
Udah panjang ya perpartnya, tapi antusias Votenya kok masih di bawah harapan ya??
Aldo tidur dengan bantalan paha Jeje, kepalanya menghadap perut yang sedikit menonjol milik Jeje yang tidak di tutupi apapun. Aldo yang memintanya karena Aldo ingin tahu perkembangan buah hatinya.
Jeje mengusap lembut kening Aldo hingga puncak kepala suaminya itu agar merasa nyaman. Ia juga sama sekali tidak ke beratan dengan permintaan Aldo yang ingin melihat perutnya, hingga Ia tidak memakai apapun selain bra dan underwear. AC sengaja di matikan agar Jeje tidak ke dinginan.
"Jadi apa penjelasanmu dengan semua ini?" tuntut Aldo yang ingin mendengar semua penjelasan dari Jeje.
Jeje hanya menanggapinya dengan memutar mata malas tapi Ia akan memulai ceritanya, semuanya tanpa ada yang Jeje tutupi lagi.
"Kamu ingin Aku mulai dari mana?" tanya Jeje, barangkali suaminya hanya ingin bertanya soal anak-anak nya atau mungkin hal yang penting berkaitan dengannya.
"Kamu tahu apa yang Aku inginkan Sayang." kata Aldo menggoda Jeje dengan mengendus dan meniup pusara perut Jeje membuat Jeje tanpa sadar mendesah pelan. Sensi aneh yang baru Jeje rasakan beberapa bulan bersama Aldo saat itu, dan kemudian masalah tiba-tiba muncul.
"Ah Aldo." Aldo terkekeh saat mendengar suara desahan Jeje membuatnya bahagia.
"Kamu suka?".
"Berhenti menggodaku, Aku akan memulainya. Atau Kamu mau berubah pikiran tentang mendengarkan ceritaku? tanya Jeje kesal merasa di permainkan suaminya itu.
"No Dear, start talking and I'll listen to it." Jeje mengangguk.
"Yang pertama untuk mantan ke kasihmu, saat itu Aku ke betulan saja sedang berkunjung ke rumah sakit Kelv karena ada seorang kawanku yang membutuhkan bantuanku." Jeje menerang kembali pada awal Dia datang ke Indonesia. Dan Aldo mendengarkan dengan seksama tanpa mau memotongnya.
"Saat itu juga Aku melewati ruangan ke kasihmu, Aku melihat ke kasihmu yang melambaikan tangan padaku. Awalnya Aku ingin tidak peduli tapi Dia memaksaku." Aldo menggeleng di pangkuan Jeje membuat usapan di kepalanya terhenti.
"Are You kidding Me?" Jeje membuang arah pandangannya ke samping. Ia mulai berpikir, apakah Aldo masih menyimpan rasa pada mantan ke kasihnya itu. Aldo tahu, ke terkejutannya itu melukai isterinya. Aldo mengusap perut Jeje naik turun berusaha menenangkan Jeje. Bahwa apa yang di pikirkan Jeje salah.
"I no longer love her Baby, I just feel. Saat itu Dia sedang koma, jadi tidak mungkin melambaikan tangan padamu." Jeje membuang nafas, merasa lega.
"Apa Kamu percaya dengan semua yang akan Aku katakan?" Aldo mengangguk.
"Aku tahu Kamu begitu jujur.".
"I can teleport. Penetrating time and space that today makes no sense." Aldo mengangguk.
"Aku tidak heran Baby, karena Alan pernah menceritakan itu padaku." mata Jeje melebar, Kakaknya itu benar-benar. Apalagi yang Alan katakan pada Aldo?.
"Baiklah, Aku akan melanjutkannya kalau begitu." Aldo terus mengusap dan mencium perut Jeje dengan mendengarkan cerita Jeje.
"Dia meminta tolong padaku untuk mengembalikan semua asetmu yang telah Ia curi secara diam-diam darimu. Ia tahu bahwa waktunya sudah dekat dengan ajal, dan hanya Aku yang dapat Ia mintai pertolongan.".
