Future Husband

Future Husband
End


__ADS_3

***Kalau mau ada extra partnya, kalian harus Vote sebanyak mungkin ya..


**Besok gak ada Up jika belum banyak Vote yang terkumpul..


Terima kasih yang udah kasih Vote dan gak segan keluarkan poin serta koinnya*****..


Aldo menghapus air mata yang tergenang di ujung pelupuk matanya dengan ibu jarinya saat Ia melihat pergerakan kecil calon bayi yang sedang nyaman berada di dalam perut istrinya. Ini kali pertama Ia melihat sendiri si calon bayi, haru memenuhi relung hatinya. Rasa hangat menjalar di sekujur tubuhnya, tangannya juga tidak berhenti menggenggam erat tangan Jeje yang juga dengan erat menggenggam tangannya. Ibu jari Jeje mengusap sebagian punggung tangan Aldo membuat pria dingin itu menatap istrinya.


Wajah bahagia juga terpancar dari sang isteri. Mungkin ini adalah hal paling indah dalam hidup Aldo selain bertemu dengan Jeje.


"Happy?" pertanyaan tanpa suara Jeje membuat kepala Aldo mengangguk. Siapa orang tua yang tidak bahagia melihat buah hatinya dapat tumbuh dengan baik dan sehat. Apalagi ini anak pertama mereka, ya walaupun mereka punya banyak anak yang juga tengah melihat Adik mereka di depan layar. Tapi sensasinya jelas berbeda, sensasi menjadi Daddy dari anaknya sendiri. Anak yang berproses dari benih yang Aldo tanam dalam rahim istrinya.


Memiliki anak dari rahim wanita yang begitu di cintai adalah harapan semua suami di dunia ini. Meski di cerita telenovelapun sama, jika menikah paksa juga mereka tetap mengharapkan ke hadiran anak di tengah keluarga mereka.


Jeje tersenyum, senyum dengan ke bahagian yang tidak dapat Ia gambarkan dengan apapun saat ini. Ia akhirnya bisa memiliki keluarga sendiri yang bahagia, keluarga yang benar-benar dapat Ia urus dan suami yang selalu menemaninya. Tidak lagi Ia harus takut ke luar rumah, persis saat Ia dalam masa anak dan remajanya. Ia punya keluarga tapi tidak dapat terus bercengkrama dengan mereka. Ini angan-angan Jeje, menikmati hidupnya yang normal layaknya orang-orang. Ini adalah saatnya, jikapun masih ada orang yang mengincarnya mereka tidak akan mendapatkan apapun. Karena semua harta itu sudah Jeje bagi rata pada Kakaknya Alan Aldo dan juga semua anaknya, meski mereka semua tidak tahu apa yang ada dalam otak Jeje saat ini. Semua itu masih rahasia dan hanya Jeje yang tahu.


Jeje tidak berniat meninggalkan keluarganya, Ia akan mempertahankan semua bahagianya saat ini. Bukankah semua orang menyetujui bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga? Dan menurut Jeje itu benar adanya. Ayah mencari uang untuk siapa? Pasti untuk istri dan anaknya, apa mereka bukan keluarga? Seorang Ibu single parent mencari uang demi bisa menyekolahkan anaknya untuk apa? Demi masa depan anaknya bukan? Apa hubungan antara Ibu dan anak bukan keluarga? Mereka keluarga dan keluarga yang Jeje bangun saat ini sudah cukup membuatnya bahagia. Suami yang mencintainya, anak-anak yang luar biasa dan juga calon anaknya sendiri yang sedang tumbuh dalam rahimnya. Apalagi yang Jeje butuhkan? Harta yang Ia kumpulkan dari remaja hingga Ia belum bertemu dengan Aldo sudah mampu menghidupinya sampai Ia mati. Tidak perlu menyusahkan anak-anaknya harta Jeje sendiri mampu menghidupinya, dan Aldo juga tidak mungkin membiarkan Jeje menderita hidup bersamanya. Jeje percaya pada suaminya yang dingin itu.

__ADS_1


Suami yang tidak pernah Jeje bayangkan akan hadir lebih cepat dalam hidupnya. Suami yang tidak pernah Jeje perkirakan akan begitu mencintanya setulus dan sebesar Aldo ini.


