
fazha menemui kanzha saat perpisahan kelulusanya di mushola sekolah. pemuda itu ingin berpamitan secara pribadi karena besok dia akan pergi mengejar mimpi yang lain selain kanzha. Kalau harus menikahi gadis pujaanya sekarang jujur faz belum siap. Dia akan menganggap keinginan itu hanyalah nafsu saja lagi pula mereka belum dewasa dalam arti yang sebenarnya. pikiran yang masih kekanak kanakan dan nafsu karena cinta yang sesat. walau mulut mengatakan cinta karena Allah tapi kenyataannya mereka belum bisa mendiskripsikan rasa itu secara benar. apa lagi kata kata kalian di jodoh kan dari kecil seakan akan memaksa mereka untuk saling menerima. semoga saja saat mereka terpisah rasa itu tidak akan hilang sama sekali.
"selamat aak atas kelulusanya" ucap kanzha dengan berusaha dengan kuat untuk menahan kegugupan karena saat ada dekat dengan faz jantung kanzha seakan terpacu lebih cepat.
"terima kasih zha.... kamu juga harus semangat di 1 tahun terakhir mu....." balas faz dengan seuntai senyum indah.
"iya. ... aak.... oh... ya aak faz jadi meneruskan kemana?" kanzha terus bertanya. dalam hatinya sia sendiri belum rela jika faz harus pergi.
"turki..... berangkat 2 hari lagi" jawab faaz tegas dengan menatap mantap ke depan menyahkinkan hati untuk tidak tergoyahkan.
"lusa.... cepat sekali" kanzha mendesis. haruskan mereka benar benar harus terpisah seperti ini. saling percaya dan saling menunggu satu sama lain dalam niat setia tidak mendua.
"aak sengaja liburan di sana sekalian. menyesuaikan diri dengan kondisi timur tengah" alasan faz mempercepat kepergian kuliah nya. semua untuk menyelidiki tentang kematian orang tua alex yang ada kabar mereka masih hidup.
"semoga aak sukses ya... segera kembali!" harapan kanzha gadis itu menahan sesak di dadanya. bukan karena apa, tapi kanzha benar benar merasa kehilangan.
"demi.... apa?" tanya faz memancing perasaan kanzha dengan menatap gadis itu dengan lembut.
"demi kanzha....." beo kanzha sangat jujur. Setelah selama ini keluarganya menjelaskan tentang perjodohan mereka kanzha sudah memantapkan diri pada pilihan mereka. selama itu juga kanzha berusaha menjaga perasaannya.
"yakin .... Selama aak pergi tidak akan ada orang lain yang akan mengisi hatimu?" tanya faz menuntut kesetiaan dari kanzha. apakah gadis itu akan mampu menjaga dirinya selama faz pergi.
"kanzha akan menjaga hati ini cuma untuk aak faz seorang" janji kanzha yakin karang mana fazha sudah terpatri.
"janji.... ya!... aak faz juga akan selalu menjaga hati ini untuk kamu zha" fazha menguraikan semus demi menenangkan kanzha dengan sepenuh hati.
"kanzha akan sangat merindukan aak.... kita baru sebentar saling mengenal tapi aak faz sudah mau pergi lagi. ...." ada bulir sediaan di pipi gadis manis itu penuh harap.
"kamu gadis yang baik, gadis pintar zha jangan terlalu terlarut dengan perasaan. kembalikan semuanya kepada Allah tidak ada daya dan upaya selain kita haturkan. pada Allah SWT....banyak banyak lah sholawat haturkan untuk Beliau Baginda Nabi Besar Muhammad SAW maka kita akan terhindar dari rasa sakit, rasa hawatir dan rasa bimbang.... dan rasa rindu yang terpendam itu akan indah pada saat nya" faz menerangkan agar kanzha Tidak terpaku dengan rasa yang semu cinta yang sesaat. di ambilnya dari saku celananya, sebuah saputangan dan di sodorkan pada kanzha.
"kanzha merasa sangat malu mengatakan semuanya. .. rasanya sangat bodoh pemikiran sempit kanzha" kanzha berusaha tenang tidak terlarut dan menerima saputangan dari faz.
"maka dari itu kita masih perlu banyak belajar. .. dan aak juga perlu belajar untuk bisa bertanggung jawab kelak.... dan maaf aak masih banyak mimpi yang ingin aak rangkai sendiri. ... maaf aak memilih egois zha....." fazha miris mengatakan semuanya.
"tidak apa aak.... mumpung langkah kakimu masih panjang dan. belum banyak beban... kanzha tidak ingin menjadi beban mu... jadi mantaplah kita akan di satukan Allah kelak... apa pun rintangan nya dan apapun coba annya" kanzha menumpuk harapan mereka bersama setelah tenang.
"aamiin...."
di sisi lain seseorang sedang menatap marah. dia berencana akan memisahkan mereka dengan cara apapun. tidak boleh ada yang menghalangi keinginan itu.
