
Aldo tersenyum kala Ia bangun pemandangan pertama yang Ia lihat adalah wajah cantik isterinya yang masih terlelap. Aldo menyugar rambutnya yang sudah pendek lagi pagi ini, kalian tahu siapa pelakunya? Jelas Ia akan menuruti permintaan isterinya itu. Walau sudah hampir tutup tempat pangkas rambut, tapi Aldo rela mengeluarkan uang lebih banyak hanya untuk menuruti isterinya itu.
"Ughh." Aldo dengan sayang mengelus surai Jeje saat Jeje tidak nyaman dalam tidurnya, sepertinya isterinya itu sangat ke lelahan hingga sampai jam 7 belum bangun dari tidur panjangnya.
"Sayang." Aldo membisikkan kata sayang untuk membangunkan isterinya. Jeje hanya menggerakkan kepalanya sebentar dengan gelengan. Aldo terkekeh, Aldo yang telah duduk bersandar pada headtender ranjang hanya mampu tersenyum. Membiarkan saja isterinya itu bangun dengan sendirinya.
Aldo menatap bunga krisan yang kemarin Ia beli, Ia hanya tersenyum. Ternyata bunga ini adalah bunga ke sukaan isterinya, dan feeling Aldo untuk membeli bunga karena isterinya itu telah kembali. Di tatapnya bunga dan Jeje bergantian, masing-masing memiliki ke cantikan dan ke anggunan.
Aldo membuka Macbooknya, di paginya ini Aldo di suguhi dengan pemandangan yang membuatnya menggeram penuh emosi. Dilihatnya wajah wanitanya, Aldo menekan earphone yang Ia pasang di telinganya.
"Kau harus menyeret penulis itu ke mari pagi ini!" Aldo menggeram tertahan.
Kepala Aldo tertunduk.
"Apa yang sebenarnya Kamu lakukan di Russia Sayang?" Aldo bangkit dari tidurnya lalu duduk di sofa, memandangi tidur panjang Jeje.
Hingga apa yang di tunggu Aldo terkabul, mata itu terbuka. Aldo melihat Jeje mencari ke beradaannya.
"Pagi Sayang." Jeje terkejut, lalu tersenyum masih dengan wajah bantalnya.
"Ke napa Kamu di sana?" Aldo tersenyum. Senyum yang penuh misterius menurut Jeje, senyum manis tapi tidak dari hati pria itu.
"Aku tidak bisa menerka jika Kamu tidak bertanya." Aldo menaikkan satu alisnya. Aldo terkekeh, wanitanya benar-benar pandai membaca situasi.
"Lihat Macbookku!" Jeje mengambil Macbook yang ada di atas selimut tempatnya bergelung.
"Lalu?" Jeje tersenyum, Jeje menekuk lututnya lalu tangannya Ia tumpukan di atasnya. Aldo membuang nafas.
"Kau tahu Sayang, Aku tidak ada di sana. Lalu siapa pria itu?" Aldo tidak mau salah paham lagi mengenai isterinya. Jadi Ia bertanya lebih baik dari pada mendefinisikan sendiri.
"Sekarang Aku tanya padamu, apa Kamu benar-benar akan menerimaku saat Aku jujur padamu? Seburuk apapun Aku?" Aldo tidak mau berpikir lama, Ia sudah tahu. Jika Ia sangat mencintai Jeje, ke hilangan Jeje adalah pukulan berat baginya. Dan saat Aldo sudah yakin pada hatinya, Ia akan menerima Jeje. Semuanya, itu baik atau buruknya tanpa terkecuali.
"Iya, Aku mencintaimu. Dan Aku sangat yakin akan hatiku, jadi ya! Aku akan menerima semua ke jujuranmu. Jadi katakan!" Jeje menggeleng.
"Tidak sekarang Sayang." Aldo menggeram tertahan. Saat Jeje malah tersenyum misterius.
__ADS_1
"Lalu kapan?" Jeje terkekeh.
"Apa begini caramu menyapa pagi isterimu yang baru kembali?" Jeje membuat wajahnya seolah terluka. Aldo membuang nafasnya kasar, Ia berdiri dari duduknya lalu mendekati isterinya itu. Memeluk mencium dan juga menggendong isterinya yang tiba-tiba manja itu seperti koala untuk ke kamar mandi.
"Apa Kamu marah padaku?" Jeje bertanya karena di dalam kamar mandi Aldo hanya diam. Benar! Aldo memang membantunya menyiapkan sikat gigi, air kumur dan membasuh wajahnya. Juga membersihkan air di wajahnya dengan handuk penuh dengan ke lembutan. Tapi wajah datar pria itu benar-benar membuat Jeje merasa kesal. Aldo menggeleng sebagai jawaban.
