
Di sebuah sirkit arena pelatihan. ...
sedari tadi faz tidak konsentrasi sama sekali. rasa ingin marah mengamuk karena kesal pada time menejemen nya yang seenaknya saja memperpanjang kontrak tanpa sepengetahuannya. Para promotor pihak luar biasa tidak banyak menjamin keputusan pribadi. Mereka selalu mengintrofensi para atlet seperti Fazha hingga tidak memiliki keinginan sendiri kecuali demi sponsor. seharusnya dia pensiun 2 tahun lalu dan berniat kembali. tapi performa sedang bagus dan pamor Fazha sedan naik. jadi demi tim nya Fazha menunda pensiunnya dan masih mengeluti hobinya.
kecelakaan cidera sudah tidak terhitung lagi jumlah nya berapa kali. bekas luka cidera. operasi patah tulang sudah pernah dia alami. semua demi orang orang yang mendukung dan hidup bekerja dari laga yang di lakukan fazha.
tapi kini kebosanan sudah datang. rasa lelah dan suntuk. ingin segera menghentikan semua nya dan segera kembali bersama dengan keluarga nya. Di sudah rindu ingin berkumpul bersama. sudah betapa kali niat nya untuk kembali mesti di undur karena prosesnya yang begitu rumit. beberapa kali sudah fazha sabar dengan semua nya itu. tapi hal seperti itu terulang lagi dan lagi dan kali ini sudah membuat fazha kehilangan kesabarannya dan berubah menjadi kemarahan. kenapa mesti terulang lagi mereka mereka mengambil keputusan demi time tanpa memikirkan keinginan fazha.
kemarahan susah tidak bisa di beduang. kini muncul lagi sifat temperamen yang sudah lama hilang. semuanya. tidak menyangka kalau tanzhala raice bisa semarah itu. hampir semua ungkapan kasar dan memukul beberapa orang dia lakukan untuk meredam kekesalan yang sudah memuncak.
"kenapa kalian tega?" tanya faz sambil teriak kuat di depan para kru nya yang setia membatu selama ini.
"kamu biasanya tidak pernah koplen kan?" dion mengingatkan. Dia tidak mau dipersalahkan dalam masalah perpanjangan kontrak ini.
"tapi aku sudah beberapa kali bilang jangan terikat dengan sponsor.... apa selama ini kurang yang ku hasilkan untuk kalian. ... Hingga kalian memeras tenaga dan pikiranku dengan lebih kuat lagi. ..." fazha meluap kan emosi yang sekian lama terpendam dan kini semua meledak penuh kemaraha.
"......" semua bungkam tidak ada yang berani menatap ke arah faz. melihat tatapan tajam menohok wajah memerah penuh emosi tidak ada yang tau kalau faz akan sebegitu emosi dan marah.
"kenapa kalian diam.....?" tanya faz menghardik ke arah semua. lalu menatap tajam ke arah dion sang menejer yang selama ini setia mendampingi.
"maaf.... tanzha....." dion masih memakai panggilan resmi. karena dia merasa ini masalah berhubungan dengan urusan pekerjaan.
"aku hanya ingin pulang. ... itu saja. .. apa itu sulit" ungkapan faz membuat dion tertohok kaget. sudah beberapa kali faz mengutarakan keinginan tapi dia kira hanya main main saja.
"tapi kalau kamu mengingkari kontrak. .. Maka dendanya besar tanzha" dion menjelaskan konsekuensi yang harus di tanggung mereka kalau faz tiba tiba berhenti.
"kalian yang memerasku.... kalian yang bertanggung jawab" demi menahan emosinya faz beranjak dari tempat itu dan ingin pergi menenangkan diri dulu.
"tanzha.... ayolah.... jangan begini ..." bujuk dion mengikuti langkah pelan faz.
"...." faz tidak mau merespon sama sekali.
"tanzha..... semua yang kau nikmati ini.... semua hasil kerjaku. ..." dion membanggakan diri menunjukkan semua hasil dari pekerjaan yang sesuai dengan keinginan faz.
jeduukk.....
Sebuah pukulan di layang kan faz pada Dion. ya selama ini pria itu selalu menjadi orang yang mengerti faz . tapi beberapa tahun ini dia sudah bertindak sendiri tanpa sepengetahuan dari faz.
__ADS_1
"masih kurang dion.....?" tanya faz mengerling marah.