"Aku tahu Dia koma, menurut semua orang. Tapi di mataku dan karena ke mampuanku, di alam berbeda Dia memang hidup.".
"Does that sound crazy to Your ears?" Aldo menggeleng lalu mengangguk, memang terdengar gila. Tapi semua itu nyata dan bukti sudah ada pada tangannya.
"Memang di zaman yang serba modern, ya! Itu terdengar gila. Tapi Aku sudah mengalaminya, merasakan Kamu hilang tiba-tiba dan juga tubuhmu yang tidak bisa di deteksi oleh CCTV." Jeje terkekeh.
"Aku terlihat di CCTV, tapi ilmu teknologi sekarang mampu membohongi mata kita." Aldo memicing.
__ADS_1
"Apa semua ini ulah Will?".
"Apa Kamu kira isterimu ini hantu?" Aldo terkekeh.
"Kadang." Jeje menyentil dahi Aldo membuat empunya mengaduh, namun tidak lantas membuat Jeje mengusap kembali dahi suaminya.
"Kamu nakal." kata Aldo manja, Jeje mengangguk.
"Yes, that's Me.".
"Sebenarnya Aku ingin cepat-cepat mengembalikan asetmu. Tapi sayang sekali, pertemuan awal kita yang menjengkelkan membuatku mengurungkan niatku. Aku kesal sekali padamu." Aldo mengingat kembali pertemuan awalnya dengan Jeje. Dan Ia malah tersenyum karena membayangkan hal konyol itu.
"Apa Kamu menyesalinya?" Jeje menggeleng.
"Tidak ada yang Aku sesali sekarang, tapi dulu ya. Aku menyesal menyimpan asetmu karena Kamu memang orang yang sangat menyebalkan." ucap Jeje sarkas. Aldo menggeleng penuh prihatin, tapi kemudian Ia tertawa membuat Jeje mendengus.
"Apa karena Kamu sadar sekarang bahwa Aku orang tampan yang seharusnya tidak Kamu abaikan?" Jeje menggeleng dengan bola mata bergerak berputar.
"Tidak sama sekali, apa Kamu lupa bahwa banyak sekali pria kaya sepertimu yang memang arogan? Banyak pria tampan yang menjadi relasi bisnisku." Jeje mengucapkannya dengan percaya diri. Aldo tidak memungkiri itu, banyak pria tampan bahkan lebih tampan darinya. Tapi haruskah Jeje mengucapkannya di depan Aldo?.
Aldo mendengus, lalu menyentil dahi Jeje. Jeje mengusap dahinya, lalu mengerucutkan bibirnya.
"Jangan mengucapkan hal sejujur itu di depanku. Kamu lupa dengan siapa Kamu berbicara?"
"Dengan suamiku." ucap Jeje girang dengan kekehannya dan matanya menatap Aldo menggoda.
"Terserah padamu saja, yang terpenting adalah Akulah pria pertama dan yang dapat menanam benih di rahimmu." Aldo tertawa saat wajah Jeje berubah pias. Apalagi melihat Jeje seolah percuma menceritakan pria tampan di hadapannya. Aldo bukanlah pria otoriter yang semua harus sesuai ke mauannya. Aldo pria biasa yang hanya beruntung mempunyai ke kayaan, sesimpel itu dan itu saja.
"Lanjutkan saja ceritanya, dasar suami tidak peka.".
"I hear You." Jeje kembali mengusap surai prianya.
"Aku tidak percaya bahwa pertemuan awal kita akan membuat pertemuan-pertemuan yang lain.".
"Aku hanya tersinggung saat Kamu mengganti rugiku dengan nominal yang lebih dari cukup. Dan rasa sombongku yang dulu ada merasa tidak terima, makanya Aku sampai nekat menculikmu. Walau rasanya juga percuma menculikmu." Jeje terkekeh.
"Sebenarnya Aku bukan mau kabur, hanya saja temanku menghubungiku dan meminta bantuanku untuk operasi besar yang sulit.".
Aldo mengangguk.
"Baiklah Aku terima semua penjelasanmu, lalu bagaimana dengan anak-anak?" Jeje menaikkan satu alisnya.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Jeje balik.
