
Jangan lupa kasih Vote yang lebih ya, udah di kasih extra part lohhh...
Will berjalan tergesa ke arah Jeje yang sedang berada di ruang makan sore ini. Penampilan wanita itu selalu sederhana dan juga rumahan sekali, Jeje memutuskan fokus mengurus rumah setelah hamil tua.
"Mom." Jeje menatap Will dengan alis terangkat sebelah. Melihat Will yang penampilannya terlihat sangat berantakan dan tergesa.
"Ada apa Will?" tanya Jeje lembut, Will berdecak atas sikap ke pura-puraan Mommynya.
"Mom jangan pura-pura." Jeje merasa bingung akan pertanyaan yang terlontar dari bibir Will.
"Pura-pura?" pertanyaan besar muncul dalam benak Jeje kala melihat wajah muram Will apalagi wajah itu juga terlihat nampak lelah yang tidak bisa lagi Will sembunyikan.
"Aku sangat terganggu dengan wanita itu Mom, tolong Mom kembalikan Dia ke tempat asalnya." Jeje tahu wanita yang di maksud Will namun Ia pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Will. Pura-pura bodoh dan wajah serius adalah pilihan Jeje kali ini.
"Wanita siapa?" Will menahan geramannya, jika saja bukan Jeje lawan bicaranya pasti dengan senang hati Will akan mematahkan tangannya. Tapi ini Jeje, Mommynya juga orang yang paling Will lindungi seumur hidupnya.
"Pinka Mom, please jangan suruh Dia membuntutiku dan menggangguku." nada Will memohon tapi tidak dengan raut wajah pria itu yang terlihat kesal. Jeje terkekeh, di sana juga ada bocah perempuan kecil yang mirip sekali dengan Jeje. Menatap Will yang kesal membuat gadis itu juga ikut terkekeh.
"Alica, berhenti mengejekku gadis kecil!" gadis itu mendengus.
"Apa salahku? Aku hanya mengikuti Mom." jawab gadis itu pura-pura bodoh, atau lebih tepatnya Ia memang sengaja memprovakasi Will.
"Mom." Jeje mengangkat bahunya.
"Apa Kau yakin terganggu dengannya Will?".
"Jangan langsung bicara atau menjawabnya Will, tanya dari hatimu. Apa Dia benar-benar parasit bagimu?" tambah Jeje saat Will akan dengan cepat menjawab pertanyaan Jeje.
Will berpikir sebentar, lalu dengan ragu Ia mengangguk. Jeje menatap puteranya dengan gelengan kepala.
"Tekan egomu Son, atau Kau akan ke hilangannya." Will tidak mampu menatap mata Jeje, Ia begitu ragu saat pikiran dan hatinya tidak bisa berdamai. Ia juga merasa bingung dengan ke beradaan pinka, wanita yang 3,5 tahun yang lalu tiba-tiba berbaring di ranjangnya.
Sungguh Will tidak tahu dari mana gadis itu berasal, ataukah kapan wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Will buntu akan jawaban mengenai Pinka, karena semua jawaban ada pada Jeje yang hingga kini tetap bungkam mengenai hal itu.
"Hidupnya penuh dengan ke pura-puraan Will, Ia pura-pura bahagia hanya untuk membantu orang tuanya. Apa Kau yakin ingin melepaskannya? Padahal Mom melihat Dia bisa tersenyum bahagia saat denganmu. Hidupnya berubah Will saat Dia ada di keluarga kita. Apa Kau yakin Kau terganggu?" Will kembali teringat akan curhatan gadis itu yang selalu Ia potong. Egonya yang terlalu tinggi membuat apapun yang di katakan Pinka seolah bualan semata.
Pernah gadis itu berkata sekali mengenai Dia yang akhirnya bisa bahagia walaupun untuk saat ini. Astaga! Bukan itu maksud Will, Ia sudah antisipasi semua wanita dan Pinka adalah gadis yang tahan akan semua pengusiran yang sering kali Will lakukan. Bahkan cara wanita itu begitu konyol saat ingin selalu bersama Will.
Jeje menatap Will untuk memastikan sesuatu.
"Dia akan kembali pada penderitaannya, jika Kau tidak berangkat dari sekarang menuju stasiun kereta bawah tanah." Will menggeleng, dengan cepat Ia berbalik. Berlari tanpa menyapa Aldo yang baru pulang dari kantor dan menatap Will dengan penasaran.