"fazha...." dion baru sadar kalau semua ini murni karena urusan pribadi faz. dion selalu memanggil dengan 2 nama di saat urusan kerja dan pribadi.
"kau sudah di perbudak dengan popularitas dion.... hingga lupa apa yang terpenting dari semua yang kita lakukan selama ini....." hedik faz membuat dion kalang kabut .
jeduuuk.....
"kalau aku hanya ingin menikmati semua sendiri.... kalian semua sudah aku singkirkan satu persatu ....." urai faz mulai mereda emosinya dia masih menahan diri ini hanya untuk memberi pelajaran pada dion agar memikirkan fazha juga.
jeduuk.....
"kalau aku tidak percaya dan sudah menganggap kalian saudara. ... keluarga ku..... aku tidak akan sanggup sampai di sini.... aku tidak lupa dion.... tidak lupa" fazha mengingat kan semua yang dia korbankan. keluarganya, jati diri nya dan cinta nya kanzha.
"maaf... fazha. ..." dion begitu menyesal sekian tahun bersama faz kali ini lah kemarahan yang sangat besar dia lihat. dan urusannya sangat serius urusan prinsip.
"ah.... sudah lah. ...aku mau pergi. jangan ikuti aku. ... urus semuanya" faz pergi setelah menganiaya dion dengan puas. sebenarnya tidak ingin melakukan itu. tapi cara bicara dion sudah menyakiti faz benar benar sakit.
semua tertegun melihat kemarahan faz. pemuda lembut itu kini berubah garang dan penuh dengan emosi. tidak ada yang berani melerai saat mereka tau faz bisa bela diri.
dion baru kali ini merasakan pukulan yang begitu kuat dari faz. Hingga darah segar mengalir dari ujung bibir nya. dion merasa bersalah. ini memang salahnya tapi dion sendiri tidak tau kalau dia sendiri juga sudah di jebak dan dipermainkan oleh reza.
dengan mobil spotrnya faz pergi ke kampus. Untuk mengurus kuliah yang terbengkalai karena kesibukan latihan, syuting, promo ini dan itu.
plaaak....
Sebuah tepukan di bahu mengagetkan faz yang duduk melamun di kursi taman kampus.
"hei..... assalamualaikum" sapa seorang pemuda sahabat faz di Italia.
"make.... waalaikum salam" faz menatap nanar peda pemuda itu. teman kuliah dan pernah jadi teman sekamar sebelum faz pindah ke apartemen khusus.
"melamun saja. .... tumben kamu ngampus.? tidak ada kegiatan?" maikel duduk di seberang faz menaruh buku buku nya di meja.
"aku kabur. ...." saut faz santai.
"kabur....? dion tidak ngamuk?" selidik make sedikit kaget.
__ADS_1
"biar saja. .... Dia mencak mencak. ... aku tidak perduli" jawab faz aneh.
"ada apa?" make tau kalau sahabatnya sudah begini begitu ada masalah.
faz menceritakan semua. perihal kemarahan yang dia lakukan pada dion dan tim semua . sebab juga dia harus tinggal lebih lama di Italia.
"aku aku bantu menyelidiki siapa pemilik perusahaan yang memberi sponsor itu" tawar make serius.
"sebelumnya Terima kasih bos" canda faz.
"jangan sungkan seperti itu" make tidak bisa menimpali canda faz terlalu kaku.
"aaah.... bicara dengan seseorang membuat sedikit tenang" faz menarik napas lega.
"lalu kenapa keburu untuk pulang,? atau ini demi kekasih yang kamu tinggal kan?" selidik make penasaran.
"ya.... aku sudah terlalu lama pergi aku takut dia di ambil orang" jujur faz merindukan kekasihnya.
"ha.... ha.... ha....."
"kamu jangan khawatir. ... banyak gadis yang akan mengantri untuk jadi kekasih mu" ledek make .
"aku tidak butuh..... cuma dia yang di hati dan pikiran ku" faz tidak berubah perihal kanzha.
"kok bisa kamu tidak tergoda faz ....." make penasaran.
"tergantung kita" jawan faz santai.
maikel putra handoko putra tuan handoko. tak sengaja kenal di Italia selama masa kuliah s2 faz. pemuda dingin dan kaku. tapi bisa di dekati faz karena memiliki pemikiran yang sama karena prinsip yang mereka miliki. .
.
.
.
.
__ADS_1
.
..