
Cuaca yang terik seakan menyengat kepala Lina tanpa topi. Gadis itu berteduh di bawah pohon taman sekolah. Itu merupakan tempat favoritnya di antara semua penjuru sekolah. Pohon tua yang besar dapat menutupi sinar matahari menuju kepalanya dan ada bangku tempat bersandar yang membuatnya tidak merasa lelah, Lina mendengarkan musik sambil membaca novel favoritnya.
"Eh santuy amat kayak di pantai" ujar seseorang mengganggu gadis itu.
"Minta no wa boleh nggak neng?" tambahnya lagi.
"Ogah" balas Lina cuek, lelaki itu hanya tertawa menatap tingkah Lina.
"So cute" ujarnya sambil memandangi wajah gadis itu, Lina risih di pandangi seperti itu.
"Lo mau sampe kapan di samping gua? harusnya lo tuh mempersiapkan class meeting di kelas loh, bantuin tuh teman-teman lo" ujar Lina panjang lebar.
Class meeting adalah perlombaan antar kelas yang diadakan setiap akhir semester di sekolah mereka. Banyak pertandingan yang diadakan di antaranya bidang olahraga, lomba dance, lomba berpuisi, lomba bernyanyi, dan lomba yang paling digemari yaitu 'King and Queen'. Masing-masing kelas akan memilih king and queen mereka sebagai perwakilan kelas dan bersaing dengan king and queen kelas lain.
"Lo juga masih disini bukannya bantuin kelas Lo" balas Leo tidak terima dengan perkataan gadis itu.
"Sok tau banget sih Lo, gua tu lagi kesal sama anak kelas gua, tanpa minta pendapat gua mereka seenaknya buat gua jadi queen" ujar Lina dengan wajah kesal.
"Wajar aja Lo dijadiin Queen, Lo cantik, pintar, friendly, kriteria queen banget" ucap Leo memuji.
__ADS_1
"Apaan sih gak lucu tau" balas Lina cuek, matanya beralih ke novel yang ia baca.
"Ini kan novel Tere Liye, gua suka banget, udah banyak judul yang gua baca, matahari, bulan, serial anak mamak, rembulan tenggelam di wajahmu, kau aku dan sepucuk angpau merah dan masih banyak lagi" ujar Leo menjelaskan dengan semangat.
"Eh serius, Lo kan cowok, jarang banget cowok suka novel, gak nyangka gua" jawab Lina mulai antusias sembari tertawa.
"Dulu banyak banget yang ngejekin gua karena cowok baca novel, tapi gua anggap angin lalu aja" lanjut Leo santai.
Lina benar-benar tidak menyangka Leo memiliki sisi yang seperti itu. Gadis itu terkagum sejenak, untung saja Mirna segera datang mencarinya.
"Gua udah tebak Lo disini, balik kelas yok" ujar Mirna sedikit terengah-engah.
"Tuan putri lagi ngambek, dia gak suka dijadiin queen" ujar Leo sambil sedikit tertawa.
"Astaga lebay amat sih lu Lin, secara Lo cewek tercantik plus cerdas di kelas kita, gua aja kepengen tapi gak masuk kategori" hibur Mirna menggunakan suara lucu khas-nya.
Lina sedikit menahan tawa dikala Mirna mengucapkan itu. Entah bagaimana Mirna akan selalu menjadi orang humoris bagi Lina.
"Leo kita balik ke kelas dulu ya, masih banyak yang harus didiskusikan buat class meeting, anak ini acara kabur lagi" jelas Mirna pada Leo.
__ADS_1
"Yoi, bye tuan putri, bye Mirnaaee" ujar Leo dengan panggilan khususnya.
"Mirnaeee? Awas aje lu ye" balas Mirna tak mau kalah.
Mereka berjalan meninggalkan taman menuju kelas. Acara class meeting diadakan lusa, Lina menjadi queen tanpa persiapan apa-apa.
"Lo nyanyi aja deh, Lo kan jago nyanyi" Mirna memberikan saran selama perjalanan mereka menuju kelas.
Lina belum bisa menentukan persembahan apa yang akan ia berikan dan akan memakai gaun yang seperti apa. Dia tidak bersemangat mengikuti ajang King and Queen ini
"Pulang sekolah belanja yuk, cari gaun yang cocok buat kamu" ajak Mirna.
"Nggak deh, biar mama gua aja yang urus, males banget gua musti ke mall cariin gaun" jawab Lina tidak terlalu bersemangat.
'Oke, ntar malam gua ke rumah Lo deh" ucap Mirna setelah mereka sampai di pintu kelas.
Anak-anak lain sedang berdiskusi mengenai utusan untuk cabang lomba yang lain. Niko sebagai pasangan King Lina menatap kearah mereka sembari melambai.
"Mari berjuang queen" ucapnya keras sehingga satu ruangan mendengar.
__ADS_1
"Dasar" batin Lina menggerutu.