Future Husband

Future Husband
File


__ADS_3

Alan bersiul pagi ini dengan memutar kunci mobil yang berada di jari telunjuknya. Pagi ini Ia harus mengerjakan sesuatu yang sudah menggunung akibat pusing memikirkan masalah rumah tangga Adiknya serta sahabatnya, Aldo. Entah sejak kapan Ia ingin ikut campur urusan orang, tekadang Ia tidak mengerti akan masalah rumah tangga. Terlalu ribet dan juga seperti di Drama saja.


Alan tidak tahu masalah utama yang membelit keluarga kecil itu, namun melihat bagaimana frustasinya Aldo? Alan dapat menyimpulkan bahwa semuanya tidak baik-baik saja. Apalagi Adiknya itu, Ia Kakaknya tapi sama sekali tidak mengenalnya. Dia wanita karir yang bebas, tanpa ada batasan hari dan waktu. Astaga memikirkannya saja Alan sudah di buat pusing. Lalu bagaimana dengan menjalaninya? Alan tidak bisa membayangkannya lagi. Menjalankan rumah tangga yang seperti cerita di telenovela.


Alan membuka pintu apartementnya untuk menuju kantornya. Ia menutup kembali dan mengunci pintunya dengan sandi, namun Ia merasa telah menginjak sesuatu. Ia melihat ke bawah, Alan menaikkan satu alisnya karena Ia mendapati sebuah bingkisan berbentuk kado. Di lihatnya bingkisan itu, tanpa nama pengirim. Tapi paket yang entah apa isinya itu untuk dirinya. Alan mengingat-ingat apakah Ia ulang tahun? tapi ternyata tidak, hari ini bukan hari ke lahirannya. Dan siapa yang iseng memberinya hadiah pagi-pagi sekali?.


Alan mengedikkan bahunya. Tidak mau bertambah pusing karena paket kaleng itu. Alan menginjak tempat sampah lalu di buangnya paket itu tanpa mau susah payah membukanya. Alan bersiul dan melanjutkan jalannya menuju kantor yang sempat tertunda tadi, berjalan menunggalkan lorong apartementnya dengan senyum khas dirinya. Hati dan pikirannya boleh berkecamuk, tapi untuk senyum. Alan sama sekali bukan orang yang akan melunturkan senyumnya hanya karena masalah.


"Astaga! Jauh-jauh dari Rusia. Dan barangku terbuang di tempat sampah. Terlalu Kau Om!" seseorang mengeluh karena ulah Alan. Kemudian Ia menyunggingkan seuntas senyum kala ide cemerlang terbesit di otaknya yang di luar batas biasa. Seorang pria yang memang sengaja mengirimkan sesuatu pada Alan walau terbuang di tempat sampah.


Alan terkejut bukan main, bagaimana tidak? Sesampainya di kantor Ia mendapat sebuah paket mobil di depan kantornya. Bukan mobil mainan atau sejenisnya. Ini mobil sungguhan. Mobil yang berasal dari Inggris serta harganya yang mencapai 7 Miliar di Indonesia. Sebuah mobil berjenis McLaren 720s Spider, mobil yang paling unggul di kelasnya.


Bukan hanya Alan yang terkejut, melainkan semua orang. Bagaimana tidak? Mobil sport itu terparkir bersamaan dengan berdirinya seseorang di sana. Seorang yang di lihat Alan sebagai kurir pengiriman barang dan jasa.


"Dengan tuan Alan?" Alan yang masih terkejutpun mengangguk namun matanya tidak lepas dari mobil berwarna hijau tosca gelap dengan cat mengkilap.


"Silahkan tanda tangani surat terima ini." Alan menatap pria yang usianya hampir sama dengannya itu, lalu mengernyitkan dahinya. Apa dia salah orang? Alan sama sekali tidak memesan mobil baru ataupun mobil ke luaran terbaru ini.


"Maaf, siapa yang mengirimkan mobil ini untuk Saya?" hal pertama yang memang harus Alan tanyakan bukan? Jelas Dia tidak memesan mobil yang memang mampu membuat siapa saja gelap mata ingin memilikinya.