" segeralah pergi biar. Wanita mu menjadi milikku. ..." harap reza yang menguning. semuanya.
__ADS_1
"kamu yakin akan merebut kazha....?" tanya soni serius.
"kita lihat saja nanti. .. kanzha akan menjadi milik siapa?" reza sangat percaya diri dengan memasang senyum miring.
"aku akan membantumu.....!" janji soni.
"harus itu. ... kamu sudah tau di mana alex....?" tanya reza pasa sahabatnya itu. Setelah kepergian alex mareka. berdua semakin akrab.
"belum..... Setelah insiden penembakan itu alex menghilang seperti di telan bumi" soni menjawab ragu.
"lalu tentang gadis yang terkena tembak?" selidik reza juga.
"dia juga belum jelas siapa. ... Beberapa rumah sakit di periksa tidak ketemu. .. dalam 6 bulan ini semua hasil kerja kita sia sia?" soni benar gagal menjalankan tugas saat ini.
"kita akan menginterogasi Rio dengan paksa. ..." rencana reza dengan kekeh.
"baik lah... segera laksanakan" soni setuju.
sedang alex di Jepara berusaha menghubungi zora melalui jaringan telepon. pemuda itu juga akan berpamitan untuk pergi ke london.
"assalamualaikum. .. ning zora" salam alex
"waalaiku salam..... aak alex...." jawab zora kaget pertama kali menerima telepon dari alex setelah alex pergi.
"alhamdulillah baik... selalu dalam lindungan Allah... aak sediri?" jawab zora tenang setelah mendengar langsung suara alex.
"sedikit tidak baik baik saja...." jawab alex tidak nyaman. bingung mau bicara apa.
"aak... sakit? bukanya lusa akan pergi?" zora bertanya hawatir. menyesal alex mengatakan dia tidak baik baik saja. ungkapan itu malah buat zora hawatir.
"sukron ning zora sudah mau peduli.... tapi aku tidak baik baik saja karena khawatir dengan keadaanmu. ... afwan sebelum pergi tidak sempat pamit secara langsung dan afwan sudah membawamu dalam permasalahan ku.... sungguh aku menyesal" jujur alex tidak bisa bicara secara lugas dan gamblang.
"jangan seperti itu. ... seakan akan yang ku lakukan tidak ada artinya untuk mu" gerutu zora kesal.
"bukan.... semua yang ning lakukan tidak akan bisa aku balas dengan setimpal" alex merasa bersalah sangat.
"jangan berfikir untuk membalas perbuatan zora. ... tapi berjanjilah !" harap zora menutup matanya memberanikan diri mengungkapkan isi hati.
"apa?" beo alex.
"segera kembali dengan kebanggaan. ... kenbali tanpa rasa dendam dan jadilah pria yang selalu taat pada ALLAH SWT." ucapan zora penuh harapan untuk alex.
__ADS_1
"innshaalloh. ... aku alex akan mewujudkan janji dan harapan ning zora agar kau bangga pada ku" alex mengukir senyum mendengar harapan zora untuk nya.
"manis.... sekali. ..." canda zora untuk menguraikan kecanggungan.
"oh.... berani ya....,?" alex senyum miring.
"ha... ha. ...ha....."
"ayo tertawa bersama sebelum kita hujan air mata kesedihan" ajak alex sendu sedih dan kecewa.
"jangan ada kesedihan hanya boleh adanya komitmen dan harapan .... airmata hanya menyisakan duka. ... saat kita terpisah " urai zora berani setelah dapat sepirit dari sang aak.
"baiklah....." alex setuju. Mereka lama diam saling menarik napas memikirkan apa lagi yang mau mereka bicarakan.
"ning zora. ..." Panggil alex berharap panggilan telepon masih tersambung.
"ya ...?" jawab zora.
"andai aku nanti berubah apa dan melakukan kesalahan apa kau akan tetap percaya?" tanya alex harap harap cemas.
"asal alasannya masuk akal. .. dan berubah bukan menuju ke burukan tapi ke arah kebaikan" jawab zora serius tapi dia sendiri belum faham apa yang di bicarakan alex.
" andai aku melakukan sesuatu menurut ku benar dan menurut orang salah dan membuat salah faham bagaimana?" alex bertanya masalah hal aneh lagi dan semakin membuat zora bingung.
"apa kau sedang merencanakan sesuatu?" tanya zora hati hati. menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"gadis pintar" puji alex.
"jangan ambil risiko besar" pesan zora.
"aku akan ingat itu. ... sudah malam... jaga kesehatan mu!" pesan alex
"iya... semoga kau kembali menjadi alex yang lebih baik dan membuat bangga"
"dirimu...."
"diriku. ..."
"amin..... assalamualaikum"
"waalaiku salam....."
__ADS_1
sambung telepon nya terputus....