Future Husband

Future Husband
Bab 24


__ADS_3

Wajah kesal terlihat jelas dalam diri Revan. Tetapi hatinya masih terasa berdebar ketika berhadapan dengan wanita itu.


"Ngapain Lo masuk sembarangan ke kamar gua" ujarnya marah.


"Gua kan udah biasa masuk ke kamar Lo" ujar Diandra tanpa merasa bersalah.


"Diandra, kita udah gede, lo gak bisa masuk seenaknya aja ke kamar gua sekarang" tegas Revan.


"Kenapa Van, lo gugup? jawab Diandra dengan nada bercanda.


"Sebaiknya Lo keluar dari kamar gua sekarang" ujar Revan.


Bukannya keluar dari kamar Revan, Diandra semakin mendekati Revan. Tentu saja Diandra tidak percaya Revan semudah itu melupakan dirinya.


"Lo tau gak gua pindah ke sekolah Lo" Diandra berusaha memulai percakapan.


"Gua gak peduli" ujar Revan.


"Lo gak berubah ya Van, masih kekanakan, hahaha" balas Diandra sambil tertawa.


"Lo masih mikirin masa lalu kita, gua tahu gua salah, tapi gua berhak dikasih kesempatan kan Van?" tanya Diandra.


Revan hanya diam tak menghiraukan perkataan Diandra. Dia kembali menatap ke luar jendela seakan Diandra tak ada di kamarnya.

__ADS_1


"Harusnya lo nanya alasan gua dulu ninggalin lo" ujar Diandra.


Setelah beberapa saat ada keheningan diantara mereka. Revan hanya terdiam, tetapi hatinya berkata bahwa ia juga ingin tahu alasan Diandra meninggalkannya dulu.


"Kenapa?" tanya Revan setelah mengumpulkan kekuatannya untuk menanyakan hal tersebut.


Diandra tersenyum menang, satu hal tidak berubah dari kepribadian Revan yaitu rasa ingin tahu. Tentu saja Diandra juga masih menyukai Revan.


"Gua gak mau lo selalu bergantung ke gua Van, lo berhak menemukan kebahagiaan Lo yang lain" ujar Diandra.


"Gua gak mau lo hanya punya gua tanpa melihat ke orang lain" lanjutnya lagi.


Revan tertegun, dia tidak dapat menyalahkan kata-kata Diandra tetapi ia juga tidak terima dengan cara Diandra. Bagaimana pun juga dia begitu terpukul saat Diandra meninggalkan dirinya.


"Walaupun alasan lo itu demi kebaikan gua, lo gak seharusnya meninggalkan gua" ujar Revan dengan tegas.


Diandra terdiam, terlihat raut wajah bersalah dalam dirinya. Dia benar-benar menyesal dengan keputusannya meninggalkan Revan.


"Gua ngaku salah Van, tolong maafin gua, kita biasakan berteman akrab seperti dulu lagi?" pinta Diandra.


Revan hanya menatap Diandra sejenak, dia tahu Diandra meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Dia mengenal wanita itu dengan baik sejak kecil.


"Gua maafin lo, tapi untuk menjadi sedekat dulu, gua gabisa jawab sekarang" jawab Revan.

__ADS_1


"Gak masalah Van, cepat atau lambat kita akan dekat kembali" ujar Diandra percaya diri.


"Yaudah, gua balik dulu ya, siap-siap aja setiap hari ketemu gua lagi" ucap Diandra.


Diandra setengah bercanda menunggu Revan membalas kalimat terakhirnya. Tetapi ia hanya melihat Revan yang hanyut dalam lamunan. Diandra tersenyum, hanya waktu yang dapat menyatukan mereka kembali.


•••••


Tepat pukul 20.00 Mama dan Papa telah sampai ke rumah. Wajah Mama lihat sangat cerah dengan polesan make up yang tipis.


"Surprise" sambut Lina seraya memeluk erat mereka.


"Ayo kita makan bersama, si Mbok sudah memasak makanan kesukaan Papa" ucap gadis itu semangat.


"Just Daddy? How about me?" balas Mama mengerutkan keningnya.


Mereka tertawa bersama melihat reaksi Mama. Malam hari yang indah ini mereka habiskan dengan makan bersama dan bercerita tentang hal menarik yang membuat mereka tertawa.


Lina benar-benar merasa bahagia setelah semua berlalu. Wajah Papa dan Mama terlihat bahagia juga. Terkhusus Mama, selama dua minggu ini Lina hanya melihat kesedihan di raut wajah Mama.


Sekarang Mama terlihat lebih cantik dan memesona. Tak lupa Lina bersyukur pada yang di atas untuk segala nikmat yang diberikan.


Malam semakin larut, tetapi mata Lina tetap cerah seakan tidak ingin tidur. Gadis itu menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Papaku telah keluar dari rumah sakit" Lina mengirimkan tiga pesan yang sama kepada tiga orang yang berbeda, mereka adalah Mirna, Revan dan Leo.


__ADS_2