__ADS_1


"Maaf Tuan, Saya tidak tahu. Namun ada sebuah titipan lagi." pria itu membuka resleting tas sampingnya, lalu mengambil sebuah paket yang tidak asing bagi Alan. Alan mencoba melihat paket itu dengan teliti sebelum Ia yakin untuk menerimanya.


"Tunggu! Bukan-.".


"Silahkan Tuan terima, dan tanda tangan di sini!" pria itu menyela dan tangan Alan menandatangani surat terima itu. Bukan karena mobilnya, lebih dari itu. Karena Alan begitu ingin tahu siapa pengirimnya atau mungkin orang yang memaksa Alan menerima ini sejak dari Apartement.


Makanya Alan lebih tertarik dengan paketan yang ada dalam tangannya sekarang, setelah pengantar barang itu menyerahkan padanya juga undur diri dari area kantornya tanpa sepatah katapun lagi.


Alan memutari mobil barunya yang ada di depan kantornya. Ia meneliti setiap incinya dan hal itu menimbulkan banyak pertanyaan untuk karyawannya yang juga baru datang. Alan mengosongkan pikirannya, siapakah kira-kira yang akan mengiriminya hadiah mahal ini?.


"Semoga tidak terjadi apa-apa." harap Alan. Ia begitu tumpul untuk memikirkan siapa yang iseng untuk mengirim hadiah mobil mahal itu, Alan menggeleng. Tidak mau ambil pusing lalu melangkahkan kakinya menuju lift di mana Ia akan bekerja denga paket kaleng yang ada di tangannya.


"Hah! Ke napa Gue jadi parno sih?".


Alan menarik kursi kerjanya. Ia duduk sebentar lalu dengan satu tarikan nafas, Alan mencoba membuka paketan yang sebenarnya agak aneh. Biasanya paket apapun dari jasa pengiriman barang akan di beri perekat yang banyak sekali. Tapi ini tidak, hanya sebuah kotak yang di beri pita warna putih. Kalaupun kado, hari ini bukanlah hari ulang tahun untuk Alan. Jelas Alan sangat ingat akan hari ke lahirannya dan biasanya Dia akan menyiapkan pesta di club untuk merayakannya dengan para sahabat.


Alan membuka kotak penutup setelah membuka ikatan pitanya dengan rasa penasaran yang benar-benar sudah memuncak.


"To Om Alan.".

__ADS_1


" hah, Om Alan? Maksudnya?". Kemudian Alan membuka apa yang ada dalam isi kotak itu. Alan tidak mengerti ke napa Ia di panggil dengan sebutan Om. Oleh siapa pula Alan sama sekali tidak mengerti, Ia tidak punya ke ponakan yang akan memanggilnya seperti itu.


"Apa ini?" Alan mengambil sebuah map coklat, Ia membukanya dan matanya hampir saja ke luar kalau saja Ia tidak dengan cepat mencari sesuatu lagi di dalam kotak itu sebagai petunjuknya.


"Siapa yang mengirimkan file sepenting ini dengan cereboh seperti ini?" Alan menemukan selembar kertas yang bertuliskan sangat Alan pikirkan kini.


'Jaga hubungan mereka, Dad hanya salah paham pada Mommy kami. Mommy kami hanya ingin melindungi Dad!' 


Hanya itu dan selebihnya Alan tidak bisa mendiskripsikannya lagi, Mommy dan Dad? Panggilan itu yang sejak sekarang ini Alan pikirkan, jelas apa yang ada di hadapannya ini berhubungan dengan seseorang. Alan mencari ponselnya dengan cepat mendial sang pemilik penjelasan untuk Alan.


"Kau di mana?".


".....".


"Pulanglah Do!" 


Alan menengadahkan kepalanya. 


"Mommy? Dad? Siapa mereka?" Alan berpikir sejenak. Semua ini ada hubungannya dengan Aldo, jadi jawaban yang mungkin bisa Ia dapat adalah? Astaga! Ia akan menemuinya sekarang.

__ADS_1


Madiun, 29/06/20


__ADS_2