Future Husband

Future Husband
Terciduk


__ADS_3

Jangan lupa kasih Vote dan dukungannya ya.. Beberapa hari ini Votenya begitu memilukan untuk Author..


Aldo memeluk erat Jeje, Ia begitu lega saat Ia mampu menjawab atas pertanyaan jebakan Jeje. Bukan hanya itu, memang itulah yang Ia harapkan. Jika mantan tunangannya itu masih hidup, maka Ia akan mengucapkan banyak terima kasih telah mencuri aset-asetnya.


Meminta bantuan Jeje untuk mengembalikannya dan juga pertemuan mereka yang unik. Aldo tidak akan pernah lupa akan hal itu dan tidak sabar untuk ke hadiran buah hati mereka, jelas Aldo ingin menceritakan semua hal tentang pertemuan mereka pada anaknya nanti. Membayangkannya saja membuat hati Aldo berdesir hangat.


Semua tidak luput dari ingatan Aldo. Bagaimana setiap kali Ia bertemu Jeje, Ia selalu di landa rasa emosi berlebih. Untuk penculikan bukan Aldo sekali, tapi nalurinya harus menculik seorang Puteri Kelv. Sungguh ironi, wanita yang sempat Ia sekap adalah calon Ibu dari anak-anaknya. Aldo menggeleng, dunia begitu sempit dan lucu. Selucu saat Ia menyadari bahwa cinta tumbuh tanpa Ia duga.


"Memikirkan apa hm?" Aldo terkekeh.


"Memikirkan Kamu." Jeje menggeleng tidak percaya akan jawaban Aldo. Jeje memejamkan matanya, tangan kasar dan besar Aldo mengusap lembut pipinya. Wajah Aldo yang mendekat tepat di wajahnya membuatnya harus menahan nafas.


Gugup dan berdebar melandanya, bukan Jeje sekali. Tapi pria yang Ia duduki ini sudah mengambil seluruh perhatian, hati juga hidupnya. Seperti Ia begitu tergantung pada pria ini, untuk memeluknya, untuk menciumnya dan untuk melindunginya. Ia jelas mempu, tapi ternyata perkataan Will benar. Ia hanya wanita dan butuh seorang pria meski Ia mampu.


"Sekarang Kamu memikirkan apa?" kini Aldo yang bertanya, Ia melihat pandangan mata Jeje yang tertuju padanya.


"Memikirkan Kamu." Aldo mau tidak mau tersenyum.


"Kamu menggodaku Eh?" Jeje dengan cepat menggeleng, tapi naas. Jeje terlambat sepersekian detik dari Aldo karena pria itu kini sudah ******* bibirnya. Memberikan sensasi lembut dan memabukkan. Tangan besar Aldo juga tidak berhenti, mengusap punggung Jeje naik turun.


Jeje membalas ciuman itu, Ia tidak kalah. Jeje menekan tengkuk Aldo guna memperdalam ciuman mereka. Bertukar saliva, memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri. Mencoba mencari ke nikmatan yang mungkin akan mereka dapat lebih nantinya.


Aldo melepas pagutannya, namun Jeje tidak mau. Ia kembali menekan tengkuk Aldo walau nafasnya terengah. Aldo tersenyum dengan sifat agresif Jeje, mungkin benar apa yang Ia baca di banyak sumber web bahwa hormon wanita hamil begitu meningkat drastis ketika suami memancingnya dengan sedikit sentuhan. Ide abstrak jelas tergambar dalam otak Aldo, Ia akan selalu menanti moment di mana Jeje begitu menginginkannya.


"Menikmatinya?" pipi Jeje bersemu merah, entahlah! Ke napa Ia begitu agresif malam ini. Aldo memegang dagu Jeje agar menatapnya.


"Mau lebih?" Jeje memukul bahu kanan Aldo, rasa malu menjalar di sekujur tubuhnya.


"Al." ucapnya manja, Jeje malu bukan main. Tapi bagi Aldo panggilan malu Jeje berbeda makna. Hingga Aldo menidurkan Jeje pelan dari pangkuannya, menindih wanita yang kini memutar bola matanya ke segala arah.


"Tatap Aku Sayang!" belum, Jeje belum sanggup menatap mata suaminya itu.


"Sa-" Jeje segera menatap Aldo, tidak mau suaminya mengulang kata yang sama, walau Jeje harus menahan malu mati-matian. Jeje yakin bahwa pipinya seperti tomat matang.


"Aku sudah menatapmu." Aldo mencium pipi Jeje bergantian, kening lalu bibir.


"Hadiah untuk isteriku yang penurut." dengan senyum menggodanya Aldo memberi apresiasi atas sikap kalem isterinya kali ini.

__ADS_1


Aldo benar-benar berada di atas Jeje kali ini, tangan dan lututnya Ia jadikan sebagai tumpuan agar tidak benar-benar menindih Jeje yang sedang hamil.


Memandangi wajah cantik Jeje sebentar lalu Ia ******* bibir merekah milik Jeje. Di hisap dan di lumatnya bibir yang beraroma cherry itu. Buah yang sebenarnya berasa asam Tapi manis ketika Ia mencecap bibir Jeje.


"Kamu mengizinkannya?" Jeje dengan malu mengangguk, bibir bawahnya Ia gigit dan itu tidak luput dari mata Aldo.


"Biar Aku yang melakukannya." Aldo mengambil alih gigi Jeje yang menggigit bibir bawahnya, Aldo menggigitnya pelan dan itu sukses membuat Jeje mengerang.


