
Felix pun bekerja dengan nyaman. Ya, walau ia hanya manajer tim saja bukan kepala manajer. Tapi ini lebih dari cukup.
Felza grup ini termasuk cabang yang lumayan besar di area Altezza grup. Tak heran gedung Felza Grup terbilang cukup besar. Karna tergolong sukses inilah yang membuat Altezza grup mempercayakan semuanya kepada Direktur yang sekarang bertugas.
Direktur apaan gak masuk di hari kerja. Papa salah udah biarin perusahaan yang sudah sukses, seharusnya ini mendapat perhatian lebih. batin Felix.
Felix menggelengkan kepalanya lalu lanjut bekerja.
"Permisi pak, ini dokumen untuk proyek selanjutnya." ucap salah seorang karyawan. Felix mengangguk lalu mengambil berkas tersebut.
"Proyeknya tentang pameran? Bukannya ini cabang perusahaan bagian properti? Seharusnya kita buat proyek rumah atau properti lainnya." tanya Felix.
"Gak tau pak, manajer sebelumya yang menyetujui proyek ini." jawab karyawan itu. Felix menatap serius dokumen itu.
"Beri tahu saya, bagaimana sikap manajer sebelumnya. Apakah dia sok ngatur, atau kerjanya asal-asalan, bilang aja." ucap Felix.
"Jujur pak, emang kerjanya asal. Setiap dokumen yang masuk mau salah atau benar dia tanda tangani semua. Dan gak lama ini dia baru kena kasus korupsi. Dia baru aja di proses di pengadilan. Dia agak semena-mena juga." jawab karyawan.
"Ditektur dan wakil direkturnya, bagaimana sifat mereka?" tanya Felix.
"Wakil direktur genit, direkturnya juga tukang selingkuh. Bisa di bilang wakil direktur ini tuh selingkuhannya." jawabnya lagi. Felix hanya mengangguk saja.
"Oke, nanti saya cek lagi ya dokumen kamu." ucap Felix. Karyawan itu mengangguk lalu pergi.
"Wow, drama direktur sama wakil direkturnya keren." gumam Felix sambil melanjutkan pekerjaannya.
•••
"Hah, kalian pergi ke abu dhabi aja cari yang aman." ucap Alby.
"Tapi pa.." belum selesai Vara berkata, perkataannga sudah di potong Alby.
"Nurut Vara. Kakak kamu udah terpaksa Papa usir. Masalah ini biar papa, Arsen sama Ervan yang selesaikan. Kamu ikut sama Dino ke Abu dhabi. Selesai masalah ini, baru kamu bisa pulang. Bawa Kai juga." jelas Alby.
"Vara, dengerin kata papa. Papa pasti tau apa yang dia lakukan. Ayo kita ke abu dhabi." ajak Dino. Vara pun akhirnya mengangguk.
"Papa jaga diri ya, jangan sampai luka." ucap Vara. Alby memgangguk.
"Ini semua karna kak Felix sih! Ngapain bawa Arsha!" kesal Vara.
"Felix gak salah, Vara. Dia cuman menolong orang. Yang salah itu Istrinya dari Arkaiz itu. Karna tau kita dari keluarga Altezza dan suaminya benci keluarga Altezza, dia mengadu domba keluarga Altezza dan Wardana." jelas Alby.
__ADS_1
"Kalau semuanya udah selesai, kita bakalan bujuk Felix lagi kok. Cuman Felix yang bisa jadi Presdir Altezza grup." ucap Arsen.
"Iya, kita sama sekali gak ngerti bisnis, kita ngertinya senjata." lanjut Ervan.
"Kalian kan angkatan darat, seharusnya kalian bisa laporkan kejadian ini." ucap Vara.
"Gak bisa!" jawab Alby cepat.
"Pemerintah dan hukum tidak boleh kita libatkan di sini. Ervan dan Arsen sudah dapat cuti lumayan lama. Jadi kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat." ucap Alby.
•••
"Oh gini rasanya jadi Manajer biasa. Gak terlalu capek sih, capekan jadi Wakil Presdir. Keluar negri mulu. Untung gua lulus ujian akhir." ucap Felix
"Mari pulang!" senang Felix. Felix beranjak dari kursinya lalu menyapa karyawannya.
