Future Husband

Future Husband
Sniper


__ADS_3

Maaf ya readers kayanya kemarin gk Up, Anak lagi demam jadi untuk mengurangi kecewa kemarin hari ini double Up..


Jeje berdiri di dekat jendela, menikmati angin yang menerpa kulit wajahnya yang memang sudah cantik. Tidak ada yang memungkiri itu, bahkan anak sekecil Jovan dan Jonaspun tidak mau berpisah dari Jeje.


Ke cantikan murni yang terpancar selalu totalitas, saat gadis itu harus tampil dewasa layaknya Ibu, Jeje sanggup melakukannya hingga anak-anaknya sukses seperti sekarang. Ketika wanita itu harus totalitas dalam rumah tangga Ia sebaik mungkin melakukannya, tidak peduli bahwa sekarang rumah tangganya begitu rumit untuk Ia pahami sendiri.


Sebuah notif masuk di ponsel Jeje, Jeje tersenyum kala Ia melihat notif dari siapa itu. Jeje tidak tahu apa yang merasukinya, hingga lima hari yang lalu Ia memintanya untuk mengirimkan foto lewat email. Jari-jari Jeje yang lentik tiba-tiba saja menari indah di atas keyboard, dan hasilnya? Setiap notif Ia dapat darinya, jantungnya berdebar begitu kuat. Oksigen terpompa lebih masuk ke paru-paru membuat sendi-sendinya bekerja baik dan menghasilkan reflek otot pipinya bergerak seirama dengan hatinya.


Senyum yang kurang lebih dari 3 bulan hilang dan luntur akan ke hilangan rasa seseorang yang entah kapan mampu tertanam di hatinya.


Jeje masih ingat betul bagaimana Ia memintanya untuk memanjangkan rambut, dan hasilnya sekarang dapat Jeje lihat. Pria itu tidak meminta apapun, hanya mengiriminya foto dan sebuah kalimat.


'Aku merindukanmu'


Setiap pria itu mengirimkan foto, hanya itu yang di ucapkannya. Tidak memintanya untuk pulang ataupun berkata Aku mencintaimu. Entahlah! Jeje akan menanyakannya itu nanti. Jeje terus menscroll semua foto-foto ke giatan pria itu selama seminggu ini, dan Jeje sudah sangat senang. Mungkin juga ini adalah permintaan buah hati mereka.


Buah dari rasa cinta yang tidak akan pernah salah, cara takdir menemukan mereka juga tidak salah. Dan rasa yang tumbuh dalam hati mereka juga tidak salah, mungkin hanya waktu yang masih saja membolak balikkan rasa itu sampai mereka tidak sadar kapan gambaran indah itu akan tercetak.


Jeje terus tersenyum hingga suara pintu di ketuk seseorang.


"Masuklah!".


"Mom terlihat bahagia." Jeje mendongak, menatap sekilas puteranya.


"Ya sedikit, ada apa Will?" Jeje memfokuskan pandangannya pada Will yang membawa sebuah undangan berlapiskan emas.


"Apa itu?" Will tersenyum, senyum mengerikan yang di balas Jeje dengan tepuk tangan. Rasa bangga pada putera pertamanya itu, sungguh Will adalah pria yang dapat Jeje andalkan dalam segala hal.


"Kerja bagus Son, kapan?" Will terkekeh.


"Mom tidak sabar eh? Nanti malam, hanya Mom dan Aku." Jeje mengangkat bahunya.


"Cukup mengagetkan mereka berkumpul di waktu yang tidak tepat, cukup ceroboh membuat pesta di saat misi belum berjalan." Will mengangguk, membenarkan apa yang di katakan Jeje. 


"Berdandanlah yang cantik Mom, nanti malam Kau adalah wanitaku." Jeje memutar matanya, Will selalu saja menjengkelkan dan akan merasa bangga ketika dapat membuat Jeje pergi walau hanya satu malam saja dengan Will.


"Carilah wanita yang lebih cantik dari Mom Will." Will menggeleng.


"Hanya Mom wanita yang paling cantik dan ingin kami lindungi." Jeje tersenyum. Jawaban yang tidak pernah berubah dari mereka kecil hingga kini. Dan semua puteranya berkata demikian, tidak ada yang tahu. Mereka berkata seperti itu atas inisiatif mereka atau ada yang memimpin dari salah satunya. Entahlah! Jeje hanya merasa mereka memang menyayanginya sebagai seorang Ibu.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi Mom ingatkan Will, umurmu cukup matang untuk mencari wanita." Will menggeleng.


"Tidak Mom, lebih baik Mom kembalikan labku dari pada menyuruhku untuk mencari wanita di luar sana." kali ini Jeje yang menggeleng tegas. Tidak akan terpengaruh akan nego yang di lancarkan Will padanya.


"Jangan bernego dengan Mom Will, itu tidak mudah.".


