay, ngapaim duduk lesehan di lantai?" tanya Felix.


"Gak sengaja nabrak punggung kakak." ucap Fay. Felix mengangguk tersenyum. Felix membuka jaketnya dan melilit jaket itu di tangannya. Felix pun menyodorkan tangan itu kepada Fay.


"Mau ngapain?" tanya Fay.


"Maaf." ucap Felix. Fay menggeleng.


"Tadi aku gak sengaja nabrak." ucap Fay. Felix mengangguk.


"Felix!" panggil seseorang. Felix menoleh kebelakangnya.


"Hm?" tanya Felix tiba-tiba berubah. Sepertinya Felix kesal.


"Kamu udah kerjain pr geografi? Aku udah, msu liat gak?" tanya siswi itu menyodorkan bukunya. Felix membuka lilitan jaket itu lalu menggantungnya di lengan sebelah kiri dan mengambil catatan siswi itu dengan tangan kanan.


"Lu mau kasih gua contekan?" tanya Felix. Siswi itu mengangguk.


"Asal lu tau, jawaban lu salah semua." ucap Felix. Siswi itu melotot dan mengambil bukunya dari Felix.


"Tau dari mana?" tanya Siswi itu.

__ADS_1


"Lu kira gua gak pinter? Terus, yang selama ini juara satu umum semua angkatan jurusan IPS siapa? Lu?" balas Felix tiba-tiba badmood. Felix pun pergi meninggalkan Fay dan siswi itu.


Dia punya dua kepribadian ya? kok bisa langsung berubah? batin Fay.


•••


"Felix! Oi!" panggil Frizy.


"Ha?" jawab Felix.


"Liat pr geografi dong." ucap Frizy. Felix mengeluarkan bukunya. Dengan cepat Frizy menerimanya.


"Fardan mana?" tanya Felix.


"Ke kantin." jawab Frizy.


"Fito?" tanya Felix.


"Biasa, palingan di atap." jawab Frizy masih sibuk menyalin tugas milik Felix. Felix pun pergi ke kantin dan membiarkan Frizy sibuk dengan tugasnya.


"Fardan!" panggil Felix.


"Apa?" tanya Fardan. Felix duduk di samping Fardan.


"Lu tau Fayyana itu Ning?" tanya Felix. Fardan menatap Felix serius.


"Awalnya dia bukan ning. Karna kedua orang tuanya meninggal makanya dia diadopsi sama keluarganya kak Ayya. Kak Ayya itu sebenarnya sepupu Fay. Nah Fay itu gak mau makin merepotkam keluarga kak Ayya makanya dia sekolah di tempat biasa bukan di pesantren. Dia pun manggil orang tua kak Ayya dengan panggilan umi dan abi." jawab Fardan secara lengkap.


"Kenapa nanya? Suka sama dia?" tanya Fardan. Felix menatap Fardan terkejut. Fardan pun tersenyum dan menepuk pundak Felix.


"Gua di jodohin sama Fayyana." jawab Felix. Fardan menggeleng.


"Yakin Fayyana? Bukan Ayyana?" tanya Fardan. Felix pun mengerutkan keningnya.


"Maksud lu?" tanya Felix.


"Gak mungkin Fayyana di jodohin dua kali." jawab Fardan makin ngawur.


"To the poin!" ucap Felix. Fardan mengeluarkan kalungnya dan memperlihatkan cincin yang sengaja ia jadikam kalung agar tidak hilang.

__ADS_1


"Hilangkan perasaan lu, karna Fay calon gua."


•••Bersambung...


__ADS_2