
zidane sedang makan sore senampan bersama 3 orang teman masaknya. dia tidak canggung sama sekali melakukan hal itu. Semua karena sudah terbiasa.
zidane tumbuh mandiri masak sendiri dengan teman teman nya tidak kos. semua dia lakukan karena kekesalan dirinya pada sang kakak yang di izinkan tinggal bersama ammun nya sejak lama. di sana dia di manja dan semua impiannya di wujudkan oleh sang ammun. dan zidane mesti harus berbagi perhatian dengan zora sang kembaran. apa lagi setelah kehadiran syam zidane merasa di abaikan karena bibi dan mimi yang di sibukkan dengan zora yang punya sakit langka bawaan dari kandungan. Setelah dia tau alasan sang kakak pergi karena sakit zora zidane jadi merasa bersalah dan menyesal dengan pikiran buruknya perihal sang kakak terbayang. Hingga dia juga bertekat untuk mondok jauh dari keluarga agar bisa menunjukkan diri kalau dia juga mampu. tapi bagi faz sikap keras kepala adiknya sangat menjengkelkan. Selama ini dia tidak mau pulang ke Jakarta. kalau libur atau hari raya zidane hanya pulang ke kudus atau Jepara. jadi selama ini dia selalu menghindari mimi dan bibi nya karena kekesalan dan ego anak anaknya.
"assalamualaikum" salam faz rio dan alex bersamaan.
"waalaikum salam...."jawab zidane dan temannya berpaling menatap 3 pemuda tampan di depan mereka.
" pripun kabare gus zidane? (apa kabar gus zidane. ...?)" sapa faz memasang senyum manis pada sang adik.
"aak.... fazha..." zidane tersentak kaget langsung berdiri mencuci tangan dan menghampiri sang kakak.
"gus zidane....?" tanya teman zidane kaget.
"zidane iku gus...?. (zidane... Seorang gus...? )." tanya yang teman yang lain
"kok awakke dewe ora genah (kok... kita tidak tau....?)" tanya yang lain mulai penasaran.
"aak...." zidane menatap nanar sang kakak.
"mboten jeng dekep kakak to (tak mau peluk kakak kah!)" tanya fazha menatap rindu pada sang adik. faz merentangkan tangannya lebar lebar.
"aak... faz... zidane kangen" zidane menghamburkan di pelukan sang kakak.
"dasar kepala batu...." bisik faz mendekap rapat sang adik penuh rindu dan haru.
"kapan aak dugi? ( kapan aak datang?)" tanya zidane setelah pelukan hangat mereka terurai.
"ndek ijang(tadi pagi. ..)." jawab faz menjawab lembut sang adik.
" dadose teng nagajeng niku...,. ( jadi mobil di depan itu...?)" tanya zidane terpotong
"mobil kakak" faz menyauti.
__ADS_1
"nopo bibi kaleh mimi derek? (apa bibi dan. mimi ikut?)" tanya zidane penasaran takut kedua orang tuanya ikut bersama sang kakak.
"mboten.... (tidak)" jawab fazha santai menenangkan sang adik.
"niki sinten....(ini siapa?)" tanya zidane menatap kedua pemuda yang ada di belakang sang kakak yang binggung dengan pembicaraan sang gus berdua.
"kalian bicara apa sih?" tanya rio binggung.
"oh.... mboten ngertos boso jawi to? ( oh tidak tau bahasa jawa kah? )" zidane baru paham dan dia belum tau kalau sang kakak sudah bersama tinggal dengan keluarga, .
"mereka itu anak kota... mana tau bahasa jawa ini teman teman aak mario dan Alex mereka santri abi" faz menjelaskan
" mario...." zidane menerima uluran tangan mario.
"Alexander. ..." gantian zidane bersalaman dengan alex.
"dan.... kami bukan gus....." canda rio dan alex.
" saya zidane ... apa coba maksudnya?" jawab zidane dengan binggung.
"itu tadi candaan dengan kyai Ibrahim yang menanyai mereka gus dari nama....ha...ha...ha... ayo kita bicara di asrama saja" cerita faz masih degan tertawa.
"oh... ternyata begitu. ..ha...ha..ha .. baik aak mari kita ke kamar. ... ngapunten njeh... kulo bade krencangi aak kulo riyen ( maaf ya.... saya mau menemani aak saya dulu)" zidane baru faham. dan dia pamit pada teman temannya.
"nggeh.... nggeh. .. monggo monggo. ... (iya. .. iya. .. silahkan .. silahkan)" teman zidane mempersilakan.
zidane kembali ke kamar di ikuti sang kakak dan 2 teman karib nya. faz belum mengutarakan keinginan untuk mengajak sang adik pulang. dia harap anak keras kepala itu mau pulang. sikap keras kepala itu nurun dari sang mimi. dan faz dapat sifat tekat besar sang mimi. jadi mereka perpaduan dari sifat orang tua mereka.
"sebenarnya aak kemari mau apa?" tanya zidane penasaran.
" jemput kamu pulang" jujur faz.
"tidak...." tolak sang adik.
__ADS_1
"kenapa?" tanya faz penasaran.
"zidane tidak akan kembali kalau kakak masih di Kudus" zidane mengutarakan alsan.
"kakak sudah di jakarta selama 4 bulan" jawab faz
"apa aak tak bohong kan?" selidik zidane
"tidak... kakak sudah 4 bulan dan aak ingin kamu kembali aak sudah mengurus surat pindah mu" paksa faz. dia sudah mengurus segalanya.
"tanpa seizin zidane... apa ini perintah mimi dan bibi?" zidane marah.
"tidak ini inisiatif aak sendiri kalau bukan aak yang paksa kamu kamu tidak akan setuju jadi ayo bereskan barang barang kamu kalau menolak.... rio alex...." faz serius akan memaksa adiknya.
"siap. ..." jawab alex dan rio setuju.
"iya.... iya.... maksa" zidane tidak suka
"keras kepala" senyum faz menang
zidane menurut saja pada keinginan sang kakak. Kalau dengan kakaknya dia tidak bisa mengalah. karena faz lebih temperamen sikapnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1