"Daddy." Aldo tersenyum. Kemudian Ia berjongkok untuk menyambut gadis kecilnya.
"Oh gadis kecil Daddy." setelah menangkap tubuh kecil Alica, puteri pertamanya. Aldo berjalan menghampiri isterinya. Memberikan kecupan singkat pada bibir tipis nan seksi Jeje.
"Apa yang terjadi?" Jeje tersenyum.
"Masa-masa mencari jati diri." Aldo menaikkan satu alisnya.
"Ke mana Pinka?" Jeje terkekeh.
"Sedang di jemput Will, jika Dia berhasil menjemputnya." Aldo semakin mencuramkan alisnya. Ia sama sekali tidak paham dengan ucapan isterinya.
"Daddy." Aldo menatap Alica yang ada dalam gendongannya, hingga Ia tidak bertanya lebih mengenai Will.
"Ya Sayang." Alica tersenyum lalu mengecup singkat pipi Aldo membuat Aldo terkekeh.
"Ada yang Kau inginkan?" Alica menoel-noel pipi Aldo membuat Aldo hanya mampu menggelengkan kepalanya. Alica sangat manja padanya, bahkan Ia akan memonopoli Aldo jika Aldo sedikit saja mengurangi atensinya pada gadis berumur 3 tahun itu.
"Daddy, Aku mau dede bayi." mata Jeje melebar sedangkan Aldo tertawa geli menatap isterinya.
__ADS_1
"Alica." tegur Jeje tapi sepertinya gadis kecilnya itu tidak menanggapi teguran Mommynya.
"Daddy ya, ya ya ya." katanya memohon membuat Jeje semakin memejamkan matanya.
"Baiklah, tapi sebelum itu Daddy ada sa-".
"Al!" peringat Jeje dengan geraman tertahan.
"Tapi sebelum itu Daddy ada satu permintaan." bukannya berhenti, Aldo semakin menggoda Jeje. Mata Jeje sudah menatapnya garang, tapi Aldo tidak melihat perubahan wajah dari isterinya itu.
"Apa Daddy?" pertanyaan exited Alica membuat Aldo semakin gencar menggoda Jeje.
"Bilang pada Kakak dan Adik-adik untuk tidak mengganggu Daddy dan Mommy sepanjang malam. Bagaimana?" Alica nampak berpikir keras.
"Ke napa Dad?" Jeje menatap galak Aldo yang malah terkekeh mengejek wanita yang memberinya banyak perubahan dalam hidupnya.
"Agar Daddy bisa membuat dede bayi dengan baik dan Kamu akan memilikinya dengan cepat, bagaimana? Apa Alica setuju?" tanpa pikir panjang gadis itu mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju, tanpa tahu bagaimana wajah masam Mommynya yang siap menerkam Aldo hidup-hidup.
"Ok Daddy, tapi janji buatkan dede bayinya ya?" Aldo bersikap hormat membuat gadis kecilnya memeluknya dengan erat.
Aldo menatap isterinya dengan menjulurkan lidah, Jeje semakin masam melihat ke dekatan ke duanya. Jika sudah seperti ini apa yang bisa Jeje perbuat? Ia hanya mampu pasrah dan berdoa semoga tanggal merahnya malam ini juga.
Flashback On
*Semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang keluarga di lantai dasar mansion Jeje yang ada di Russia. Hari ini Jeje mengumumkan mundur dari jabatannya sebagai pemilik perusahaan dan rumah sakit Kelv yang Ia kelola untuk di limpahkan ke anak-anaknya. Ke putusan Jeje sudah Jeje ambil karena ke hamilannya yang sudah menginjak 7 bulan, di mana perutnya sudah besar dan untuk bergerak sudah sangat susah Ia lakukan.
Ia sudah tidak mampu menangani kasus besar, seperti operasi bedah dan bepergian. Ke mampuan teleportnya juga sangat lemah karena ke hamilannya ini, takut Ia menyasar dan tidak bisa kembali. Makanya Jeje memutuskan untuk mundur dan bicara pada semua anaknya.
"Will, labmu sudah Mom buka." senyum terukir di wajah Will kala Jeje bicara mengenai labnya.
