
Felix berdecak sebal, sedari tadi wanita aneh itu terrus mengikutinya sepanjang perjalanan.
"Oh, jadi tinggal disini?" tanya Nayra. Felix tak mengubris perkataan Nayra. Ia langsung memasukkan pin apartemennya dan langsung masuk. Ia pasti akan tertekan selama 3 tahun ini. Ia sangat ingin melihat wajah adem Zahra. Ntah kenapa bisa seperti itu, Felix pun tak tau.
"Sabar Felix, sabar." ucap Felix sambil mengelus dadanya. Ia akan sabar menghadapi wanita sengklek itu. Sudah di tolongin, bukannya terima kasih malah membuatnya risih. Tau gini lebih baik ia acuh tak acuh dengan perempuan gila tadi.
Felix merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia sangat lelah, perjalanan dari indonesia cukup lama. Di tambah ia baru bertemu dengan wanita gila tadi.
"Kena sial apa gua, ketemu wanita gila. Semoga dia gak ganggu gua mulu. Gua mau belajar dengan tenang, biar bisa lulus cepat." ucap Felix sambil menatap langit-langit kamarnya.
Felix terduduk saat mengingat sesuatu. Ia membuka tas ranselnya dan mengambil sesuatu. Ia meletakkan sebuah bingkai foto di samping meja tempat tidurnya.
"Pergi jauh, harus ada Mama." ucap Felix sambil tersenyum.
"Doain Felix ya Ma. Felix pasti bisa." ucap Felix. Ia mengambil bingkai itu lalu memeluknya dan tanpa sadar Felix tertidur begitu saja tanpa membersihkan tubuhnya.
Pagi harinya....
"Ya allah! Masa gua lupa mandi." ucap Felix menepuk jidatnya.
"Jam berapa?" gumam Felix .
"Ya allah udah jam 8. Gua masuk jam 9!" teriak Felix panik. Dengan cepat Felix mandi dan bersiap. Ia tak ikut ospek karna ia mahasiswa Vvip. (Ntahlah, author pun gak ngerti kenapa dia gak bisa ikut ospek)
Felix memakai kemeja berwarna hitam dengan celana bahan berwarna coksu. Ia memakai jam kulit berwarna hitam dan sepatu berwarna putih. Felix menyisir rambutnya rapi lalu menyambar tasnya dan pergi begitu saja.
Felix menaiki lift. Ia masuk dengan cepat dan dengan sabar menunggu liftnya turun ke lantai satu. Setibanya di lantai satu, Felix malah terkena sial. Ia bertemu dengan cewe gila itu lagi.
"Paan lagi si? Gua telat!" ucap Felix.
"Tunggu, kamu anak University Of Melbourne kan?" tanya Nayra.
"Bukan urusan lu!" ucap Fekix langsung berlari menuju parkiran dan mengambil motornya. Sehari sebelum ia sampai di Australia, Alby sudah menyediakan motor untuk Felix.
"Woi! Jawab!" teriak Nayra tapi tak di hiraukan Felix .
"Berisik banget tu anak, kayak gas bocor." gumam Felix.
Dari apartemen Felix menuju University Of Melborne hanya sekitar 15 menit saja. Ketika sampai, Felix turun dari motornya. Ia memarkirkan motornya dengan rapi dan langsung berlari.
"Ruang 20 mana nih." gumam Felix sambil mencari dan melihat angka yang tertera di atas pintu kelas.
"Nah ini dia." gumam Felix. Felix masuk ke dalam kelasnya. Terlihat sudah ramai sekali mahasiswa dan Felix tepat waktu. Saat ia duduk, dosen langsung masuk ke kelasnya.
Dosen itu memperkenalkan dirinya. Seyelah selesai ia langsung masuk ke dalam materi yang akan di pelajari mahasiswa.
•••
"Jadinya di indonesia?" tanya Frizy. Aldino memgangguk.
"Yaudah, sama-sama aja. Kebetulan kami bertiga juga kuliah di sini. Sekalian aja lu gantiin Felix sementara. Tapi leader sekarang tetap Fardan. Lu member, sama kayak kita." ucap Frizy. Aldino mengangguk.
__ADS_1
"Btw, lu kapan nikah sama Fay?" tanya Fito sambil menatap mata Fardan.
"Taun depan. Tunggu dia lulus." jawab Fardan.
"Kalau taun depan sih aman. Takutnya kalau kelamaan, keburu Felix balik. Bisa aja Fay oleng ke Felix." ucap Frizy ngawur.
Plak!
Fardan memukul paha Frizy.
"Aduh! Sakit woi!" teriak Frizy kesakitan.
"Makanya, kalau punys mulut di pake yang bener." ucap Fardan.
"Ck, Fardan baperan, skip." ucap Frizy.
•••
"Lu kenapa deketin gua mulu?" tanya Felix. Felix sudah selesai dengan kuliahnya hari ini, begitu pun dengan Nayra.
