
Lina memakai seragam sekolah dengan semangat. Hari ini merupakan hari terakhirnya sebagai anak kelas dua. Mama sedang menyiapkan sarapan untuknya, Lina berlari menuruni anak tangga untuk menikmatinya.
"Pelan-pelan aja sayang, jangan tergesa-gesa" ujar Mama yang sedang duduk di samping Lina.
Setelah selesai sarapan Lina langsung memakai sepatu dan berangkat ke sekolah diantar oleh Mama. Suasana hatinya sangat bagus dan ia tidak sabar untuk bertemu teman-temannya.
••••••
"Mama yakin kamu akan tetap menjadi juara kelas" ujar Mama sembari menyetir.
"Aamiin, terimakasih Ma" balas Lina penuh harap.
Sepanjang perjalanan ia lebih banyak berdoa dan menatap jalanan. Setelah sampai Lina berpamitan dengan Mama kemudian berlari tergesa-gesa.
"Au, astaga sakit banget" ujar Lina yang terjatuh karena berlarian.
Pergelangan kakinya keseleo dan terasa sakit jika digerakkan. Lina menahan sakit sekaligus menahan air matanya. Sekolah belum ramai karena jam masuk masih lumayan lama.
"Butuh bantuan nggak?" ujar Revan sambil mengulurkan tangan.
Revan yang baru saja tiba di sekolah langsung menghampiri Lina. Gadis itu mengangguk dan meraih tangan Revan. Lina merangkul Revan dan berjalan berlahan menuju UKS.
"Lia bisa tolong bantu" ujar Revan kepada Lia yang kebetulan lewat.
Lina berada diantara Revan dan mantannya Lia, selama perjalanan ke UKS mereka bertiga hanya diam serta canggung. Revan sudah meminta tolong temannya yang lain untuk membukakan kunci ruang UKS, sehingga Lina dapat beristirahat di UKS.
Setibanya di UKS, Lia segera pamit meninggalkan Lina dan Revan berduaan. Bu Susi sebagai penanggung jawab UKS belum tiba di sekolah.
"Lo rebahan dulu sambil menunggu Bu Susi" ujar Revan sambil membantu Lina membaringkan badan.
__ADS_1
"Makasih ya Rev, untung Lo bantuin gua tadi" balas Lina dengan kondisi kaki yang masih sangat sakit.
"Gua minta es batu dulu ke bibi kantin, tunggu sebentar" ujar Revan.
Setelah Lina mengiyakan, Revan segera bergegas ke kantin meminta es batu. Selang beberapa menit dia sudah kembali dengan es batu yang dibalut dengan handuk. Dengan lihai Revan mengompres pergelangan kaki Lina dengan sangat hati-hati. Gadis itu melihat wajah Revan sambil menahan sakit.
"Udah jangan cengeng" ucap Revan kala melihat Lina hampir menangis.
"Makasih ya Rev, btw Lo kok tahu cara ngobatin kaki keseleo?" balas Lina berterimakasih sekaligus bertanya.
"Gua pernah keseleo waktu main basket" balas Revan sembari mengompres pergelangan kaki Lina.
Selang beberapa waktu Mirna datang ke UKS sambil berteriak memanggil nama sahabatnya. Mirna begitu khawatir dengan keadaan Lina.
"Linaaaaa.... lo kenapa?" ujar Mirna sambil menatap kearah Lina dan Revan.
"Gua gapapa Mir, cuma keseleo aja" jawab Lina.
Seperti biasa jiwa keisengan Mirna muncul. Ingin rasanya Lina membalas perbuatan sahabatnya itu.
"Kayaknya gua ganggu nih" bisik Mirna lagi sembari mencubit lengan Lina.
"Bu Susi sebentar lagi datang, gua tinggal dulu ya, teman Lo udah ada" ujar Revan berpamitan dengan Lina dan juga Mirna.
Setelah Revan meninggalkan UKS Lina segera mencubit lengan Mina. Kehadiran Mirna telah menjadi bencana dalam kisah asmara Lina.
"Ganggu aja sih Lo" ucap Lina bercanda.
Mirna pura-pura tidak dengar dan tetap mengompres pergelangan kaki sahabatnya. Kaki Lina terlihat membiru dan bengkak.
__ADS_1
"Gila, hari ini pengumuman juara, tanpa diumumkan aku juga tahu kalo Revan sang juara hatiku" ucap Lina alay.
Jiwa kebucinan Lina pun muncul seketika. Mirna hanya menggelengkan kepalanya dan menekan kaki Lina yang keseleo untuk menyadarkannya.
"Au sakit tahu, bisa nggak sih lo selembut pangeran gua tadi" ucap Lina lagi.
"Dasar manusia gak waras" balas Mirna sambil menggerutu.
••••••
Setelah satu jam di UKS, Lina telah di obati dan diberi bebat pergelangan kaki berbahan elastis oleh Bu Susi. Ini bertujuan untuk meredakan bengkak, mengurangi pergerakan dan menopang pergelangan kakinya. Lina merangkul Mirna menunju halaman sekolah.
Murid-murid sudah berbaris rapi, sebentar lagi pengumuman juara-juara kelas dan penerimaan rapor akan segera di mulai. Mirna membantu Lina duduk di bangku dekat halaman sekolah, ia belum bisa berdiri terlalu lama.
Pak Rahmat sebagai kepala sekolah mereka mulai mengucapkan salam pembuka untuk memulai acara. Pengumuman juara-juara kelas dimulai dari tingkat satu dilanjutkan oleh tingkat dua dan diakhiri oleh tingkat tiga serta juara umum. Saat pengumuman juara kelas XI IPA 1 diumumkan, Revan keluar sebagai juara pertama dan Lia sebagai juara ketiga.
"Juara satu dari XI IPA 3 diraih oleh Lina Stevia Putri, dengan nilai rata-rata 93,08" ucap Pak Rahmat yang di sambut tepuk tangan meriah dari murid lain.
Lina berjalan tergopoh-gopoh dan kemudian berdiri di depan. Revan sebarisan dengannya selaku juara pertama IPA 1, mereka berada diantara Monika si juara satu dari IPA 2. Juara umum diraih oleh Kak Mike, Ketua OSIS mereka dari tingkat tiga.
•••••
Setelah selesai pengumuman juara, Lina langsung dijemput oleh Mamanya. Sekolah telah mengabari Mama mengenai kondisi kaki Lina.
"Ya ampun, kok bisa jadi begini" tanya Mama khawatir seraya membantu Lina naik ke mobil.
"Makasih ya sayang udah nolongin Lina" lanjut Mama lagi kepada Mirna yang mengantar Lina ke depan sekolah.
"Sama-sama Tante, Mirna pulang dulu ya" ujar Mirna berpamitan dan melambai pada Lina.
__ADS_1
Mama memberikan banyak pertanyaan pada saat jalan pulang. Lina menjawab pertanyaan Mama sembari memikirkan kejadian di UKS tadi.