Future Husband

Future Husband
Bab 12


__ADS_3

Lina memandang sudut kamarnya untuk kesekian kalinya. Class meeting tinggal satu hari lagi dan ia belum mempersiapkan apa-apa.


"Tok...tok...tok" suara pintu diketuk.


"Mama masuk ya Lin" suara Mama terdengar di balik pintu kamar.


"Kenapa anak Mama bengong begitu, ada masalah sayang?" tanya mama lembut pada Lina.


Kebiasaan Mama memang seperti itu, selalu menanyakan keadaan putrinya setiap hari tanpa bosan. Lina mengeluhkan nafas sejenak dan mulai bercerita kepada Mama mengenai kejadian pemilihan perwakilan class meeting sampai king and queen.


Gadis itu bercerita dengan sedikit mengeluh dan Mama hanya terdiam. Mama mendengarkan ceritanya dengan seksama tanpa memotong sedikit pun bagian dari cerita Lina.


"Sekarang Mama paham kegelisahan kamu sayang, kamu siap-siap yaa, kita berangkat ke butik Bude Sarah" jawab Mama sambil memberikan usulan.


Lina setuju dengan saran Mama, setelah Mama keluar dari kamar, gadis itu langsung mengganti pakaiannya kemudian berdandan sedikit dan turun kebawah menemui Mama. Dia tidak ingin menunda-nunda lagi, acara sudah sangat dekat.

__ADS_1


Lina pergi berdua dengan Mama, Papanya sedang sibuk bekerja di perusahaan milik keluarga mereka. Papa putra satu-satunya dari Kakek Lina yang merupakan pemilik sah perusahaan, jadi mau tidak mau Papa lah yang meneruskan perusahaan setelah Kakek meninggal, itu merupakan wasiat terakhir dari Kakek.


Sepanjang perjalanan Lina dan Mama bercerita tentang banyak hal, tentang bagaimana cara Mama bertemu dengan Papa. Mama akhirnya menceritakan semuanya pada gadis itu, Lina tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari Mama.


Papa dan Mama bertemu di saat mereka SMA, Papa pria yang pintar dan gila belajar, sedangkan Mama wanita pintar tetapi nakal. Mereka sekelas sejak kelas sepuluh sampai kelas 12. Papa selalu mendapat peringkat pertama dan Mama menduduki peringkat kedua. Mama suka mengejek Papa dengan sebutan si kutu buku tetapi Papa tidak pernah mengubrisnya.


Saat kelas tiga Mama merasa ada yang berubah dari Papa, dia menjadi pria idaman adik tingkatan. Apalagi semenjak dia menjadi ketua osis, kepopuleran Papa semakin menjadi-jadi. Banyak diantara adik-adik kelas yang minta foto dengan Papa, terlebih saat acara valentine Papa akan menerima banyak coklat dan bunga dari kalangan wanita.


Rasanya Mama risih dengan hal tersebut, entah bagaimana Mama mulai berhenti mengejek Papa dengan sebutan si kutu buku. Rasanya sebutan itu sudah tidak pantas diberikan kepada Papa yang sudah jauh berubah, Papa tidak kaku lagi dan sudah mengikuti ekstrakurikuler serta mengurangi kekutu bukuanya. Papa jago basket, ikut organisasi, sudah ramah dengan memberikan senyuman manis kepada orang yang menyapa nya.


"Lidya Pratiwi, wanita hebat yang telah merubah saya menjadi lebih baik seperti sekarang ini walaupun dengan cara mengejek saya dengan sebutan si kutu buku, maukah kamu menjadi pacar saya?" ucap Papa yang menggemparkan seluruh sekolah.


Mama yang mendengar semua itu seolah-olah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Seorang pria yang selalu ia bully mengucapkan kalimat romantis padanya.


"Udah gila kali si Nara" ucap Mama kepada temannya.

__ADS_1


"Terima... terima... terima..." publik mulai panas dengan pernyataan cinta dari seorang Nara.


Anehnya mulut Mama bergerak dengan sendirinya. Entah apa yang merasuki Mama hingga bersedia menjadi kekasih Papa.


"Iya saya mau" ucap Mama tanpa basa-basi.


Mama tidak tahu kenapa mulutnya mengucapkan hal tersebut, yang jelas Mama masih tidak percaya dengan apa yang ia lalui di hari itu. Tetapi ia bahagia, pipinya merona menandakan Mama sedang tersipu malu.


"Astaga... kok bisa gitu Ma?" tanya Lina terbahak-bahak.


"Setelah beberapa hari setelah kejadian itu, Mama menanyakan alasan Papa menyukai Mama, Papa bilang Mama satu-satunya wanita yang bisa merubah kehidupan Papa yang kaku, dari dulu Papa iri melihat Mama yang mudah bergaul sedangkan ia asik dengan bukunya saja. Ya, walaupun berawal dari becandaan mama si kutu buku nyatanya berbuah indah" jelas Mama panjang lebar.


Mereka hampir tiba di butik Bude Sarah, butik Bude Sarah memang agak jauh dari rumah. Lina masih terkagum-kagum dengan kisah cinta Mama yang berakhir bahagia. Akankah kisah cintanya juga bisa seperti itu atau tidak, yang jelas ia selalu berharap semua ini akan berakhir indah.


"Kamu tahu nggak Lin kenapa nama kamu Lina, itu gabungan nama Mama dan Papa, Lina, Lidya Nara" ucap Mama sebelum turun dari mobil.

__ADS_1


Lina hanya tersenyum senang, ia bangga menjadi anak tunggal diantara Papa dan Mama. Apalagi setelah ia tahu singkat dari nama orang tua nya adalah Lina (Lidya Nara).


__ADS_2