Future Husband

Future Husband
Anak-Anak


__ADS_3

"Al, mereka semua adalah anakku."


Aldo memijit keningnya yang terasa berdenyut, satu kalimat yang mampu membuat Aldo shock bukan main. Aldo menatap isterinya tegas.


"Apa maksud semua ini Je?" Je? Jeje merasa panggilan Je dari Aldo merupakan sesuatu yang tidak baik. Biasanya pria itu akan memanggilnya dengan kata sayang, tapi apakah Aldo tidak menerima mereka? Lalu apa yang harus Jeje lakukan?.


Aldo duduk dengan pandangan terus menatap semua orang baru yang ada di hadapannya. Aldo mendengar satu pertanyaan yang mampu menyayat hatinya.


"Mom, apa Dad tidak menerima kami?".


Aldo membuang nafas lalu menatap dua bocah kembar yang sekarang memeluk Jeje, seolah takut pada Aldo. Aldo akan bicara nanti pada isterinya, tapi untuk sekarang ia ingin mengenal mereka semua. Dengan pandangan yakin tertuju pada dua bocah yang sangat mirip itu, Aldo melambaikan tangannya pada ke duanya


" ke mari!".


Aldo melihat Jovan dan Jonas yang menatap Jeje sekilas, setelah mendapat anggukan dari Jeje ke duanya berjalan mendekati Aldo yang masih dengan tatapan tegas. Tapi setelah mereka sampai di hadapan Aldo mereka melihat senyum pria yang sekarang menjadi Daddy mereka. Senyum hangat seorang Daddy walau mereka tidak tahu, seperti apa senyum seorang Daddy sebelumnya. Tapi melihat senyum Aldo yang begitu tulus membuat ke duanya tanpa ragu mendekati Aldo.


"Apa kalian tidak ingin memeluk Dad?" terasa asing di lidah Aldo dengan panggilan baru untuknya, tapi melihat mereka yang tersenyum dan segera menubruk tubuhnya saat Aldo merentangkan tangannya membuat Aldo merasa bahagia. Entah! Aldo merasa kembali hidup lebih lagi. Aldo mengusap kepala belakang ke duanya dengan sayang, mencium mereka secara bergantian. Jovan dan Jonaspun sama, mereka memeluk Aldo begitu erat. Sungguh membahagiakan mempunyai Daddy.


"Ke napa kalian tidak datang pada Dad, saat kalian tahu bahwa kalian punya Dad sekarang?" pandangan Aldo jatuh pada Will. Will sendiri menatap Jeje, Aldo menatap isterinya itu yang malah menatap tajam Will. Seolah memperingati pria tampan yang tadi Ia kira adalah dirinya.


"Kamu punya banyak penjelasan Sayang." satu kalimat tegas yang membuat Jeje merinding. Hanya Aldo, hanya Aldo yang mampu mengintimidasi seorang Jessica Anora Kelvin.


"Aku akan menjelaskan semuanya nanti, Aku sudah berjanji padamu bukan?" Aldo mengangguk.


"Kalian semua jadi anakku?" mereka semua mengangguk menatap pada Aldo.


"Dia menantumu Dad, dan Dia mengandung cucumu." astaga! Apalagi ini? Jeje memijit pelipisnya, jika bukan karena ke nakalan Lian mungkin Ia masih sangat terlihat muda.


"Cucu?" Aldo merasa, Ia mempunyai anak-anak saja sudah begitu shock. Dan ini? Cucu? Oh ya Tuhan. Semua orang yang bekerja pada Aldo juga ikut terkejut, bukan saat kata-kata Lian tadi saja. Tapi saat mengetahui Tuannya memiliki banyak anak yang tidak mereka ke tahui dari mana asalnya.


"Maafkan Lian Dad." Lian berkata sungguh-sungguh pada Aldo. Dan Jeje akan sedikit bersyukur, sepertinya Lian sangat takut pada Aldo selain Lian takut pada Bastian.


Aldo menggeleng.


"Tidak Son, Aku pernah merasakan muda juga." Aldo masih belum hafal dengan nama anak-anaknya jadi Ia akan memanggilnya dengan panggilan umum.