Suami yang tidak pernah Jeje duga akan menerima anak-anak yang tidak pernah Aldo tanyakan dari mana mereka.


Suami yang tidak pernah Jeje pikirkan akan membuat hatinya bergetar hingga Ia juga merasakan apa yang namanya cinta itu sesungguhnya.


"Mom" Jeje menatap Will yang tersenyum padanya.


"Ya?" Will seperti menatap Jeje dengan wajah penasaran.


"Apa Mom dan Dad tidak ingin mengetahui jenis kelamin Adik kami?" mereka semua mengangguk antusias. Sepertinya mereka begitu penasaran akan jenis kelamin sang Adik.


"Tanyakan saja pada Daddy kalian." Aldo menatap istrinya bingung.


"Ke napa padaku?" tanya Aldo karena sejak tadi Ia tidak memperhatikan percakapan mereka. Fokusnya hanya pada seseorang yang masih nyaman bergerak di dalam perut Jeje.


"Apa Dad tidak penasaran dengan jenis kelamin Adik, Dad?" Aldo tersenyum kemudian atas pertanyaan Will.

__ADS_1


"Bagi Dad, baik laki-laki ataupun perempuan sama saja. Ada kalian yang sudah memenuhi isi rumah, menjadikan rumah Dad dan Mom penuh dengan ke bahagian. Apa Dad boleh memprotes akan karunia Tuhan?" mereka menggeleng kompak, mereka sudah tahu akan maksud dari ucapan Aldo kali ini.


"Dad tidak ingin meminta lebih pada Tuhan, Dad seharusnya sudah banyak mengucapkan syukur atas semua ke bahagian ini. Bertemu dengan Mommy kalian, memiliki kalian semua dan calon bayi Dad sendiri. Apalagi?" semua terharu mendengar ucapan Aldo. Ya benar? Apalagi kurangnya keluarga mereka? Tuhan sudah begitu baik memberikan semuanya pada mereka. Jovan dan Jonas dengan cepat memeluk Aldo, mereka bahagia akhirnya memiliki Daddy sebaik dan setulus Aldo. Manusia dingin dan menyebalkan kata Mommy mereka, dulu.


"Adakah Dad lain yang sebaik Daddy Aldo?" tanya Jovan.


"Aku rasa Daddy Aldo adalah satu-satunya Daddy yang sangat baik." timpal Jonas. Aldo terkekeh dengan membalas pelukan si kembar, mengusap punggung ke duanya naik turun.


"Dad menyayangi kalian, jangan pernah berpikir bahwa Dad bukan orang tua kandung kalian. Bagi Dad ada darah Dad atau tidak dalam tubuh kalian, kalian adalah harta yang tidak dapat Dad tukar dengan apapun. Apa kalian mengerti?" Jovan dan Jonas semakin mengeratkan pelukannya. Mereka tidak ingin melepaskan Aldo, mereka begitu bahagia. Merasakan mempunyai seorang Daddy yang telah lama mereka idamkan. Mereka tidak menyangka jika Daddy mereka akan setampan sebaik dan juga setulus Aldo. Lagi-lagi mereka tidak akan pernah bosan mengagumi sosok Aldo sebagai Daddy mereka.


Sayang pada semua anak yang Jeje adopsi, bagi mereka juga apa yang kurang? Di pungut dari jalanan, mendapat akta dari seorang remaja yang menyekolahkan mereka. Mengurus dengan sepenuh hati, memberikan ke mewahan yang lebih dan sekarang Mommynya baik hati itu memberikan Daddy yang menyayangi mereka. Tuhan sudah mengangkat derita mereka saat di jalanan.


"Terima kasih Mom, Dad" Jeje sudah meneteskan air matanya, astaga hormon Ibu hamil membuatnya begitu cengeng akhir-akhir ini.


"Hug Mom please?" entah pada siapa Jeje meminta anaknya untuk memeluk tubuhnya yang sudah duduk di atas brankar, tapi semua anaknya mencoba untuk memeluknya dengan saling memeluk satu sama lain. Tidak tertinggal Aldo ikut serta dalam pelukan itu. Oh Tuhan terima kasih atas ke baikan ke hangatan dan juga ke bahagian ini. Semoga semua akan seperti ini terus dan selamanya


Madiun,17/07/20

__ADS_1




__ADS_2