Future Husband

Future Husband
Terkejut


__ADS_3

Acara makan malam di rumah Aldo nampaknya berbeda malam ini, bagaimana tidak? Ada isterinya yang memasak untuknya, di tambah Ia makan di temani oleh sang isterinya tercinta.


Dunia Aldo sudah sangat di penuhi rasa bahagia yang tiada tara. Menatap wajah isterinya setiap paginya saja sudah membuat mood Aldo begitu hingar bingar.


Suasana rumah yang tidak pernah Aldo bayangkan sebelumnya akan mengesankan. Ia akan melukan masa itu, masa di mana hanya ada dirinya saja di ruang makan dengan banyaknya menu yang akan terbuang sia-sia. Tapi sekarang berbeda, makanan yang di sajikan isterinya adalah makanan yang memang di minta olehnya.


"Ehm." Aldo berdehem, membuat semua maid yang ada di sana dan Dahlan serta Jeje menatap Aldo.


"Ada perlu Tuan?" Dahlan segera maju di samping kursi Aldo, Aldo menggeleng. Ia berdehem untuk memancing isterinya, namun apa yang Ia dapat? Isterinya itu hanya menatapnya sekilas lalu melanjutkan makannya dengan tenang, banar-benar tidak terpengaruh dengan deheman Aldo.


Dahlan kembali ke tempatnya berdiri, kini Aldo yang menatap Jeje intens. Aldo mencoba lagi menatap Jeje lebih intens agar Jeje mengalihkan atensinya dari makanan ke dirinya. Namun tetap gagal hingga mulutnya sudah gatal ingin bertanya.


"Sudah sehari berlalu Sayang." ucap Aldo memperingati. Jeje menghentikan makannya lalu bersidekap dada menatap Aldo dengan tatapan yang menusuk, benar-benar tatapan memperingati.


"Bukannya Aku sudah berkata, bahwa Aku tidak dapat memastikan kapan bisa datang." Jeje mempertegas ucapannya, Aldo hanya bisa pasrah saat Jeje menatapnya penuh dengan hormon ibu hamil yang sedang naik. Jika sekali saja Aldo salah berbicara bisa kelar hidupnya. Apalagi sekarang Jeje menatapnya tanpa adanya ke lembutan sama sekali.


"Baiklah." Aldo melanjutkan makan, begitupun Jeje. Mereka makan dalam diam membuat para maid dan Dahlan bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Dahlan yakin ada hubungannya dengan berita kemarin. Astaga! Ia lupa sesuatu.


"Tuan, Saya sudah membawanya ke mari tadi pagi, tapi tuan tidak mau di ganggu." Aldo mengangguk.


"Bawa Dia ke mari, mungkin Dia juga mau ikut makan malam." Aldo dalam mode unmoodnya juga, mungkin Dia bisa jadi pelampiasannya. Dahlan segera permisi dan berlalu ke sebuah lorong dari samping dapur Aldo. Tempat Dahlan untuk menyekap orang karena telah menyebarkan berita palsu.


Dahlan datang dengan dua orang yang berjalan dengan menunduk, seorang pria dan wanita muda. Pantas saja mereka begitu nekat memburu Aldo untuk mencari berita. Karena darah muda mereka yang benar-benar terlihat, darah muda yang selalu ingin tahu apa yang mereka dengar meski tidak sepenuhnya. Apa yang mereka lihat namun tidak mendengarkan fakta yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kalian duduklah!" mereka duduk dengan takut, menatap Aldo dan Jeje bergantian di ruang makan mewah milik Aldo. Suasana dan aura pasangan suami isteri itu begitu berbeda dan juga sangat dominan di ruang makan mewah ini.


"Jona.".


"Ya Tuan.".


"Ambilkan tamuku makan yang enak." mereka merinding saat Aldo mengatakan makanan yang enak. Mereka menatap Jeje yang tetap menikmati makannya dalam diam. Apa Jeje tidak terusik? Batin mereka. Atau setidaknya bisakah Jeje mencegah agar Aldo tidak melakukan apapun pada mereka? Mungkin seperti di cerita novela yang mereka baca. Jika yang menyeramkan adalah sang pria maka si wanita adalah wanita yang sangat baik sekali.


