
Lagi-lagi suara lonceng berdering untuk kesekian kalinya. Lina masih saja memikirkan perkataan Revan mengenai perasaan Revan kepadanya. Kenapa ia tidak boleh jatuh cinta, apa karena Revan sangat membencinya, Lina berpikir demikian.
"Senin kita mulai UAS nih" seru Mirna sambil menghela nafas.
"Memuakkan" lanjut Mirn lagi.
Lina hanya geleng-geleng melihat tingkah sahabatnya itu. Ini bukan sekali dua kali ia melihat Mirna seperti itu.
Lina yakin cinta akan dipertemukan diwaktu yang tepat dan cara yang tepat pula. Begitu pula ia dan Revan, keyakinannya tidak pernah memudar, bahkan sedikit pun ia tidak pernah berkeinginan untuk tidak memikirkan Revan lagi.
Lina teramat menyukai Revan, sampai-sampai Lina tidak bisa memalingkan pandangannya kepada laki-laki lain. Sampai tiba suatu hari disaat Lina melakukan hobi terbaiknya, tak lain yaitu membaca novel di taman sekolah. Seorang lelaki berparas tampan menghampirinya kemudian duduk di sampingnya.
"Hai, Lina kan? kenalin gua Leo" ucap pria tampan itu.
Astaga, sejak kapan ada cowok seganteng ini di sekolah pikir Lina. Tak lama kemudian Lina langsung menepis pikirannya itu, sadar dong Lin, Revan satu-satunya buat lo, sadar!! batinnya.
"Iya gua Lina, Lo siapa?" jawab Lina dengan wajah penasaran.
__ADS_1
"Gua penggemar rahasia Lo sejak SMP, baru berani nongol sekarang, haha" jelasnya sambil tertawa.
"Kok bisa? emang Lo kenal sama gua?" ucap Lina tak percaya.
"Kenal lah, gua sering letakin coklat di laci meja Lo" ucap pria itu tersipu malu.
Lina berpikir sejenak, pria itu persis dirinya, dia versi Lina dalam bentuk lelaki. Lina selalu meletakkan coklat di laci meja Revan dan Leo selalu meletakkan coklat di laci meja Lina.
"Pantesan gua sering nemuin coklat di laci gua, ternyata lo biangnya, hahaha" ujar Lina sambil tertawa.
"Iya Lin, itu kerjaan gua, Lo gak marah kan atau merasa jijik ke gua?" tanyanya dengan wajah ragu.
"Makasih ya, padahal Lo ganteng loh, kenapa gak cari cewek yang lebih cantik?" ujar Lina.
"Kalo udah suka dari awal, gua bisa apa Lin" balas pria itu tersenyum.
Lina setuju dengan yang dikatakan Leo, ia selalu menutup hatinya terhadap pria lain dikarenakan Revan. Begitu pula dengan Leo yang menutup hatinya pada perempuan lain karena telah menyukai Lina seorang. Gadis itu merasa bersalah dan tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
"Makasih selama ini lo udah setia suka sama gua dan maaf gua gak bisa balas rasa suka Lo ke gua" ujar Lina dengan rasa bersalah.
"Kita masih bisa jadi teman" sambung Lina dengan sedikit gugup.
"Gak masalah Lo gak suka sama gua Lin yang jelas gua akan selalu suka sama Lo" balas Leo.
Lina terdiam, benar-benar sama dengan dirinya. Lina juga telah melakukan apa yang dilakukan Revan terhadapnya. Revan meminta Lina untuk tidak menyukainya.
Secara tidak langsung, Lina juga sudah meminta Leo untuk tidak menyukainya lagi dengan cara menolak Leo. Tapi Leo tidak menyerah dan ingin memperjuangkan cintanya. Seperti Lina yang selalu ingin memperjuangkan cintanya pada Revan.
"Gua tahu itu tidak mudah, tapi gua yakin Lo bisa lupain gua" ujar Lina menghibur.
"Izinkan gua tetap usaha buat dapetin Lo Lin, gua yakin suatu saat nanti lo juga bakal suka ke gua" balas Leo meyakinkan.
Lina terdiam untuk beberapa saat. Gadis itu merasa jahat jika tidak mengizinkan Leo, semua orang berhak memperjuangkan cintanya.
"Baiklah, gua izinin Lo untuk suka ke gua, tapi gua gak janji untuk mengubah keputusan gua" balas Lina dengan tegas.
__ADS_1
"Makasih Lin, siap-siap aja, Lo bakal suka ke gua" balas Leo dengan senyuman hangat.
Entahlah, Lina merasa bimbang, ia tidak tahu apakah keputusannya saat ini sudah benar atau malah sebaliknya.