"Terima kasih Mom." ucap Will, semuanya ikut lega, lab itu adalah dunia Will. Dan ketika Jeje menutupnya bukan Will tidak merasa kecewa, tapi Will mengerti akan sikap Jeje pada semua anak-anaknya. Ke patuhan adalah kunci utama semua berjalan mulus saat berhadapan dengan Jeje, jika melanggar ya mereka harus menanggungnya.
"Will dan Kau, Rom." ke duanya menatap Jeje. Melihat senyum Jeje membuat mereka bertanya-tanya.
"Mom mundur dari kursi ke pemimpinan, kalian yang akan mengurusnya." mata mereka melebar, dengan cepat ke duanya menggeleng.
"Mom, ada apa ini? Ke napa Mom mundur?" Jeje tersenyum, genggaman di tangannya membuatnya menatap sang pemilik jari-jari panjang dan hangat itu.
"Mom akan mengurus rumah sebagai mestinya, ini ke putusan Mom. Tanpa Daddy yang ikut campur, Mommy mengandalkan kalian." Will paling tidak suka dengan hal ini. Will yakin ada sesuatu yang Jeje sembunyikan darinya.
"Aku tidak siap Mom." satu kata yang kemudian melenyapkan tubuh itu dari pandangan semua orang. Jeje memijit pelipisnya, dari dulu sekali. Will selalu menolak menggantikan posisinya, bukan sepenuhnya karena beberapa juga harus dengan persetujuan Jeje tapi reaksi Will selalu berlebihan.
"Rom, bagaimana denganmu?" kini Jeje beralih pada anaknya yang lain, yang masih satu bidang dengannya.
"Aku-".
" Aaaaaaaaa!!!" suara teriakan dari lantai atas membuat semua orang mendongak, dengan cepat semuanya berjalan ke arah lift guna melihat apa yang terjadi. Jeje di bantu Aldo dan sebagian lagi menggunakan tangga.
Semua sudah sampai lantai atas.
"Ada apa Will?".
" Kak, ada apa?" berbagai pertanyaan muncul saat semua orang melihat Will dengan mata melotot dan wajah frustasi. Di tambah lagi tangan Will yang menunjuk dalam kamarnya, Jeje melongokkan kepalanya. Melihat ke dalam, dan senyum terbit di wajah Jeje kala melihat apa yang membuat Will ke takutan.
Tidak hanya Jeje tapi juga semuanya ingin melihat ke dalam, melihat ekspresi shock lalu menatap Will penuh curiga membuat semua orang kini tahu apa yang membuat Kakaknya itu ke takutan bukan main.
"Mom, dari mana wanita itu?" Jeje menaikkan alisnya dengan ekspresi yang menuduh pada Will.
"Kau tidak salah? Ke napa bertanya pada Mom? Bukankah Dia ada di kamarmu?" kini Jeje mempertanyakan wanita yang ada di kamar puteranya itu.
Will mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak tahu Mom, kapan Dia datang Aku juga tidak tahu." pandangan semua orang mempertanyakan jawaban Will membuat Will semakin frustasi.
Will sangat anti terhadap wanita, bukan termasuk keluarganya. Hanya wanita di luar sana yang membuat Will selalu bergidik hanya menatapnya saja, dan sekarang ada seorang wanita yang sudah terbaring di ranjangnya tanpa memakai pakaian sehelai benangpun.
"Mom please?" nada Will memohon pada Jeje, Jeje menatap Aldo yang hanya mampu mengangkat bahu. Aldo sama sekali tidak tahu mengenai hal ini ke napa bisa terjadi.
"Kamu membawanya ke mari?" tanya Aldo, Will menggeleng tegas.
"Dad, Aku sama sekali tidak tahu siapa Dia. Sepulang dari pesta pernikahan temanku Aku langsung pulang." Jeje tidak perlu penjelasan Will, Ia sudah tahu dari mana wanita itu.
"Aku akan mengganti bajunya, Lyly. Kamu bantu Mom, semuanya kembali ke ruangan masing-masing. " Lyly mengangguk menyanggupi ucapan Jeje sedangkan yang lain mulai berjalan meninggalkan ruangan Will. Hanya Aldo yang tersisa, Jeje menatapnya dengan senyuman.
"Apa tidak masalah?" raut wajah Aldo terlihat was-was.
