
sebelum berlaga di perlombaan fazha ingin menenui sang adik. mumpung libur faz memutuskan untuk ke demak karena seminggu lagi faz akan tanding makanya faz meluangkan waktu untuk menemui sang adik. faz mengajak rio dan Alex dalam perjalanan panjang ini. untuk bergantian menyetir.
"Zidane anak nya bagai mana gus?" tanya alex sambil nyetir sedang faz duduk di belakang sambil main hape nya.
"dia sama pendiam nya dengan zora" faz mengalihkan perhatian dari hape.
"sudah berapa lama dia tinggal di demak. karena selama aku nyantri belum pernah tau tentang gus Zidane?" tanya rio yang duduk di depan menemani alex dan bergantian menyetir.
"sudah kurang lebih 7 tahun sejak dia masuk kelas 3 sekarang dia sudah 3 Mts... kami beda 4 tahun sekarang dia sudah 14 tahun" ceria faz sendu bila mengingat adiknya juga harus pergi.
"gus yang dingin ya...." puji alex penuh rasa penasaran.
"yang penting jangan bandel kayak kakaknya" canda rio sambil berpaling ke belakang.
"ha... ha... ha..." fazha komentar dengan tawa renyah di ikuti yang lain.
takterasa perjalanan itu menjadi tak berada 8 jam lewat tol sangat tidak bersa. mereka tadi hanya pamit untuk liburan bersama. tidak bilang untuk menjemput Zidane itupun kalau dia mau.
kini rio sudah membelokkan mobil sedan faz ke area pondok. kedatangan mobil itu menarik perhatian para santri yang batu usai ngaji sore. apa lagi setelah 3 orang pemuda tampan yang sudah turun membuat mereka terkagum dan penasaran. Mereka bertanya tanya dari manakah datang nya 3 pemuda itu gayanya yang arif dan ramah menyebar senyuman.
faz segera menuju teras rumah kyai di ikuti alex dan rio. mengetuk pintu dan mengucap salam walau pintu terbuka lebar mereka menunggu di luar sampai seorang gadis cantik keluar dan menjawab salam.
"oh... aak faz silakan masuk aak...." sapa gadis cantik bermata netra coklat turunan dari sang umi yang keturunan mesir.
"terima kasih dek mira... abi ada?" tanya faz dia tau gadis itu adalah anamira putri sulung ammun ibra.
" sebentar mira panggilkan silakan duduk,... mira kedalam dulu" mira mempersilakan lalu pamit untuk memanggil sang abi.
"iya....." faz setuju lalu duduk di gelaran karpet Turki yang di gelar di samping 1 set sofa. Rio dan alex ikut duduk bersandar tembok.
"dia pangil gus aak?" tanya rio penasaran dari tadi dengan gadis manis sepupu jauh faz itu.
"dia putri sulung ammun ibra... beliau adik sepupu umi naf" fazha menerangkan.
"oh.... jadi gus pangil paman atau om?" alex ikut bicara.
"naam...." faz membenarkan.
"wah... keluarga antum kyai semua ya gus?" tanya alex penasaran
__ADS_1
"begitulah" faz membenarkan.
beberapa saat kemudian kyai ibra muncul dengan senyum bahagia melihat putra kakak sepupunya datang berkunjung suatu kejutan membahagiakan. faz dan yang lain mengucap salam. abi ibra menjawab mereka salim mencium tangan dengan penuh takzim abi ibra memeluk faz dengan bangga.
"ayo. ..ayo.... duduk duduk. ... wah ammun senang kedatangan gus dari jakarta" puji abi ibra sambil mempersilakan mereka duduk lagi.
"jakarta apanya ammun... faz saja batu 6 bulan di jakarta." faz menjawab sambil memasang wajah lucu.
"ya kalau begitu gus dari Mesir" abi ibra malah berlebihan.
"apa lagi itu.... faz cuma mumpang lahir di sana ha..ha..ha..." faz menjawabi canda an abi ibra.
"ha.. ha..ha... dasar anak bandel. nah ini siapa ini? gus dari mana?" abi ibra menepuk bahu faz dengan kuat beberapa kali. Lalu pandangan beralih ke 2 pemuda yang ada di sebelah faz.
"saya mario kyai bukan gus" jawab rio gugup
"saya alex... juga bukan gus..." alex segera menyauti dan menyanggah.
"ha... ha...ha... anak anak tampan" puji abi ibra semangat masa mudanya kembali lagi bisa bertemu anak anak muda yang baik macam mereka bertiga.
"ini rio ammun... ponakan papa amar sedang ini alex calon zora" faz menerangkan sambil menunjuk rio yang di sisinya lalu berpindah ke arah alex.
"ammun sih telat kurang gerak cepat buat krayu bibi dan mimi" canda faz.
"ha... ha... ha.... itu namanya saya kurang beruntung. tapi ngomong ngomong kok bibi mu mengizinkan. .. ini ide bibi atau mimi?" abi ibra tertawa lalu bertanya lagi pada fazha.
"bibi.... karena Alex sudah kehilangan orang tuanya jadi mereka mengamanahkan Alex pada bibi. dan ini lah jadi alasan biar bibi benar benar maksimal menjaga Alex" alex sedari tadi khawatir takut faz akan membuka aib kenapa dia mesti tunangan dengan zora. sedang rio saja yang baru tau kalau sahabatnya berjodoh dengan adik faz dia tersentak kaget.
"oh.... Begitu. .. akhirnya mas alwi berubah juga. mira.... mana minumnya nak ini para pemuda tampan sudah kehausan" abi ibra melunak. lalu memanggil sang putri untuk membawa minuman.
"iya. .. bi...." mira keluar membawa baki berisi 4 gelas minuman dingin 2 toples jajan dan yang lain di bawa para santri dhalem yang mengikuti mira mereka bawa setelah sirop dingin untuk nambah minum sana 2 piring pisang goreng dan bolu.
"minumnya aak... akhi" mira mempersilakan
"terima kasih" jawab rio tidak berpaling dari menatap mira yang tersenyum manis.
"syukron kashir dek mira!" jawab faz.
"naam... permisi" mira jadi tesipu malu sedari tadi di tatap mario dengan intens.
__ADS_1
"mario...." faz menyengol lengan rio karena pemuda itu masih saja memperhatikan mira sampai dia hilang masuk ke dalam.
"eh... apa?" rio tersentak
"ini minum biar dingin pikiranmu" faz menyodorkan gelas pada rio.
"iya....." faz dan alex tersenyum melihat tingkah tidak biasa dari sahabat mereka.
uhuuuk.... uhuuuk...
karena minum terlalu terburu buru rio tersedak. terasa sakit di ulu hati dadanya.
"kenapa mas rio... anak abi cantik ya. ...?" goda abi ibra senyum menatap rio.
"afwan kyai" rio merasa malu telah ketahuan sudah. mencuri pandang di depan abi nya lagi.
"ha.... ha.... ha.... ayo ayo... di makan" tawar abi ibra.
suasana siang itu menjadi sangat hangat dan akrab. apa lagi setelah arsha ikut. gabung setelah datang usai madrasah. usianya hampir sama dengan Zidane dan hanya terpaut 2 tahun dengan sang kakak sulung.
fazha pun menyampaikan niat untuk menjemput sang adik zidane. itupun kalau dia mau.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1