Future Husband

Future Husband
Indonesia


__ADS_3

Indonesia,2020


Aldo hari ini merasa ingin cepat pulang, entah tidak tahu ke napa tapi Aldo merasa hari ini ingin cepat-cepat pulang. Pekerjaan yang menggunung di hari sebelumnya mungkin jadi alasan Aldo untuk cepat pulang hari ini, di tambah Ia memang sudah lelah. Badannya yang lengket juga menambah Ia begitu malas untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tidak ada habisnya.


Aldo menatap ke luar jendela mobilnya, jam 4 sore adalah waktu yang padat bagi pengguna jalan. Apalagi orang-orang dengan wajah lelah mereka akibat pekerjaan yang menuntut untuk di selesaikan. Aldo tersenyum senang, kala tidak ada ke macetan di perjalaan pulangnya hari ini.


"Dahlan." Dahlan menatap Aldo lewat kaca depan kemudi sebelum menjawab Aldo.


"Ya, Tuan?" Aldo menghembuskan nafas pelan.


"Aku ingin mampir ke toko bunga, berhentilah jika Kamu melihatnya." Dahlan sedikit terkejut dengan perintah Tuannya namun Ia tetap mengangguk. Tidak ingin merusak mood bossnya yang sedang baik akhir-akhir ini. Di tambah dengan Email yang datang dari Nonanya, hingga membuat tampilan Aldo begitu berbeda. Namun Dahlan tidak akan menanyakan alasan Aldo mampir ke toko bunga.


Dahlan melajukan mobilnya perlahan membelah jalanan. Ia menepikan mobil saat matanya menangkap sebuah toko bunga yang ada di sebelah jalan.


Aldo berjalan ke luar dari mobilnya saat mobilnya sudah terparkir rapi di depan sebuah toko bunga. Meski tampilan Aldo begitu berantakan tapi tidak juga melunturkan ke tampanan pada pria yang sebentar lagi akan di panggil dengan sebutan Daddy itu. 


Rambut panjang yang menutupi dahinya membuatnya semakin terlihat menjadi lelaki matang yang gagah. Setiap langkah yang di ambil Aldo membuat banyak wanita yang juga mengunjungi toko bunga itu mendadak terpaku. Apalagi melihat raut wajah Aldo yang begitu serius melihat bunga-bunga yang ada di hadapannya. Menimbang-nimbang akan jatuh di pilihan bunga apakah Aldo menentukan pilihannya?.


Seorang wanita yang Aldo tahu adalah pemilik toko bunga menghampirinya.


"Tuan, mau bunga yang mana?" tanyanya dengan senyum ramah. Aldo tersenyum menanggapi wanita yang berumur sekitaran umur Safanya itu.


"Oh maaf, apakah Saya bisa memilih bunga yang warna kuning itu?" wanita itu menatap arah telunjuk Aldo, wanita itu tersenyum.


"Tentu Tuan, berapa tangkai bunga krisan kuning yang Anda butuhkan?".


" Bisakah Saya minta Anda buatkan sebucket besar?" wanita itu mengangguk mengiyakan lalu segera berlalu dari hadapan Aldo guna membuatkan apa yang Aldo inginkan.


Sebucket bunga krisan kuning telah berada di tangan Aldo, Aldo segera masuk ke dalam mobilnya. Entah apa yang Aldo pikirkan, yang jelas Ia lebih ingin membeli bunga itu sendiri hari ini. Tanpa harus meminta tolong pada Dahlan. 


****


"Jona." suara Aldo memanggil kepala maidnya membuat Jona segera menghampiri sang majikan.


"Ya Tuan?" Jona menerima sebucket besar bunga krisan kuning di tangannya dari Aldo.


"Tolong Kau tata di kamarku." Jona segera mengangguk saat perintah dari Aldo selesai pria itu lontarkan. Jona masih menatap punggung Aldo yang menaiki tangga.

__ADS_1


"Apa ada ke jelasan Tuan?" Dahlan yang sadar akan pertanyaan yang terlontar dari Jona di berikan padanya hanya mampu menggeleng. Jona membuang nafas dan dengan begitu Ia hanya harus menyiapkan apa yang di perintahkan Aldo padanya.


Aldo sendiri masuk ke dalam kamarnya dengan melempar tas kerjanya di ranjang lalu jasnya, setelah itu Aldo berjalan mendekati jendela dengan tirai tipis yang tertiup oleh angin di sore hari ini. Aldo mengernyit saat angin malah semakin kencang menerpa tirainya, apalagi sore hari ini sinar senja tepat mengenai sebuah bayangan seseorang.


