
kepingan demi keping masa lalu membuat dada umi nafik sesak. kini dia tau rasa sakitnya orang tuanya dulu yang selalu memberontak dengan keadaan. kebebasan yang ingin dia dapatkan harus mengorbankan perasaan orang tua. tapi sebagai wanita muslimah umi nafik tau pilihannya dulu dan yang di pilih putra putrinya semua demi kebaikan dan pengembangan mental untuk sang putra dan putri di masa depan. dan semua demi kebaikan.
keinginan kesedihan tinggallah perasaan yang membelenggu hati kita sendiri. bisa tidak kita menjaga perasaan ini agar tidak menjadi penyakit . rasa marah kesal bila di Biarkan saja hanya akan menjadi penyakit yang akan menggerogoti tubuh manusia.
malam ini umi nafik mencurahkan segala rasa sakit dan maranya pada ROBnya. dia berharap semua bisa berubah menjadi sebuah keikhlasan. mengadukan semua kegelisahan dan kemarahan yang bersumber dari diri sendiri. berharap semua bisa berubah menjadi rasa lega dan tenang agar bisa melanjutkan perjuangan mendidik generasi satri untuk seterusnya.
airmata tiada hentinya luluh membasahi pipi. penyesalan kini penuh memenuhi sanubari dan kini dia berharap rasa yang membelenggu ini bisa segera hilang berganti menjadi rasa ikhlas dan ketenangan. haya kapada kekasih sejatinya lah umi nafik bisa mencurahkan segalanya tanpa tanpa takut tanpa sungkan dan tanpa rasa malu.
di setiap sujutnya selalu terucap untaian doa untuk semuanya. tapi kali ini ada yang lain karena doa umi nafik berharap dapat ketenangan jiwa raga dan di bebaskan dari rasa bersalah marah yang membelenggu nya.
"YA ALLAH.... YA ROBBI.... ENKAULAH YANG MAHA TAU PERASAAN INI . HAMBA MOHON HILANGKAN RASA SAKIT DAN KECEWA JUGA MARAH YANG KINI PENUH MEMBELENGGU HATI BISA HILANG. .... HAMBA SUDAH IKLAS DENGAN SEMUA COBAAN YANG ENGKAU BERIKAN. .... HAMBA SUDAH RIDHO DENGAN SEMUA YANG ENGAKAU BERIKAN .... HAMBA INGIN MENJADI IBU YANG BAIK YANG BISA ADIL DENGAN SEMUA PUTRA PUTRI NYA... TIDAK MENYAKITI HATI DAN FISIK MEREKA.... BISA MEMDIDIK MEREKA DENGAN SEPENUH JIWA.... MENCURAHKAN SEGALANYA UNTUK KEBAIKAN KELUARGA. AKU HANYA INGIN BISA MELIHAT MEREKA TUMBUH MENJADI ORANG ORANG YANG SHOLEH SAN SHOLEKHAH .... BERGUNA BAGI ORANG LAIN.... AMIIIII..... "
sang suami terbangun karena tidak mendapati sang istri di sisinya. suara isakan tangis terdengar dari samping tempat tidur. abi alwi yang sadar segera pergi ke kamar mandi untuk bersuci dan juga mendirikan sholat malam. beliau membiarkan saja isakan tangis itu semakin lama karena itu bisa mengobati luka umi nafik sendiri. Saat ini biarkanlah sang zaujah mengadu dan mencurahkan isi hatinya pada kekasih haqiqiNYA ALLAH AZZA WAJALLA.
kini abi berdiri di sisi umi naf mendirikan sholat tahajut juga. Biasanya mereka berdua berjamaah tapi kali ini sang zaujah sudah mulai dulu tanpa membangun sang zaujie. semua karena kalut perasaan nya.
"mimi....." pangil bibi al
__ADS_1
"iya bi....." jawab mimi naf sambil membalas tatap an dari sang suami yang sudah 20 tahun hidup bersama.
"umi yahkin ingin Zidane pulang. ...?" tanya abi dengan hati hati berharap sang zaujah tidak tersakiti.
"paling tidak, saat libur bisa berkumpul bersama bi.... mimi ingin minta maaf pada nya... karena tidak bisa adil menyayangi zidane" harap mimi bisa memiliki momen bersama sebelim faz pergi lagi untuk kuliah je luar negeri.
"ya sudah nanti abi akan sempetkan jemput zidan ke demak.... atau telepon saja dek ibra biar mengantar zidane" ucap abi bijak dengan mengusap kepala sang istri.
"jangan bi... zidan tidak mudah di bujuk seperti faz dia terlalu kaku dan keras kepala tidak akan mudah membujuk zisane kalau tidak kehendaknya sendiri" umi mengingat kan semua difat zidane semua keras dan kaku tidak seperti faz atau pun syam.
"ajak faz... zidane paling nurut sama kakak nya" pinta mimi naf.
"iya. . umi yang tenang ya jangan banyak pikiran" mohon abi sambil merangkul mimi naf.
"syukron bib....." panggilan sayang itu muncul lagi.
"afwan... sudah lama umi tidak pangil habib.... jadi kangen" alwi senang bisa di pangil habib lagi.
__ADS_1
"hai habibinya nafik. ...." mimi naf malah menggoda.
"hello.... bidadari nya alwi....." jawab bibi alwi
keduanya tersenyum saling menatap. bahagia bisa saling menjaga saling memiliki. kini setelah mengadu sudah sedikit merasa tenang tidak ada kemarahan lagi.
kini rasa sakit itu sudah sedikit terobati setelah faz kembali. kembali ke pelukan bibi dan miminya. faz tau tidak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya. mau seadil apa pun sebagai anak yang memiliki ego masing masing pasti merasa orang tua kita tidak adil. tapi perasaan bila tidak terungkap memang akan menjadi belenggu yang menyakitkan.
.
.
.
.
..
__ADS_1