
"Permisi bu." ucap Felix sambil mengetok pintu. Saat di izinkan masuk, Felix dan Fardan pun masuk.
"Ada apa bu?" tanya Fardan to the poin.
"Ini, mereka kenapa kamu bawa ke ruang BK?" tanya Bu Ririn.
"Mereka nyiram adik kelas bu di kantin." jawab Felix.
"Adik kelas itu juga nyiram saya pake jus bu." adu ketua geng mereka.
"Mereka nyiram sepatu dia bu, tapi dia malah nyiram seluruh tubuh adik kelas sampai harus ganti seragam." ucap Fardan.
"Siapa korban mereka?" tanya Bu Ririn.
"Adik saya." jawab Felix. Bu Ririn pun mengangguk.
"Kalian ibu skors selama satu minggu. Dan ibu akan memanggil orang tua kalian bertiga menemui ibu, besok." ucap Bu Ririn.
"Tapi bu..." ingin menolaknya, tapi Felix langsung memotong perkataan ketua geng bernama Erine itu.
"Terima aja." ucap Felix.
"Kalian itu bukan menyiram orang biasa. Orang yang kalian siram itu Isvara." ucap bu Ririn.
"Makanya, kalau mau ganggu orang liat-liat." ucap Felix sinis.
"Kalau sudah selesai, boleh kami masuk kelas bu?" tanya Fardan.
"Silahkan." jawab Bu Ririn.
"Oh ya Felix, untuk masalah mereka bertiga jangan sampai ayah kamu tau ya." ucap Bu Ririn menangkupkan kedua tangannya.
"Tenang aja Bu, kalau Papa saya tau saya juga bakalan habis. Jadi kita sesama menyelamatkan nyawa aja." ucap Felix tersenyum.
"Kuy Far." ajak Felix kepada Fardan.
•••
Tok tok tok
"Permisi bu." ucap seorang siswa. Siswa itu menampakkan wajahnya di depan kelas itu. Sontak semua siswi berteriak kegirangan.
"Eh iya Ervan, ada apa ?" tanya guru itu.
"Izin panggil Vara bu." jawab Ervan. Guru itu mengangguk. Vara pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Ervan.
"Kenapa bang?" tanya Vara.
__ADS_1
"Tadi abang denger kamu di gangguin sama siswi kelas sebelas, Benar?" tanya Ervan. Vara mengangguk.
"Ada yang luka? Ada yang sakit?" tanya Ervan memutar-mutar tubuh Vara.
"Gak ada bang. Jangan bilang sama papa dan Mas Arsen ya." pinta Vara.
"Lain kali kamu harus hati-hati. Jangan melawan kakak kelas kamu oke?" ucap Ervan. Vara mengangguk.
"Kak Felix tadi tolongin Vara." ucap Vara.
"Bagus kalau Felix ada di sana. Lain kali jangan begitu lagi ya. Kalau dia buat kamu kesal jangan di lawan." nasihat Ervan.
"Kalau gak di lawan ntar dia ngelunjak bang." jawab Vara.
"Ya kamu boleh lawan dia, tapi jangan pakai kekerasan. Ntar kalau kamu kenapa-napa gimana?" tanya Ervan khawatir.
"Iya bang, lagian tadi yang numpahin jus ke sepatu kakak kelas itu Hazel." jawab Vara.
"Hazel? Ajak dia nemuin abang pulang sekolah." ucap Ervan.
"Mau diapain?" tanya Vara.
"Abang gak macam-macam kok janji." ucap Ervan meletakkan telapak tangannya di dadanya. Vara pun mengangguk.
"Yaudah masuk kelas sana." ucap Ervan.
"Okayy!" jawab Vara langsung berjalan memasuki kelas. Ervan pun berjalan menuju kelasnya.
Pulang sekolah....
"Vara!" panggil Ervan.
"Bang, gak pulang?" tanya Vara.
"Ayo pulang bareng. Felix tadi bilang ada urusan bentar sama F4. Jadi kamu pulang sama abang." jawab Ervan.
"Vara pulang sama Hazel aja ya. Sekali-kali gitu pulang sendiri." pinta Vara. Ervan menggeleng kuat.
"Big No! Abang mendingan nungguin kamu main dari pada kamu pulang sendiri. Abang masih sayang nyawa ya." jawab Ervan.
"Yang bakalan ngeroyok abang itu tiga orang. Tiga orang yang pasti itu Om Marvel, Bang Arsen dan Felix. Udah pasti mereka." ucap Alvaro lagi bergidik ngeri.
"Plis bang, aku mau pulang sama Hazel." pinta Vara lagi.
"Ajak aja temen kamu pulang sama kita." ucap Ervan.
"Emang abang bawa mobil? Tadi pagi kan abang bawa motornya kak Felix." ucap Vara.
__ADS_1
"Gampang, abang balikin motornya Felix abis itu kita pulang pakai mobil abang. Felix bawa mobil abang." ucap Ervan.
"Kamu Hazel kan? Jagain Vara di sini, aku mau cari Felix." pinta Ervan. Hazel mengangguk. Ervan pun berlari mencari Felix yang ntah berada dimana.
"Aku serius nanya, kakak kamu ada berapa? Kalau di hitung-hitung ada empat kah?" tanya Hazel. Ia sangat kepo, pasalnya dari tadi setiap orang yang menghampiri Vara pasti adalah saudaranya.
"Kakak laki-laki aku ada tiga. Kakak kandung aku itu kak Felix. Bang Ervan dan Mas Arsen itu kakak sepupu aku. Karna orang tua mereka meninggal dunia, akhirnya papa aku yang ngurus mereka berdua dari masih piyik banget." jelas Vara panjang lebar.
"Oh gitu, jadi kakak kandung kamu sebenarnya cuman satu." ucap Hazel. Vara mengangguk.
•••
"Lah, lu bawa mobil?" tanya Fardan.
"Enggak, tadi waktu gua pulang motor gua ilang. Kayaknya di bawa Ervan." jawab Felix.
"Sekarang gimana? Lu pakai mobil sendiri?" tanya Fito.
"FELIX!" panggil Ervan dari jauh.
"Nah tu dia." ucap Felix.
"Sorry, gua kira lu pulang ntar malem. Jadi selama seminggu gua pinjam motor lu." ucap Ervan.
"Its oke, bensinnya lu isi kan?" tanya Felix. Ervan mengangguk.
"Beli motor sana." ucap Felix lagi.
"Gak deh, selagi ada motor lu, gua gak beli motor." ucap Ervan memberikan kunci motor Felix kepada Felix dan Felix memberikan kunci mobil Ervan kepada Ervan.
"Bensinnya lu isi kan?" tanya Ervan menirukan Felix.
"Sialan! Gua baru pake sehari ya!" kesal Felix.
"Bercanda. Gua anterin Vara dulu." pamit Ervan.
"Emang lu mau kemana setelah nganterin Vara?" tanya Felix.
"Nyari cewe lah." jawab Ervan asal lalu pergi.
"Dih nyari cewe, pacaran aja belum pernah!" ucap Felix menaikkan nada bicaranya karna Ervan sudah cukup jauh.
"Ngaca Jamal! Lu juga belum pernah pacaran!" balas Ervan lalu menghilang.
"Pffftt.." Fardan, Fito dan Frizy berusaha mati-matian menahan tawanya.
"Ketawa lu bertiga." ancam Felix. Mereka bertiga pun menyudahi tawa mereka dan kembali seperti semula.
__ADS_1
•••Bersambung....
ayo ayo semangat bacanyaa😄😄