"Bukan Aku menghamili seorang wanita. Mommy kalian yang pertama. Sungguh!" Aldo segera mengoreksi ucapannya saat mata Jeje sudah sangat tajam menatap dirinya.


"Tapi terkadang, mengendalikan hormon seorang pria itu memang susah. Apalagi saat Kamu belum menemukan jati diri dan Kamu sudah mencintai seseorang begitu dalam. Kamu harus menjaganya." Lian tersenyum pada Aldo, Lian merasa Aldo begitu easy terhadapnya. Benar-benar ayah idaman.


"Aku yakin kalian sudah bekerja." pandangan Aldo jatuh pada Will Roman Marcell Lyly dan Lian.

__ADS_1


"Will adalah ilmuwan." kali ini Jeje yang angkat bicara, saat Will akan menjawabnya.


"Dia yang membuat alat-alat yang di gunakan untuk menyamar, seperti topengmu itu. Lalu Dia juga yang sering merusak jaringan dan meretasnya.".


" Roman adalah pengacara pribadiku, apa Kamu tidak ingat dengan wajahnya?" Roman tersenyum lalu memakai sebuah kaca mata yang dapat merubah bola mata serta suaranya. Aldo dan Dahlan tiba-tiba saja terbatuk bersamaan.


"Kau, Kau bukannya pengacara dari pencipta ponsel yang dulu-." Roman segera mengangguk.


"Ya, Dad. Dan Mommy adalah penciptanya." secepat kilat kepala Aldo berputar pada Jeje yang menggaruk tengkuknya. Kepala wanita itu menunduk salah tingkah.


Aldo mulai berpikir bahwa ada unsur ke sengajaan Jeje tidak menyeret perusahaannya saat itu. Jadi semua ini ulah Jeje juga.


"Banyak penjelasan yang harus Aku dengar Sayang." Jeje hanya pasrah dengan ucapan menuntut Aldo.


"Aku Marcell Dad, orang yang bertemu Paman Dahlan saat di Russia." kali ini mata Aldo menajam pada Dahlan.


"Paman Dahlan tidak bersalah Dad, Ia menemuiku saat di rumah sakit. Aku ke betulan Dokter sama seperti Mom di rumah sakit Kelv saat Dad ke sana." Aldo mengangguk saja. Lagian tidak masalah jika Dahlan menemui Marcell, toh sekarang isterinya benar-benar kembali.


"Aku Lyly Dad, dan Aku merupakan Dokter kandungan?" Aldo tersenyum simpul pada Lyly, di sana Lyly merupakan puteri satu-satunya selain wanita yang tengah hamil di pelukan Lian.


"Briliant Dad, Dad bisa memanggilku Lian saja. Aku mahasiswa." mata Aldo melebar, namun Ia maklum saja. Memang begitulah ke hidupan di sana, beda jauh dari Indonesia.


"Apa Kamu berasal dari sini?" Lian mengangguk.


"Aku Jo-" Aldo segera menggeleng.


"Tidak usah berkenalan lagi jagoan, Dad yakin kalau kalian masih suka membeli banyak mainan." semua tertawa tapi tidak dengan Jovan dan Jonas yang mengerucutkan bibirnya sebal. Aldo terkekeh lalu mengacak-acak puncak kepala ke duanya.


"Ish Dad." lagi Aldo terkekeh.


"Apa mainan yang kalian sukai?" mereka tersenyum.


"Apa Dad mau membelikannya untuk kami?" Aldo mengangguk.


"Yeee."  Jeje menatap interaksi ke duanya dengan hati bergetar bahagia. Ia sudah was-was saat Aldo dingin pada mereka tadi.


"Tapi ada satu syarat." mereka semua, ya semua menatap Aldo.


"Malam ini Mom akan Dad pinjam, tidak ada yang boleh mengganggunya." mereka dengan cepat mengangguk membuat Jeje mendesah pasrah.


"Itu mudah Dad." jawab si kembar.

__ADS_1


"Lalu dengan topeng penyamaran itu? Untuk apa Kamu membuatnya Will?" glek Jeje menelan air ludahnya susah payah. Jeje menatap Will agar tidak menjawab, tapi sayang. Will tersenyum pada Aldo membuat Jeje kembali harus pasrah.