"Al." mata Jeje yang berkabut membuat Aldo terkekeh geli. Tangan Aldo meraba punggung mulus Jeje dengan sedikit mengangkat tubuh Jeje yang sekarang ada di bawah kuasanya.


Tangan Jeje sendiri tidak diam, Ia melucuti piyama Aldo. Melepas kancingnya satu, tapi kemudian Ia memaksa Aldo meloloskan tubuhnya dari piyama. Rasanya tidak sabar merasakan tubuh hangat Aldo yang menyengat kulitnya.


"Sabar Sayang, kita lakukan pelan-".


Mata Aldo melebar, bagaimana tidak? Dengan sekali hentakan tubuhnya sudah berada di bawah. Wanita itu menduduki perutnya dan menguasai dirinya. Oh apa Jeje ingin woman on top? Aldo hanya menurutinya saja. Aldo juga meloloskan piyama Jeje dan meninggalkan bra hitam yang kontras dengan kulit putih wanita itu.


Aldo merasa frustasi saat Jeje menggerakkan pinggulnya maju mundur, memancing Aldo yang kini sudah tidak sabar juga menghadapi isterinya.


" Ahhhh, Sayang jangan menggodaku.".


Bukannya berhenti, Jeje makin gencar membangunkan bapak dari bayi yang ada dalam perutnya. Hhhh 


"Ta-" ******* di bibirnya menghentikan protes Aldo. Pinggul wanita itu masih bergerak, hingga Aldo hanya mampu pasrah dengan desahan yang tertahan.


Celana piyama mereka sudah teronggok di lantai, menyisakan underwear senada. 


"Sayang, tidak apa-apa Kamu di atas?" Aldo bertanya karena Ia tidak mau mencelakai anaknya yang masih dalam masa pertumbuhan dan pembentukan struktur tulang belakang.


"Aku di bawah nanti, saat kita mulai penyatuan. Tapi untuk kali ini Aku ingin menghabisi bibirmu." Aldo menelan ludah, seagresif inikah wanita hamil? Aldo akan manarik kata-katanya yang ingin memancing wanita hamil.


"Tidak apa-apa Kamu menu-" Jeje ******* bibir Aldo.


"Nikmati saja dan jangan memprotes." Aldo mau tidak mau hanya mengangguk pasrah. Astaga! Seseram inikah wanita hamil dengan hormon **** yang meningkat? Tidak ada penolakan sama sekali.


Aldo membiarkan lidah Jeje mengekspos area dalam mulutnya, kadang Ia juga membalas dengan menghisapnya gemas. Tubuh Jeje yang ramping dan semakin seksi kala rambut wanita itu berantakan sekali.


"Kamu sudah On?".

__ADS_1


'Sejak tadi Sayang' jika Aldo dapat menjawabnya secara langsung. Sudah dari tadi Ia menahan diri mati-matian untuk tidak langsung memasukkan bapak anaknya, dan sekarang isterinya itu malah bertanya. Apa tidak terasa di bawah sana sudah melambai untuk di puaskan?.


"Sudah lelah?" peluh terlihat di dahi Jeje. Ciuman memabukkannya membuat Dia menikmati semua ini, Jeje mengangguk.


"Astaga!".


Aldo akan membalikkan badan Jeje tapi suara ke terkejutan dari samping ranjangnya membuat Aldo dan Jeje menatap tajam pelaku perusak ke senangannya.


"Maaf Dad." di pandang begitu tajam oleh Daddy dan Mommynya membuat sang tersangka berdiri salah tingkah.


"Baiklah Aku akan-".


"Bicaralah, Aku akan memakanmu nanti." Aldo dengan cepat memotong ucapan sang putera pertama kemudian menatap Jeje, siapa lagi kalau bukan Will yang sialnya bisa kapan saja muncul di manapun juga.


"Sayang." Jeje berteriak saat Aldo turun dari ranjang dengan selimut yang tidak lagi menutupi area bapak anaknya yang sudah menyembul. Jeje menatap punggung Aldo yang menjauhi ranjang menuju kamar mandi dengan langkah berat dan wajah di tekuk. Pasti Aldo sangat marah padanya kali ini.


Jeje mendelik pada Will yang kini juga menatap punggung Aldo yang berjalan menuju kamar mandi hanya dengan underwear ketat dengan isi yang sudah sesak di dalamnya. Will meringis, pasti Aldo sangat tersiksa.


"Kau merusak makanan penutup Dad!".


Will menatap Mommynya dengan wajah memelas. Berharap Mommynya itu tidak marah, tapi sayang. Wajah garang Jeje terlihat menakutkan. Will akan berbalik jika suara Jeje tidak menghentikannya.


"Kau mau lari Son?" Will menelan ludahnya, dengan senyum merekah Will menatap Mommynya.


"Tidak Mom, Aku ha-".


"Jadi apa yang ingin Kamu sampaikan?" Will membuang nafas.


"Besok Mom dan Dad harus menemui Pak Tua." Jeje semakin menatap tajam Will.


"Hanya itu?".


"Awwwhh." dengan gerakan cepat Ia menjitak dahi Will kemudian melangkah ke kamar mandi. Tapi sebelum Ia mencapai handle pintu, Jeje kembali bersuara tanpa membalikkan badannya.


"Masa block labmu Mom tambah.".


Madiun,16/07/20

__ADS_1




__ADS_2