
Revan menemui Lina setelah membaca pesan Lina mengenai kata putus. Revan merasa bersalah atas semua yang terjadi. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar, Revan juga memiliki sedikit perasaan kepada Lina. Tetapi perasaan itu belum bisa mengalahkan perasaan Revan ke Diandra.
"Lin" ujar Revan ketika mereka bertemu.
"Kenapa?" tanya Lina.
"Maafin gua" ujar Revan lagi.
"Atas apa?" tanya Lina.
"Gua tahu gua salah" ujar Revan.
"Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu Lin, sebenarnya Leo menemui saya ketika dia hendak pergi ke Amerika" ujar Revan.
"Apa katanya?" tanya Lina penasaran.
"Dia menanyakan perasaan gua ke elo, jujur aja gua udah mulai suka sama lo, tapi bayangan Diandra selalu melekat di diri gua" ujar Revan.
"Leo meminta gua untuk nembak lo setelah gua kasih tahu dia kalo gua suka sama lo" lanjut Revan lagi.
"Dia bilang kalau lo nolak gua, dia akan tetap disini, tapi kalo lo terima gua dia akan pergi, karena dia ingin lo bahagia dengan pilihan lo" ujar Revan merasa bersalah.
"Dia itu laki-laki terbaik bagi lo, dia rela pergi demi kebahagiaan lo, seharusnya lo melirik dia, bukan hanya asik melihat ke arah gua yang brengsek ini" ujar Revan yang semakin merasa bersalah.
Lina menangis mendengar itu semua. Penyesalan ada di dalam dirinya. Air matanya mengalir deras seakan mencurahkan segala isi hati yang ia rasakan.
__ADS_1
"Gua salah, gua sibuk dengan kebahagiaan gua sendiri hingga lupa dengan kebahagiaan orang yang menyayangi gua" ujar Lina di sela-sela tangisannya.
"Makasih Van udah jujur ke gua, gua udah maafin lo" ujar Lina seraya pergi meninggalkan Revan.
*******
Lina menghabiskan masa SMA yang tinggal dua bulan lagi dengan penuh kenangan. Dia ingin melupakan itu semua, tetapi di saat ia hendak melupakannya, kenangan itu semakin kuat di ingatannya.
Lina menatap sendu ke arah taman. Dia mengingat momen ketika Leo sedang menggodanya. Lina juga mengunjungi tempat-tempat yang ia kunjungi bersama Leo saat mereka bolos di sekolah.
Penyesalan Lina semakin bertambah sejak ia mulai merasakan kehilangan. Seseorang yang selalu ada di sisinya mendadak pergi dalam kehidupannya.
"Apa kabar lo di sana Leo" ujar Lina.
"Gua kangen" lanjut Lina lagi.
"Lina makan dulu yuk" ajak Mama.
"Iya Ma sebentar" jawab Lina seraya menatap layar handphonenya.
Terlihat fotonya bersama Leo yang sedang s
tersenyum menjahili dirinya. Lina tersenyum, dalam hati dia bertekad untuk lebih giat belajar. Dia ingin melanjutkan studi kuliahnya di Amerika.
"Leo lo harus tunggu gua" ujar Lina.
__ADS_1
Lina tersenyum dan mematikan handphonenya. Wanita itu turun untuk makan bersama keluarganya. Lina berharap segera lulus dengan cepat dari SMA.
"Makan yang banyak ya" ujar Mama.
"Iya Ma" jawab Lina.
"Mama tahu suasana hati kamu belakang ini tidak bagus" ujar Mama.
"Harus tetap semangat ya" lanjut Mama lagi.
"Makasih Ma, Lina pasti akan lebih bersemangat" jawab Lina.
"Ma, Pa, Lina ada pertanyaan" ujar Lina lagi.
"Apa itu sayang?" tanya Papa.
"Boleh nggak Lina melanjutkan sekolah ke Amerika?" tanya Lina.
Mama dan Papa Lina saling berhadapan. Setelah diam sejenak mereka pun tersenyum. Mama dan Papa Lina tahu bahwa suatu saat ini akan terjadi. Mau tidak mau, siap tidak siap, mereka harus menerima dan mendukung.
"Tentu saja kamu boleh bersekolah di manapun yang kamu inginkan" ujar Mama.
"Iya Papa setuju, kamu harus meraih mimpi mu setinggi mungkin" jawab Papa.
"Terimakasih banyak Pa, Ma, Lina sayang Mama Papa" ujar Lina.
__ADS_1
"Papa dan Mama juga sayang sama Lina" jawab Mama tersenyum.