"Tidak akan ada yang terjadi, tunggu Aku di kamar." Jeje sengaja berucap lirih dengan nada sensual agar Aldo mau menurutinya. Aldo membuang nafas lalu mengangguk, perlahan meninggalkan ruangan Will.
"Will." William yang masih merasa kalut tersentak dengan panggilan Jeje.
"Ya Mom?".
" Kau ikut Mom!" mata Will melebar, mengikuti Jeje berarti akan masuk ke dalam dan melihat wanita itu lagi? Oh No.
"T-" mata tajam Jeje menghunus Will, dengan nafas kasar Will hanya mampu berjalan pasrah di belakang Jeje dan Lyly.
Jeje menatap wanita yang masih belum sadarkan diri itu dengan wajah prihatin. Tubuh yang sebenarnya indah itu harus mengalami banyak penyiksaan.
"Kamu sudah menyelamatkannya Will." alis Will berkerut dalam dengan apa yang di katakan Mommynya. Dan di sini Will dapat menyimpulkan jika Jeje tahu dari mana wanita itu.
"Mo-".
" Carikan kemejamu yang longgar." Will menggeleng membuat Jeje berdecak.
"Apa Kau suka melihat pemandangan ini? Menikmatinya huh?" Will tersentak, apa kata Jeje tadi? Menikmati? Will menggeram tertahan. Dengan langkah besar Will berjalan ke walk in closetnya lalu mengambil kemeja besarnya berwarna navy dan memberikannya pada Jeje.
Jeje melihat raut wajah Will yang benar-benar masam marah jengkel kesal dan semuanya dalam satu pandangan.
"Kau mau melihat atau ke luar?" lagi Will membuang nafas panjang, Jeje benar-benar membuatnya kualahan malam ini. Belum tuntas acara marahnya pada Jeje karena pengunduran diri wanita itu dan kini satu masalah lagi datang dan itu adalah ke salahannya, karena harus ke colongan. Sial bukan?.
"Mom tahu inikan?" tanya Lyly saat Will sudah ke luar, wanita berprofesi sebagai Dokter itu memberanikan diri bertanya.
"Mom akan lakukan hal yang sama jika Kau dan Marcell tidak kunjung berbaikan." pipi Lyly memerah saat bukan jawaban yang terlontar dari wanita yang tengah hamil 7 bulan itu. Lyly bukan tandingan Jeje jika harus berdebat, jelas Marcell bahkan Will saja kalah dalam menghadapi Jeje.
"Maaf Mom." Lyly fokus untuk mengganti pakaian wanita yang tertidur di kamar Kakaknya itu. Jeje menggelengkan kepalanya, masih tidak percaya jika sepasang anaknya akan saling jatuh cinta. Benar-benar lucu dan menggemaskan.
Jeje menatap wanita yang terlelap itu untuk kemudian Ia selimuti, setelah ke pergian Lyly dengan wajah yang benar-benar lucu. Malu bercampur salah tingkah akan ancaman Jeje, Jeje akan berbuat hal sedemikian jika nanti Marcell dan Lyly tidak kunjung bersama.
Jeje menggenggam tangan dingin wanita itu, pasti semalam adalah hal yang membahagiakan untuk wanita cantik ini. Bebas dari segala bahaya yang baru benar-benar akan di mulai.
"Tidak apa, sekarang Kamu sudah aman di sini." Jeje mengusap dahi wanita itu yang terlihat berkerut, seolah sama sekali tidak nyaman dalam tidurnya.
Jeje memandangi dengan teliti wajahnya yang cantik dan juga manis. Jeje berharap banyak padanya, merubah sifat Will yang sabgat anti dengan wanita. Semoga dengan hadirnya seseorang ini mampu membuat hati Will yang beku itu perlahan mencair dan mampu menyambut wanita yang kini lemah walau terlihat baik-baik saja.
Jeje tidak mengharapkan hasil besar dalam setiap perjuangannya, namun Ia tahu proses tidak akan menghianati hasil. Jadi berusaha adalah modal awalnya.
"Jadikan Dia pelindungmu, jangan sekalipun lari atau menjauh darinya " ucapan Jeje seperti mantra yang akan mengikat gadis misterius yang terbawa Will tanpa sengaja saat melakukan teleport. Ke kuatan teleport Will yang membuat baju wanita itu koyak dan hanya meninggalkan tubuh tidak sadarkan wanita itu*.
Flashback Off
Madiun,18/07/20
__ADS_1