Tapi apa yang di pikiran mereka salah, Jeje menatap mereka dengan pandangan menilai lalu tersenyum. Membuat mereka sedikit tenang, tapi tidak lama karena ucapan Jeje membuat siapapun menjadi merinding. Termasuk Aldo yang langsung menoleh pada isterinya itu.


"Mau Aku tambahkan minuman surga? Akan Aku ambilkan." ucap Jeje tanpa senyuman wajah serius juga datar dan jangan lupakan, mata Jeje yang memicing seperti elang.


Mereka dengan cepat menggeleng, minuman surga yang di maksud Jeje dengan tatapan menyeramkan seperti itu pasti bukanlah minuman yang bagus untuk mereka nikmati. Jeje mengedikkan bahunya setelah tahu jawaban dari mereka, lagian ini urusan suaminya bukan urusan yang harus Aldo dan Jeje untuk bertindak bersama-sama.


"Aku akan ke kamar, Kamu lanjutkan makannya." Jeje berdiri dari kursinya lalu mengecup bibir Aldo sekilas dengan tatapan tajam mengarah pada dua wartawan itu. Memberi peringatan pada ke duanya bahwa berita yang mereka sebarkan tidak lebih dari berita sampah.


"Love you Future Husband, Aku menunggumu." Jeje mengerlingkan sebelah matanya pada Aldo dengan gaya khas menggoda membuat orang-orang di sana geleng-geleng kepala. Aldo yang masih shock tidak habis pikir dengan kinerja otak isterinya yang begitu mengintimidasi dua orang yang kini menatap ke pergian Jeje dengan rasa takutnya.


"Nikmati makanan kalian, kepala maidku sudah menyajikan untuk kalian." mereka menatap makanan mereka dengan horror membuat Aldo terkekeh.


"Kalian tenanglah, apa kalian tidak lihat? Makananku dan makanan kalian sama, jangan takut Aku memberi kalian racun. Makanlah!" mau tidak mau mereka memakan makanan yang sudah tersaji di hadapan mereka.


Setelah acara makan yang menegangkan bagi ke dua wartawan itu, Aldo memulai membuka percakapan.

__ADS_1


"Kalian lihat tadi bukan? Isteriku ada bersamaku, dan Dia sedang hamil anakku." mereka dengan cepat menatap Aldo, merasa terkejut dengan kabar ke hamilan Jeje. Mereka sebenarnya juga ragu membuat berita itu setelah ada berita mengenai Jeje yang pergi ke sebuah pesta dengan Aldo di Rusia.


Karena sudah terlanjur terbit, jadi mau apalagi? Mereka juga jarang melihat pasangan Aldo dan Jeje bersama menghabiskan waktu.


"Maafkan kami Tuan." Aldo berdecih.


"Maaf tidak membuat kalian bertanggung jawab, mudahnya. Aku akan memproses kalian." mereka dengan cepat juga menatap Aldo, meminta sedikit belas kasih Aldo. Namun sepertinya percuma, karena Aldo berdiri dari duduknya bersamaan dengan terdengarnya sebuah jet yang mendarat di belakang mansion Aldo.


"Tahan mereka." Aldo berkata pada para bodyguardnya yang lain. Aldo segera pergi ke  halaman belakang mansionnya.


"Adakah tamu yang akan datang?" Dahlan menjawab bahwa tidak ada tamu yang di undang maupun akan datang. 


Aldo mengernyitkan dahinya saat beberapa orang turun dari jet pribadi itu, dan isterinya yang tadi menungguinya bahkan ikut ke luar. Mata Aldo hampir lepas saat Ia tahu seseorang yang mirip sekali dengan dirinya, bukan-bukan. Bukan mirip lagi tapi sama sepertinya di antara beberapa orang dan anak yang berjalan mendekat ke arahnya setelah jet pribadi itu menghentikan mesinnya.


Aldo menatap isterinya yang malah tersenyum ke arahnya, lalu ke arah orang yang copy dirinya bergantian. Jeje sendiri hanya mengedikkan bahunya dan melihat mereka yang beberapa langkah lagi sudah sampai di hadapannya.


Aldo menatap fokus ke mereka, mengenyahkan segala urusannya mengenai berita tentang rumah tangganya yang tertulis di ujung tanduk.


***


Madiun,08/07/20


__ADS_1


__ADS_2