"Lantas?" Aldo membuang nafas kasar lalu menumpukan telapak tangannya di samping kanan dan kiri tubuh Jeje.
"Apa yang dapat Aku perbuat Baby? Ketika isteriku tidak kunjung jujur padaku mengenai suatu masalah yang serius." Aldo berkata dengan menyelipkan anak rambut Jeje yang nakal di belakang telinga wanita cantik itu. Aldo memandang wajah cantik Jeje dengan intens.
Jeje menumpukan ke dua lengannya pada bahu Aldo.
"Aku bersungguh-sungguh akan jujur padamu kali ini, semuanya. Tapi Aku perlu bukti, dan sebelum bukti itu datang ke mari. Maka Aku bicarapun akan percuma." Aldo mencium bibir ranum Jeje.
"Kamu pandai bicara sekarang." Jeje terkekeh.
"Bukannya Aku pandai lari darimu?" Aldo mengangguk.
"Itu termasuk di dalamnya, yang paling pandai dari dirimu adalah mencuri hati dan membuat Aku jatuh cinta padamu. Gadis misterius." Jeje lagi-lagi terkekeh.
"Ya, Aku harap setiap pagiku akan seperti ini. Berdebat denganmu, memanjakanmu dan juga memakanmu." Jeje bergidik saat Aldo membisikkan kata terakhirnya.
Jeje menggeleng.
"Ada Dia di sini, Kamu boleh melakukannya. Tapi pelan." Jeje tidak akan kalah jika Aldo sudah menggodanya. Aldo menggeleng tidak percaya akan tingkah isterinya yang tidak ada takutnya sama sekali. Aldo senang saat Jeje selalu mengingatkan dirinya akan hadirnya buah hati mereka, di tambah tonjolan di perut Jeje yang sudah terasa.
"Hari ini ke kantor?" Aldo menggeleng.
"Aku akan menghabiskan waktu bersamamu, sampai bukti itu datang juga." Jeje mendesah pasrah.
"Terserah padamu Tuan Aldo, yang jelas akan datang. Tapi Aku tidak dapat memastikannya kapan datang." Aldo mengangguk, membantu Jeje dengan menggendongnya lagi menuju ranjang mereka yang sulit untuk mereka tinggalkan hari ini.
*Flashback On
Jeje melihat tampilan Aldo yang malah begitu tampan dengan rambut panjangnya, dan Jeje tidak suka itu. Sebuah ke inginan Ia katakan pada Aldo.
__ADS_1
"Yang." Aldo menjawab dengan deheman saat Jeje memanggilnya.
"Em sepertinya Aku tidak suka dengan rambut panjangmu." tangan Aldo berhenti mengelus surai Jeje yang kini tengah tidur di pahanya guna sebagai bantalan kepala isterinya itu.
"Bukannya ini ke inginanmu?" Jeje mengangguk lalu menggeleng.
"Itu ke inginan anak kita." Aldo tersenyum.
"Lalu?" Jeje ragu mengatakannya, barang kali Aldo lebih nyaman dengan rambut panjangnya.
"Katakan Sayang." Aldo melanjutkan gerakan tangannya pada surai Jeje.
"Bisakah Kamu memangkas rambutmu?" Aldo mengangguk tanpa pikir panjang lagi.
"Aku akan memangkasnya." Jeje mendengus. Membuat Aldo terheran-heran.
"Ada apa?".
"Aku ingin Kamu memangkasnya malam ini." Aldo di buat melongo, di lihat jam yang melingkar di tangannya lalu wajah Jeje.
Aldo membuang nafas.
"Baiklah, Kamu mau ikut atau tetap di rumah?" Jeje tersenyum bahagia, membuat Aldo sangat gemas. Mencium kening Jeje adalah pilihannya menyalurkan rasa gemas bercampur bahagianya.
"Aku akan menunggumu tetap di rumah." Aldo mengangguk.
"Baiklah, Kamu istirahat dulu. Aku akan cepat pulang." Jeje mengangguk saat Aldo mulai bersiap untuk ke luar.
"Yang." Jeje memanggil Aldo saat Aldo akan memegang knop pintu. Aldo menoleh pada Jeje, dengan alis terangkat. Namun kemudian Ia tersenyum kala Jeje merentangkan tangannya. Aldo mendekati Jeje, mencium pipi Jeje lalu ke bibir wanitanya itu. Mengusap surai indah Jeje sekilas lalu berkata.
"Aku mencintaimu.".
Flashback Off
Madiun,07/07/20*
__ADS_1