"Gak ada." jawab Nayra.
"Lu ganggu gua!" ucap Felix. "Gua gak kenal lu, jadi lu jauh-jauh deh!" ucap Felix lagi.
Brak!
Felix menutup pintu apartemennya.
"Ck, males liat aja lo!" ucap Nayra.
"Kangen tau! Mana saudaranya susah di deketin!" kesal Nayra.
3 Tahun, sesuai perjanjian Felix, Ia lulus dari University Of Malbourne. Hanya dengan waktu singkat Felix selesai. Walau di ganggu oleh Nayra.
Felix dan Nayra sudah cukup dekat. Karna selain Nayra yang menganggu Felix setiap hari, Apartemen mereka pun berhadap-hadapan.
Saat ini mereka sedang memakai baju toga mereka. Arsen, Alby, Aldino, Frizy, Fito, Fardan, Fayyana, dan Vara datang beramai-ramai ke acara wisuda Felix.
"Zahra mana?" tanya Felix.
"Em.. Zahra.." jawaban Vara itu membuat Felix bingung.
"Zahra kemana? Gak mungkin gak datang kan? Fay aja datang." ucap Felix menatap Fayyana.
"Bahkan Aldino pun datang." ucap Felix.
"Zahra itu kak..." Vara seperti bingung ingin mengucapkan apa.
"FELIX!" teriak seseorang dari belakang Felix. Felix berbalik dan melihat seseorang yang sangat ia rindukan.
"LETDA ERVAN!" teriak Felix. Ervan pun menghampiri Felix dan memeluk Felix.
__ADS_1
"Lu kok bisa izin?" tanya Felix.
"Om Alby yang kasih surat izin. Jadi gua bisa keluar. Dan bay the way gua dapat gelar Letda itu 5 bulan lagi." ucap Ervan. Felix tersenyum dan kembali memeluk Ervan.
Arsen menghampiri Ervan dan memberikan hormat.
"Calon Letda Ervan Altezza." ucap Arsen dengan tegas.
"Kapten dan dokter militer Arseno Altezza." balas Ervan. Arsen dan Ervan saling berpelukan erat.
"Adik abang yang paling malas ngambil cuti." ucap Arsen.
"Maaf bang, masih pengen kerja keras buat jadi lulusan termuda Akmil dan jadi Letda muda." ucap Ervan. Arsen melepaskan pelukannya dan mengacak rambut Ervan.
"Lagian tiap sabtu minggu Ervan izin bermalam di rumah kok. Abang aja di batalyon terus." lanjut Ervan.
"Ervan." panggil seorang wanita dari belakang. Felix mengerutkan dahinya, apakah ia akan di ganggu lagi? Tapi kenapa dia kenal dengan Ervan?
"Nayra?" tanya Ervan. Wanita itu adalah Nayra. Nayra mengangguk. Ervan tersenyum senang lalu menghampiri Nayra.
"Kok gak pernah ngabarin?" tanya Nayra.
"Sibuk sama tugas militer." jawab Ervan.
"Gimana? Seneng ga ketemu Ervan lagi setelah 3 tahun?" tanya Felix. Nayra mengangguk senang.
Flashback On
Felix berjalan menuju ke kantin kampusnya. Ia berniat ingin sarapan karna dia belum sarapan dari tadi.
Felix berkeliling mencari makanan yang ingin ia makan. Saat berkeliling Felix melihat Nayra yang sedang senyum senyum tak jelas sambil menatap ponselnya. Felix berpikir, mungkin Nayra punya kekasih.
Felix pun menghampiri Nayra. Felix diam-diam menatap layar ponsel Nayra.
"Ervan!" kaget Felix. Nayra pun ikut kaget mendengar suara dari Felix.
"Kenapa?" tanya Nayra.
"Lu suka sama Ervan?" bukannta menjawab, Felix malah kembali bertanya.
"Jangan ngaco deh ya! Aku gak gangguin kamu karna ini detik-detik mau ujian." ucap Nayra. Felix duduk di samping Nayra.
"Yaelah, bilang aja. Ervan sepupu gua yang paling deket sama gua. Gua bisa bantuin lu buat deket sama dia." tawar Felix.
"Ck! paling pinter bujuk orang! Iya-iya gua suka sama Ervan dari masa kelas 10 SMA." jawab Nayra.
"Wih lama bestie." ucap Felix. "Ervan lagi pelatihan militer di akademi militer. Pertanyaan gua, lu siap gak buat jadi pendamping seumur hidup abdi negara?" tanya Felix.
"Aku tau resikonya dan aku pikir aku udah siap." jawab Nayra. Felix mengangguk saja.
Flashback Off
__ADS_1
Bersambung....
Haloo maaf author mau hiatus sejenak. Jadwal padat banget sampai gak bisa istirahat. banyak banget tugass😭