
faz masih menemani papa amar. mereka berjalan menyusuri stadion. dan makin asik ngobrol dan mengakrapkan diri.
memang dari kecil amar meminta faz untuk memangil papa. cuma khusus untuk faz saja dan adik adik faz memangil nya omar. faz mau memanggil papa setelah tau alasan kalau dia dan kanzha sudah berjodoh sedari kecil.
faz yang memang sedari kecil dekat dengan kanzha dan rio sebagai teman bermain. tapi setelah lama mereka saling lupa apalagi kalau bukan karena faz yang menyembunyikan diri.
kini keduanya sedang duduk di bangku tribun. melihat kesibukan orang orang yang bekerja di tempat itu. dan mereka asik ngobrol tanpa gangguan.
"apa bibimu tau kalau kaulah tanzala raice?" tanya amar penasaran sekali dengan sepak terjang faz.
"tau pa... apa ada yang bisa di sembunyikan dari mimi.... kalaupun faz minta mimi agar tidak bilang ke bibi sebagai istri yang taat dan patuh mimi tidak akan menutupi segala nya dari bibi" cerita faz dia hafal sejali dengan karakter sang mimi.
"bibi tak marah....?" tanya papa amar penasaran menatap faz yang terlihat santai.
"marah. .. tapi maraknya bibi tak semenyeramkan mimi" ceketuk faz mengundang tawa papa amar.
"ha..ha..ha.. dasar anak badung" canda papa amar sambil tertawa puas.
"faz... sudah innsaf... pa...." faz tidak mau lagi di bilang anak Badung. dia ingin berubah.
"ha...ha...ha... kenapa tiba tiba kamu mau insaf?" tanya papa amar masih dengan canda tawanya yang renyah.
"karena kanzha...." jawab faz serius.
"karena kanzh... bagaimana bisa. saat tadi kamu bilang bahkan dia lupa pada mu?" papa amar kaget tapi melihat wajah serius faz dia mulai penasaran.
__ADS_1
"faz.... ingin serius demi kanzha.... kalau di kudus faz mau Badung tak akan di sebut putra siapa? tapi kalau di sini kasihan bibi dan mimi.... Mereka sudah bekerja keras untuk mendirikan pesantren itu dengan jerih payah mereka" urai faz menerangkan alasan dengan pemikiran yang sangat dewasa.
"dan pengorbanan mu tentunya?" papa amar mengingatkan apa yang pernah faz lakukan.
"pengorbanan faz murni untuk mimi. .. agar senyumnya tidak hilang. .." jawab faz mulai sendu dan masiqul. perasaan aneh yang menghujani hatinya dengan bara panas.
"anak bijak" puji papa amar bangan.
"tapi faz tidak bisa mencegah zidane pergi dan kini mimi terluka" faz mengingat sang adik kembar yang kini ada di demak di pesantren ammun ibra.
"zidane tidak seperti dirimu faz... mungkin karena dia kasihan dan merasa bersalah dengan mu?" urai papa amar menghibur agar faz tidak larut dalam kesedihan.
"mungkin papa benar" faz membenarkan.
" dan kita kembali ke kanzha. ... benar kamu tidak ada pacar kan tanzala rauce?" papa amar cari tau dan penasaran.
"saya tidak mau kamu memberikan harapan palsu pada putri saya. .. lalu tiba tiba muncul entah pacar kamu, fans kamu atau apa lagi.... dan menyakiti putri saya secara fisik atau pun batin saya tidak akan rela" kata papa amar menunjukkan kekhawatiran nya.
"jujur pa. .. tidak ada yang seperti papa amar tuduhkan... adapun kalau misal ada yang menyakiti kanzha. .. saya duluan yang akan menjaga nya" jawab faz setius dan penuh rasa optimis.
"kamu janji..." pinta papa amar
"insyaalloh. ... pa" jawab fsz tidak ada keraguan.
"papa pegang omongan mu fazha tanzala" papa juga serius meyakini omongan faz yang tidak ragu sedikitpun.
__ADS_1
"iya... pa.. hanya kanzha yang ada di hati faz" jujur faz yang mulai memerah pipinya.
"anak pintar" ucap papa amar memuji sambil memegang bahu amar dengan penuh kebanggaan.
"ah... ngomong ngomong kanzha sudah tau kalau kamu pembalap?" selidik papa amar penasaran.
"sepertinya belom" jujur faz
"kalau dia tau gusnya ternyata Badung apa penilaian nya?" tanya papa amar sambil bercanda.
"ku harap putri papa tidak memutuskan perjodohan ini" harap faz pada hubungan nya dengan faz.
"kamu takut..." canda papa.
" sedikit. .. khawatir. .. tapi sedikit" faz juga merasa takut.
"ha..ha..a.. faz... faz..."
mereka mengobrol akarab. dion saja tidak menyangka kalau pak amar akan tau nama asli dari tanza raica.
.
.
.
__ADS_1
.