Future Husband

Future Husband
Bab 17


__ADS_3

Kaki Lina melangkah dengan berani mendekati Revan yang sedang duduk di taman. Lina duduk disamping Revan setelah Revan mengajaknya untuk bergabung dengan lelaki itu.


"Gak ngumpul?" tanya Lina.


"Hmm kepo, lagi malas" balas Revan iseng.


Revan menatap Lina sejenak, tatapannya sama seperti terakhir kali dia menatap Lina. Tatapan yang lepas dan juga tulus, Lina lagi-lagi memberanikan untuk memulai percakapan.


"Ngapain lihat-lihat, wajah gua aneh ya?" tanya Lina penasaran.


"Bukan apa-apa, Lo terlihat cantik" ucap Revan tanpa basa-basi yang menyebabkan gadis itu salah tingkah dan memalingkan wajahnya sejenak.


"Apa karena penampilan gua yang seperti ini, memakai makeup dan gaun?" tanya Lina.


Revan langsung menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Lagi-lagi lelaki itu berhasil membuat Lina terpesona dengan senyumannya.


"Lin, bunga akan tetap indah tanpa harus ada daun yang menghiasinya, sama seperti wanita yang akan tetap terlihat indah tanpa harus ada gaun yang menghiasinya" ujar Revan dengan bijaksana.


Lina tertegun mendengar kalimat dari Revan. Wanita itu mengakui kecerdasan Revan, bahkan dalam merangkai kata-kata.

__ADS_1


"Makasih yaa" ucap Lina lembut.


Lina juga ingin mengucapkan kalau Revan juga selalu ganteng saat memakai apapun. Revan hanya mengangguk dan membalas senyuman dari Lina.


"Makanya Lo harus tetap PD" lanjutnya lagi.


Lina langsung mengangguk patuh layaknya terhipnotis oleh suara Revan. Setelah berbicara santai dan mulai kehabisan topik, Lina ingin menanyakan kenapa Revan dan Lia bisa ikut dalam kontes sebagai pasangan.


Tapi ia ragu karena takut Revan akan berpikir bahwa dirinya adalah wanita yang kepo, bahkan pada lelaki yang bukan pacarnya. Seakan tahu apa yang ada di benak Lina, Revan mulai membahas tentang King and Queen.


"Lo kok bisa ikutan King and Queen?" tanya Revan.


Kemudian gadis itu memberikan pertanyaan yang sama terhadap apa yang Revan tanyakan padanya. Jawaban Revan sungguh menyenangkan hati Lina.


"Gua juga sama, anak kelas gua yang milih gua jadi King, lalu Lia menawarkan diri jadi Queen dan disetujui oleh anggota kelas" Revan menjelaskan lebih rinci dibandingkan Lina sendiri.


Gadis itu senang dengan penjelasan dari Revan. Itu menandakan bahwa bukan Revan yang memilih Lia jadi pasangannya.


"Kok Lo gaikut acara cerdas cermat kemarin? Sibuk nyiapin gaun?" tanya Revan dengan sedikit sindiran.

__ADS_1


Lina hanya mengangguk, dalam hati ia mengiyakan dan benar-benar malu. Revan mengingatnya kalau lusa adalah hari penerimaan rapor.


"Lo yakin bakal juara satu lagi?" tanya Revan pada Lina.


Gadis itu mengangkat bahunya menandakan bahwa ia tidak tahu jawaban dari pertanyaan Revan. Jauh di lubuk hatinya membahas keinginan untuk sekelas dengan Revan di kenaikan kelas nanti.


Setelah mereka berbincang-bincang cukup lama, mereka memutuskan untuk kembali ke kelas masing-masing. Lina bahagia, ini pertama kalinya ia dan Revan berbicara sepanjang dan sesantai ini. Lina berharap kedepannya akan lebih dekat lagi.


"Darimana aja Lo" tanya Mirna.


Wajahnya terlihat sedikit kesal, Lina hanya tersenyum padanya. Tetapi Lina berusaha untuk menghilangkan kekesalan sahabatnya.


"Jangan galak gitu dong, ntar cepat tua Lo" balas Lina berusaha membujuk sahabatnya.


Mirna mengajak Lina makan mie ayam Kang Raden sepulang sekolah nanti. Itu syarat yang harus Lina penuhi dalam rangka kemenangannya tadi.


"Hanya kita berdua, gua lagi pengen makan berdua" ajak Mirna.


Lina langsung mengiyakan dan memeluk sahabatnya. Sebelum pulang mereka harus kebersihan sesuai instruksi kepala sekolah berhubung lusa sudah hari penerimaan rapor dan juga hari terakhir mereka sebagai anak kelas dua. Lina sungguh tidak sabar, kata orang kelas tiga merupakan masa yang paling indah dalam SMA dan ia ingin membuktikan kebenaran nya.

__ADS_1


__ADS_2