
Kalian pastinya tahu, siapa raja dan ratu dalam suatu sekolah, ya tentu saja tak lain dan tak bukan adalah kating yang terhormat. Lina memulai perannya sebagai seorang ratu pada pagi hari ini.
Liburan pun usai setelah hampir sebulan Lina selalu menghabiskan waktu dengan kesibukannya. Lina tidak menyesal menghabiskan masa liburannya di rumah sakit dan berdiam diri di rumah merawat Papa.
"Hati-hati ya sayang, nikmati tahun terakhir mu di sekolah" pinta Papa.
Lina mengangguk dan berpamitan serta naik ke mobil. Hari ini seperti biasanya ia selalu diantar Mama.
"Ma, kenapa orang bilang jadi kating itu enak?" tanya Lina heran.
"Padahal itu tahun terakhir kita untuk menikmati masa SMA" ucap Lina mengeluarkan pendapat.
Mama tersenyum dan mengusap pipi gadisnya itu. Lina terlihat begitu polos ketika mengucapkan argumennya.
"Kamu jalani dulu dan temukan jawabannya ya sayang" balas Mama.
•••••
Mirna menyambut sahabatnya dengan hangat sesampainya di sekolah. Mirna sudah pulang seminggu yang lalu dan datang ke rumah menjenguk Papanya Lina serta memberikan oleh-oleh pada Lina.
"Gua deg-degan nih Mir, kita masih sekelas nggak ya" ucap Lina.
"Lo deg-degan karena mikirin kita masih sekelas atau mikirin bakal sekelas sama Revan?" canda Mirna.
__ADS_1
Lina langsung tersipu malu. Gadis itu menginginkan keduanya untuk menjadi teman sekelasnya, Mirna dan Revan.
Setelah pembacaan kata sambutan dari kepala sekolah, mereka tiba di sesi pembagian kelas. Lina tidak tahu harus sedih atau bahagia, kabar baik dan buruk datang secara bersamaan.
Lina masuk XII IPA 1, sekelas dengan Revan dan harus berpisah dengan Mirna yang beralih ke kelas XII IPA 2. Diantara kabar baik dan buruk, ada satu kabar yang tidak dapat ia simpulkan masuk kedalam kategori baik atau buruk. Leo sekelas dengannya, pria itu berlarian ke arah Lina dan menyapa menggunakan ciri khasnya yang ceria.
"Kita sekelas nih Princess" ujar Leo bersemangat, Lina mengangguk dan tersenyum secara terpaksa.
••••••
Ruangan kelas terasa lebih dingin dari biasanya. Hawanya mungkin berubah karena Lina akhirnya sekelas dengan Revan.
Tetapi ia sedih harus berpisah dengan Mirna. Pak Budi memasuki ruangan kelas mereka, memberi selamat dan menyampaikan posisinya sebagai wali kelas.
"Mulai besok kita sudah belajar aktif ya anak-anak, jadi hari ini kita tuntaskan semuanya" ujar Pak Budi.
"Kita pilih acak aja pak pakai kertas dan cabut nomor" usul Mahendra yang kemudian di setujui oleh Pak Budi.
Mereka mulai pemilihan memakai kertas, dari nomor 1 hingga akhir di hitung dari bangku depan paling ujung sebelah kanan. Sepertinya takdir memang mempertemukan, semesta benar-benar berpihak pada Lina hari ini. Gadis itu duduk bersebelahan dengan Revan, sedangkan Leo berada di belakang mereka.
Setelah pembagian bangku selesai, tiba saatnya pembagian perangkat kelas yang meliputi ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara dan ketua divisi. Baru saja mereka hendak memulai pemilihan, pintu tiba-tiba di ketuk.
"Permisi Pak Budi, saya hendak menyampaikan kalau kelas anda kedatangan murid baru" ucap Bu Nia dari bagian kesiswaan.
__ADS_1
"Terimakasih bu Nia, saya sudah dengar tentang itu, saya kira dia akan masuk besok" balas Pak Budi.
Setelah Bu Nia pergi dan meninggalkan si murid baru, Pak Budi mempersilahkannya memperkenalkan diri. Gadis cantik itu menghembuskan nafas untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Halo semua, perkenalkan nama saya Diandra Tamara, panggil saja Diandra, nice to meet you guys" ucapnya di salam perkenalan.
Lina menatap wajah gadis itu, putih bersih, pipi tirus dan rambut hitam panjang. Cantik, Lina memuji wajah gadis itu.
Tetapi nama tersebut seakan tidak asing lagi bagiku, ia menatap ke arah Revan, raut wajah Revan sungguh berbeda. Menunjukkan wajah antara bahagia dan resah.
"Baiklah Dian, kamu duduk dimana ya" ucap Pak Budi sambil melihat tempat duduk yang kosong.
"Kebetulan saya mengenal seseorang disini Pak, saya mau duduk di samping Revan" ujar Diandra menunjuk ke arah Revan.
Lina sungguh tersentak, dalam hati ia tidak ingin hal itu terjadi, Lina langsung menatap ke arah Revan. Berharap Revan tidak akan menggantikan dirinya dengan cinta pertamanya.
"Maaf Pak, saya sudah semeja dengan Lina" ujar Revan.
"Dia kan bisa pindah" jawab Diandra.
"Kamu mau kan pindah ke tempat lain dulu?" pinta Diandra kepada Lina.
Setelah diam beberapa detik, Lina melirik ke arah wajah Revan. Tetapi lelaki itu tidak menunjukkan reaksi apapun.
__ADS_1
"Maaf, saya sudah nyaman disini, kamu bisa ambil tempat duduk yang kosong saja" ujar Lina tegas.
Kalimat itu muncul dari mulutnya tanpa ia sadari. Diandra menatap kesal padanya, si murid baru duduk di bangku ujung, satu-satunya bangku yang masih kosong.