"Apa Kamu kualahan dengan mengasuh mereka?" Jeje menggeleng.
"Tidak, saat Aku pertama mengangkat Will menjadi Puteraku ya. Tapi Bastian selalu menolongku, Kakeklah yang awalnya mengurus mereka. Setelah Aku lulus menjadi Dokter mereka baru hidup bersamaku. Murni menjadi anak-anakku, dan tinggal di rumahku.".
"Apa Kamu ingin bertemu dengannya?".
__ADS_1
"Maksudmu siapa? Kakekmu?" Jeje mengangguk membuat Aldo bergidik. Sudah sering kali Alan menceritakan tentang Kakeknya yang sangat jarang Alan temui.
Jeje tertawa.
"Hey, Bastian tidak semenakutkan itu." kata Jeje tahu akan ke takutan Aldo. Ia dapat menebak kalau Kakaknya itu terlalu melebih-lebihkan.
"Ya, itu bagimu. Lalu bagaimana dengan Alan?".
"Kamu jangan dengarkan Dia, Dia sama sekali tidak tahu Kakek." kata Jeje menenangkan Aldo.
"Lagian Al, kalaupun Kakek semenakutkan itu. Pasti Aku sudah habis di tembak olehnya, dengan tingkahku yang seperti ini. Apa Dia orang yang tidak cukup sabar?" Aldo mengangguk, Aldo sendiri tahu bagaimana isterinya itu. Aldo membuang nafas, Alan pasti menakut-nakutinya.
"Baiklah, mungkin lain kali." Jeje tersenyum dengan antusias.
"Lalu apa Kamu tahu ke napa Aku memproses hukum ponsel-ponsel itu? Dan ke napa Kamu mau masuk ke dalamnya?".
"Mana Aku tahu kalau itu ilegal. Isssshh sakit." Aldo mengaduh saat telinganya di jewer Jeje dengan cepat.
"Ceroboh, perusahaan sebesar Kehl tidak dapat membedakan mana yang legal? Apa Kamu butuh asisten baru?" Aldo melotot, apa kata isterinya? Asisten baru? Maksud Jeje memecat Dahlan? Oh big No.
Aldo menggeleng dengan tegas.
"Aku tidak akan memecat Dahlan. Lagi pula perusahaanku baik-baik saja." Jeje mengangguk.
"Ya baik, tapi apakah Aku harus menjadi jaminannya?" Aldo terkejut.
"Kamu menjaminkan dirimu?" lagi-lagi Aldo meringis. Kali ini Jeje kembali menyentil dahi Aldo dengan gemas.
"Apa Aku semiskin itu?" Aldo meringis, ucapannya salah.
"Lalu?".
"Aku menjaminkan untuk merevolusi ponsel itu kembali. Itu agar perusahaanmu tidak juga di sita asetnya." Aldo melingkarkan tangannya pada perut Jeje. Memeluk wanita dan anaknya dengan tetap pada posisinya.
"Maaf dan terima kasih." Jeje tahu, tidak seharusnya Dia menceritakan hal memalukan itu. Tapi bibirnya sudah membongkar semuanya dan Jeje memang harus jujur bukan?.
"Tidak apa-apa Al, lagian itu juga untuk anak kita." Aldo mengangguk dengan menciumi perut Jeje. Mengendus dan meniupnya, merangsang isterinya yang sangat istimewa.
"Kapan Kamu akan menemui Mom?" Jeje mengedikkan bahu.
"Aku belum berani." tangan Aldo terulur untuk mengusap pipi Jeje yang terlihat cubby.
"Ada Aku dan juga anak-anak yang akan terus bersamamu." Jeje mengangguk.
"Ya selama ada Kamu dan anak-anak, Aku akan berani." Aldo mengangguk, Ia sangat percaya pada isterinya itu.
"You are the best wife Aldo has. You're the weirdest wife but Aldo likes it a lot. You are the most amazing wife and Aldo loves that. Jessica Anora Kelvin.".
Madiun,11/07/20
__ADS_1