"Sebenarnya Aku marah pada Mom Dad, saat Aku menyamar menjadi dirimu, Aku dan Mom menjalankan sebuah misi.".


"Misi apa?" Will tersenyum mengejek pada Jeje atas ke ingin tahuan Aldo, sedangkan Jeje hanya mampu menyandarkan punggungnya pada headtender sofa dan menengadahkan kepalanya menatap langit-langit. Jeje sudah menanti detik-detik Will akan melemparkan bom nuklir seukuran buah kelengkeng dan Jeje akan mati malam ini juga.


"Misi yang seharusnya untuk menyelamatkanmu dan juga asetmu." Aldo tidak paham dengan perkataan Will dan juga semuanya, karena memang Will menyembunyikan misi ini pada Adik-adiknya. Tapi untuk kali ini saja, Will sudah geram pada Mommynya itu.


"Maksudmu? Dad sama sekali tidak mengerti." Will mengangguk.


"Baiklah Dad, dengarkan Aku!" Aldo mengangguk, bertanya akan menghambat dan memperlambat Will bercerita.


"Kemarin Aku menyamar sebagai dirimu karena Mom mengatakan padaku jika musuhmu menargetkan dirimu dalam masalah, Mom berkata bahwa musuhmu menyewa sniper handal untuk menghabisimu di sebuah pesta." mata Aldo melebar, yah Dia juga berencana mengantisipasi sniper itu, atau jangan-jangan sniper itu juga menargetkan Jeje. Tangan Aldo terkepal kuat hingga kukunya memutih karena amarah yang tertahan.


"Jadi Aku menyamar sebagai dirimu untuk mengelabuhi mereka, tapi saat Aku menjalankan misi itu bersama Mom. Aku baru menyadari jika Mom telah membohongiku." semua terkejut, Rom dan anak-anak Jeje yang lainnya menatap Jeje. Baru kali ini Jeje berbohong mengenai sebuah misi penting.


"Mom berkata bahwa Dad adalah target dan Mom akan menjadi tawanannya. Tapi itu semua sebaliknya, saat Aku berpisah dari Mom. Mom memberi tahuku bahwa Mom adalah target dan Dad yang Aku perankan adalah tawanan. Dan Dad tahu apa yang terjadi?" Will menatap tajam Jeje.


"Saat Aku jauh dari Mom, Aku mendengar dua kali tembakan. Aku kira itu Mom, tapi ternyata hanya seseorang yang tertembak karena ke nakalan Mom." mata Aldo melebar, Aldo meminta si kembar duduk di tempatnya sedangkan Ia mendekat pada Jeje. Berjongkok di hadapan wanita yang terkejut karena ke bohongannya akan di bongkar habis oleh Will.


"And then, apa Kamu terluka?" satu pertanyaan yang tidak pernah Jeje duga akan ke luar dari bibir suaminya. Jeje membalas genggaman tangan Aldo di pahanya.


Jeje memberikan senyum termanisnya.


"Kau lihatkan, Aku ke mari tidak pincang?" Aldo mendengus dan Jeje terkekeh.


"I know, tapi Aku sedang tidak ingin bercanda. Apa Kamu tahu? Asetku sama sekali tidak berharga, Sayang. Asal Kamu mau kembali itu sudah cukup menjadi ke bahagiaanku." Jeje mengeratkan genggamannya.


"Aku mengerti, Aku baru menyadarinya saat Will mengatakan hal yang sama sepertimu." Aldo menatap Will.


"Terima kasih Son.". Will mengangguk.


"Kami juga mencintai Mom kami Dad, dan kami juga tidak ingin ke hilangannya." Aldo mengangguk paham, mereka yang sedari kecil bersama Jeje.


"Tapi jangan Kamu lupakan untuk menjelaskan semuanya nanti." Aldo berdiri dan melepaskan genggaman tangannya pada Jeje, membuat Jeje mendengus kesal. Jeje kira Aldo akan lupa dengan sikap manisnya barusan, hanya angan.


"Jona, Kamu siapkan makan malam untuk anak-anak." Jona mengangguk dan semua maid berjalan ke luar menuju dapur.


"Baik Tuan.".


Madiun,10/07/20

__ADS_1




__ADS_2