"Kalian gak pulang?" tanya Felix. Mereka semua menatap Felix.
"Sebentar lagi pak, ada kerjaan yang belum selesai." ucap salah satu dari mereka.
"Kami mau pulang juga pak." jawab sebagian dari mereka.
"Baik, jangan kerja terlalu keras gak baik buat kesehatan." peringat Felix. Mereka semua mengangguk.
"Hati hati pak!" jawab mereka. Felix mengangguk.
Felix berjalan menuju Lift ke parkiran bawah untuk mengambil motornya. Ia membuka dua kancing jasnya lalu menggulungnya hingga siku. Saat lift berhenti, ia pun berjalan sambil menggulung lengan jasnya itu, membuat orang orang yang lewat terkesima dengan Felix yang tinggi dan tampan saat menggulung lengan jasnya itu. Bahkan saat pulang Kantor ini pun wajah Felix masih berseri tidak kusam. Mungkin karna kulitnya yang putih.
Felix pun sampai ke parkiran dan menaiki motornya lalu memasang helm full facenya.
"Pak mau pulang?" tanya salah satu karyawan yang melihat Felix. Felix menoleh ke belakang dan membuka helm full facenya.
"Iya, kamu mau pulang juga?" tanya Felix basa basi.
"Iya pak, btw bapak anak orang kaya ya? Tapi kok ke Australia karna beasiswa?" tanya karyawan itu to the poin.
"Kamu tau dari mana saya anak orang kaya?" tanya Felix.
"Motor bapak merk duca**." ucap Karyawan itu. Felix pun melihat motornya.
Lah emang kenapa? motor gua murah kok cuman 600 juta. batin Felix.
__ADS_1
"Harga motor bapak lebih mahal dari mobil saya." ucap karyawan itu.
"Oh ini, saya beli dari menabung dan kerja keras." jawab Felix jujur.
"Masa? Kenapa bapak lebih milih motor dari pada mobil?" tanya Karyawan itu.
"Kebetulan saya sukanya motor." jawab Felix tak terlalu jujur. Ia sebenarnya juga suka mobil dan motor.
Gua suka keduanya. Tapi mobil gua di tahan, ya gua tepaksa bawa motor. batin Felix.
"Kalau gitu saya pulang dulu ya." ucap Felix kembali memakai helm full facenya dan menghidupkan motornya. Ia pun mengklakson karyawan itu terlebih dahulu baru pergi.
"Dia anak orang kaya ga sih? Gak mungkin kalau anak menengah gitu bisa beli motor merk itu." gumam Karyawan itu.
•••
"Seharusnya gua bawa motor yang lebih murah lagi. Kan ga bakalan di tanya." gumam Felix. Felix berhenti di salah satu makanan pinggiran untuk membeli makan malam.
"Akhirnya gua merasakan makanan pinggir jalan lagi setelah 5 tahun." ucap Felix.
"Beli apa ya?" tanya Felix bingung.
"Uh ada Seblak. Makanan apa itu? Makanan khas bandung kah? Belum pernah makan sih, ayo kita beli." ucap Felix.
"Pak, seblaknya satu di bungkus ya." ucap Felix.
"Mau yang pedas apa gak kang? topingnya apa?" tanya penjualnya.
"Pedes pak, campur semua aja topingnya." ucap Felix. Bapak penjual itu mengangguk.
"Tunggu sebentar yah" ucap bapak itu. Felix mengangguk. Felix duduk menunggu pesanannya selesai.
Tak lama, pesanannya pun siap.
"Berapa pak?" tanya Felix.
"25 ribu aja." jawab bapak itu. Felix mengeluarkan uang berwarna biru.
"Kembaliannya ambil aja pak." ucap Felix.
"Makasih ya nak." jawab bapak itu. Felix mengangguk.
__ADS_1
"Gua penasaran seblak itu apa." gumam Felix sambil menenteng palstik seblak itu dan naik ke motornya. Ia pun menghidupkan motornya dan menjalankan motornya menuju rumah.
•••Bersambung....