Aldo memijit pelipisnya lalu tubuhnya terpaku saat Ia menyadari pikirannya, bayangan seseorang? Aldo dengan cepat menyibak tirainya, di sana Aldo dapat melihatnya. Walau dengan lengan yang Ia ayunkan ke kepalanya guna menghalau sinar senja memastikan matanya atas objek yang baru saja sedikit Ia kenali.


Aldo tidak tahu juga sejak kapan pintu kamar yang menuju balkonnya di buka. Fokusnya saat ini ada pada objek yang ada di depannya, lengannya jatuh turun lurus dengan badannya. Sinar senja tidak lagi menjadi penghalang saat objek di depannya itu menarik ke dua sudut bibirnya menatap Aldo.


Deg Deg Deg Deg


Jantung Aldo berdetak tidak karuan, Aldo menahan senyumnya. Aldo melangkahkan kakinya mendekat ke arah objek yang benar-benar telah di tunggunya beberapa bulan ini.


Objek yang Aldo lihat kini perlahan berputar menatap ke arahnya.



"Tidak merindukanku?" Aldo menggeleng saat suara itu mengalun menerobos indera pendengarannya.


Tidak butuh lama Aldo sampai tepat di hadapannya.


Tubuh Aldo mematung, rasa hangat menyeruak memenuhi seluruh badan Aldo.


"Tidak ingin membalas pelukanku?" Aldo tersenyum. Tangannya membalas, dengan erat Ia memeluknya.


"Tetaplah tinggal!" ini sebuah perintah membuatnya terkekeh.


"Kau masih saja menyebalkan." Aldo menguraikan pelukannya namun ke dua tangannya masih bertengger di pinggang ramping wanitanya.


"Al." Aldo hanya berdehem sebagai jawabannya karena mata Aldo fokus pada istrinya, ya! Jejenya sudah ada di dekapannya sekarang.


"Ke napa Kamu tidak pernah mengatakan kalau Kamu mencintaiku?" Aldo mengusap puncak kepala Jeje, Aldo ingat saat setiap kali pria itu mengirimkan potret dirinya hanya rindu yang Ia ungkapkan. Ya rindu ingin segala pada wanita itu.


"Untuk apa Aku mengungkapkan rasa cinta sedang Kamu tidak ada di hadapanku, Aku ingin seperti ini. Saat Kamu ada dalam pelukanku Aku baru mengatakan kalau Aku benar-benar mencintaimu." pipi Jeje merona, Jeje kira Aldo tidak mencintainya lagi.


Jeje semakin mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih telah menungguku." Aldo menggeleng.

__ADS_1


"Terima kasih karena mau kembali ke pria egois sepertiku." Jeje hanya mengangguk saja di ceruk leher Aldo. Tidak ingin berdebat dan merusak moment mereka.


****


Ke datangan Jeje, Nona mereka di mansion Tuannya membuat semua heboh menyiapkan segalanya.


"Al." Aldo tersenyum kala Jeje salah tingkah, sejak tadi Ia menatap Jeje takut kalau Ia berkedip saja wanita itu pergi lagi.


"Hm?" Jeje berdecak.


"Ke napa menatapku begitu?".


"Hanya ingin." jawaban Aldo yang ringan membuat Jeje mendekati suaminya itu.


"Lalu?" alis Aldo tertarik ke atas.


"Lalu? Ada apa dengan pertanyaanmu itu?" Jeje terkekeh.


"Tidak jadi, oh ya? Bunga ini?" Aldo kini yang salah tingkah mendengar pertanyaan Jeje yang menanyakan perihal bunga yang sekarang tengah memenuhi kamar mereka.


Di vas-vas besar itu semua bunga yang tadi di beli Aldo sudah di tata rapi oleh Jona.


"Entahlah, sepulang kerja tadi Aku ingin membelinya. Mungkin firasatku mengatakan kalau Kamu pulang hari ini." Jeje mengangguk.


"Aku menyukainy, bunga krisan kuning dan putih adalah bunga favorite ke duaku setelah bunga lyly.".


"Sini." Aldo menepuk pahanya, Ia tidak ingin hanya dekat dengan istrinya. Jeje menurut, dengan perlahan duduk di pangkuan Aldo dengan kepalanya yang bersandar pada dada bidang suaminya itu.


"Kamu tidak ingin menyapanya?" tangan Jeje mengarahkan tangan besar Aldo pada perutnya yang sekarang terdapat buah hati mereka.


Astaga! Aldo sampai lupa dengan ke hadiran calon anaknya. Dengan segera Aldo mengusap sayang buah hati mereka. Menanyakan pada Jeje semua hal yang Jeje alami selama Aldo tidak berada di samping wanita itu. 


"Aku mencintaimu Jessica Anora Kelvin.".


Madiun,07/07/20


Tetap dukung karya Author ya, jangan pelit boom like dan Votenya..

__ADS_1


__ADS_2