" I know you, Mom." Jeje terkekeh.


"Baiklah, Aku akan mempersiapkan semuanya. Jadi calon Adik Kak Will, semoga Kamu senang nanti." Jeje bersidekap dada. 


"Jangan mengajarinya kata-kata seram Will!" peringat Jeje. Dan Will hanya mengangkat bahu.


"Bye Mom.".


"Bye Son.".


 


Jeje melingkari lengan Will yang nampak gagah, tidak ada yang dapat mengenali Will. Alat mata\-mata dan penyamarannya begitu banyak. Jadi siapapun pasti tidak tahu jika yang di hadapan mereka bukanlah Reynaldo yang sebenarnya.


"Arah jam 8 Mom." Jeje tersenyum mendengar bisikan Will padanya dan melirik lawan lewat ekor matanya.


"Bukannya itu rekan bisnis Bastian?" Jeje tersenyum. Agar semua terlihat baik\-baik saja. Itu hanya prosesnya mendeteksi situasi dan di mana saja sniper yang siap meregang nyawa Aldo ada di sana.


"Ya, dunia bisnis selalu kejam Son. Apalagi itu berkaitan dengan aset yang jumlahnya tidak ternilai. Bukannya Kau sudah hafal akan hal itu?" Will hanya mengangguk sambil tersenyum saat beberapa rekan kerja Aldo tersenyum ke arahnya.


"Ya, Aku kira hidup Dad yang monoton itu tidak akan terusik. Hanya di luar espektasiku." Jeje membawa Aldo as Will ke tengah\-tengah ballroom.


"Mau berdansa denganku?" Jeje terkekeh dengan senyum yang manis.


"Tentu.".


"Kau tahu, di dunia ini tidak semuanya indah. Kadang kala uangpun tidak cukup untuk membuat kita hidup selalu bahagia. Ada setiap orang punya segalanya tapi tidak dengan kasih sayangnya, ada juga yang tidak dengan cintanya dan ada juga yang selalu terabai hanya karena uang." Jeje mulai menggerakkan badannya, bersamaan dengan Will yang juga bergerak seirama dengan Ibunya itu.


Tidak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan, hanya suara musik dansa yang terdengar oleh semuanya. Microfon kecil di anting Jeje serta di rambut Will yang sengaja Ia panjangkan sesuai dengan tampilan Aldo saat ini. Tidak ada yang menyadari itu, mereka benar\-benar pandai dalam ber\-akting.


Jeje berputar sama halnya dengan pasangan dansa lainnya.


"Kau benar Mom, dan Aku beruntung. Saat pertemuan kita tidak ada yang Aku sesali." pertemuan yang membawa Will pada dunia yang lebih berwarna, lebih bebas dari pada menjadi gelandang yang selalu di buang di manapun Will mencari pundi uang untuk sisa nasi dari orang yang berduit tebal. Tidak ada yang tahu asal usul Will, Will bisa saja mencarinya sekarang. Tapi untuk apa? Hidupnya cukup bahagia dan sangat tercukupi, biarlah Ia anggap orang tuanya sudah tiada. Itu akan lebih baik.

__ADS_1


"Mom yang beruntung menemukanmu." Will tersenyum, senyum bahagia yang terpancar.


"Matahari bergerak Mom." Jeje tersenyum.


"Aku yang akan memancingnya." Jeje mengangguk saat Will melepaskan tangannya. Jeje menepi dari lantai dansa. 


Jeje mengamati setiap arah jam yang Will dan Ia tandai sambil berjalan ke sebuah meja. Dengan gaya anggun dan elegan tentu saja. Jeje mengamati pergerakan dari arah jam 8, Ia memastikan Will mulai bergerak.


"Sisakan untuk Mom, Son!" terdengar hembusan nafas kasar.


"Biar Aku yang membereskannya, Mom hanya duduk saja dan nikmati perjamuannya." Jeje terkekeh. Jeje mendudukkan bokongnya di sebuah kursi.


"Jangan bermain\-main sendiri tanpa Mom.".


"Ok fine, temui Aku di arah jam 1. Dalam waktu 10 menit." Jeje mendengus.


"Kau terlalu lama Son." kali ini Will yang mendengus.


"Baiklah, 6 menit.".


"3 menit atau tidak sama sekali.".


"Baiklah, nikmati dulu hidangannya agar Mom tidak bosan.".


"Makanannya tidak steril, Mom tidak berselera.". Will terdengar menggeram.


"Apa mereka juga menargetkan Mom?" Jeje mengangguk yang sebenarnya Will tidak tahu.


"Ya, suamiku adalah tawanannya. Dan Aku adalah targetnya." terdengar teriakan dari sana, namun Jeje hanya tersenyum sekilas.


"Aku akan ke san-".


'Dorrr Dorrr'


"Mom, Mommm!!"".


Madiun,03/07/20


__ADS_1


 


__ADS_2