
Alek tidak mau beranjak dari sisi zora sekalipun. dia sangat menyesal sudah menempatkan zora dalam keadaan yang begitu memperhatikan. rasa sesal yang begitu mendalam karena melibatkan zora dalam masalah.
kini gadis manis itu hanya tertidur lemah dengan luka tembak di punggungnya. melihat zora tak sadar Alex tak henti henti menyesali diri dan berkali kali meminta maaf pada abi dan umi.
"abi... maaf alex tidak bisa menjaga zora" alex menunduk lesu duduk di atas sebuah kursi roda dan menatap zora yang engan. bangun dari tidurnya.
" tenang lah nak... dia sudah melewati masa krisis nya.... ber doalah agar dia cepet pulih" hibur abi al mengelus punggung alex penuh iba.
"andai alex... membiaekam zora naik taxi... tentu hal ini tidak akan terjadi bi..." tangis dan penyesalan memenuhi semua perasaan alex.
"tenangkan dirimu.... jadikan semua ini sebagai pelajar ran untuk ke depannya" abi al berusaha untuk memberikan nasihat agar alex merasa tenang.
"umi.... pasti tidak akan memaafkan alex bi...." tapi dia tetap mercau tidak jelas meminta maaf berkali kali sampai dia sendiri tidak perduli dengan keadaannya.
"umi.... Wanita yang kuat... sudah banyak aral rintangan yang dia lalui.... semua akan baik baik saja.... kamu juga harus jaga kondisimu nak...." abi al menenangkan menatap sang istri yang terlihat tegar duduk di seberang Alek di sisi lain bangkrut zora.
"alex.... kamu juga terluka istirahatlah. ....!!!" bujuk umi naf menenangkan alex. menatap pemuda itu penuh iba dan rasa kadian.
"Maafkan alex mi....tidak bisa menjaga zora dengan baik...." alex menghapus air mata nya. entah kenapa dia jadi sangat perasan. faz yang duduk di sofa sedari tadi cuma memandang penuh iba sambil berfikir. berfikir siapa yang sudah membuat sang adik celaka.
"umi memaafkan mu....nak... ini bukan.100% kesalahan mu... ini yang di sebut takdir.... apa kau tidak melihat demi dirimu putri ku mengorbankan dirinya. ... ini lah yang di sebut takdir.... pertemuan dengan abi juga takdir...." urai umi naf menatap alex lembut. tidak ada kemarahan kekesalan. cuma ada rasa kasihan dan penyesalan
"terima kasih umi....." alex sedikit merasa lega. tidak ada kemarahan bahkan dari faz dan zidn. Mereka benar benar keluarga yang baik. marah wajar kecewa menyesal tapi melihat keadaan ke duanya malah membuat miris.
"pergilah ke kamarmu!!!.... faz atar alex...." perintah abi al. Alex sudah terlalu lama menunggui zora yang tak kunjung datang.
"iya....." alex setuju kembali ke kamar rawat nya sendiri.
"ayo lex..... " ajak faz dan bergegas berdiri dari duduk dan akan memutar kursi roda.
saat kursi roda alex mulai di dorong faz sabuah tarikan kuat menahan tangan alex dan terasa berat alex berpaling dan ternyata tangan zora yang mengengam erat pergelangan tangan alex
"tunggu faz....." pinta alex. melihat tangan kecil zira menarik pergelangan tangan nya.
"ada apa?" faz berhenti. menoleh kearah tangan Alex. Dia hanya bisa tersenyum lega sekarang.
"zora....." panggil alex menunjukkan.
"bibi...mimi.... zora sadar" Panggil fazha.
__ADS_1
"mimi..... bibi..... zora di mana....?" zora mulai sadar dan mencari bibi dan mimi yang pindah duduk di sofa untuk beristirahat.
"alhamdulillah kamu sudah sadar nak....." bibi dan mimi segera mendekat. faz menekan pemangil dokter.
"ini rumah sakit nak....." jawab mimi tenang melihat sang putri siuman.
"aak.... alex mana.....?" zora menanyakan Alex. sebegitu peduli kah diri nya.
"dia di sini nak....." mimi menunjuk
"aku di sini.... zora. ....." jawab Alex lega melihat gadis yang sudah merelakan diri untuk menggantikan nya tertikam peluru panas sudah sadar .
"aak... tak apa apakan.....?" tanya zora lemah dan khawatir.
"jagan hawitir... dia baik baik saja...." faz menjelaskan.
"aku tidak apa apa terima kasih kamu sudah menolong ku...." ucap alex penuh rasa syukur sudah di dekat kan degan gadis sebaik zora.
"sama... sama... mimi... sakit" jawab zora lalu mengeluh pada sang mimi tercinta.
"sabar ya nak. ..." mimi mendarat kanciuman di pipi sang putri.
"sebentar lagi dokter datang" ucap bibi penuh harap.
kondisi alex baik tak ada luka yang serius cuma memar dan luka kecil. tapi pukulan dan tendangan dikhawatirkan mengangu sakit jantung nya.
"dia sudah baik-baik saja.... pikir kan dirimu sendiri ! dia sudah banyak menjaga kau juga butuh istirahat" bujuk faz.
"pergilah aak...." pinta zora.
"baik lah..... ayo gus.... kita kembali" alex setuju setelah melihat zora sadar dia sedikit tenang.
"oke... tuan muda" faz menyauti.
fazha mendorong alex kembali ke kamarnya yang hanya bersebelahan dengan kamar zora. dia juga perlu pemulihan diri.
di sisi tempat lain.....
Seorang pria sedang kena marah pukulan dan caci makian dari sang bos. semua karena kegagalan tugas yang dia lakukan. gagal menghabisi alex yang hanya dengan tangan kosong berhasil membuat mereka babak belur penuh lebam dan luka
__ADS_1
bruukk....
plaaak....
"dasar bodoh idiot.... cuma dengan anak kecil saja kalian gagal..... tidak berguna" maki kasar tuan alvaro.
"maaf bos...." ucap sang anak buah menunduk penuh rasa bersalah.
"apa saja yang kalian lakuka..... kenapa kalah dengan anak lemah seperti alex" tanya pria arogan penuh amarah itu.
"dia sudah semakin kuat bos...." ujar yang lebih muda.
"semakin kuat.... apa kalian tidak bisa membereskan 1 anak kecil saja...." maki pria itu emosi pria temperamen.
"maaf... bos...." sang anak buah mulai pasrah dengan perlakuan yang di dapat.
"maaf... maaf.... tiada maaf bagi mu....." tamparan pukulan di layang kan pada anak buahnya.
"pa.... Kalau alex kini berani melawan bukan kah ada yang melindungi?" ucap reza.
"kamu benar reza....ada yang melindungi anak tak berguna itu. ....." sang ayah sudah mulai berfikir tidak penuh emosi.
"kalian selidiki siapa yang sudah menjadi pelindung alex. ... dan cari tau gadis yang bersama alexn dan terluka itu" perintah tuan alvaro sesukanya.
"baik bos......" anak buah siap pergi menjalankan tugas.
"reza.... kamu juga cari info dari sekolah. .. cari info mengenai orang orang yang kemungkinan membantu alex" ganti sang putra dapat perintah
"siap pa....." reza sama kasar nya dengan tuan alvaro sang ayah.
kemarahan alvaro sudah tidak bisa di prediksi lagi. pria pendendam itu tidak mau berhenti dan melepaskan. dia terlalu takut jika suatu hari alex akan menuntut balas dan mereka mengambil semuanya kembali.
&
&
&
&
__ADS_1
&
&