Future Husband

Future Husband
Bab 31


__ADS_3

Lina membuka matanya, hari-hari berlalu dengan cepat. Sekarang mereka berada di kelas tiga semester dua. Semakin dekat dengan yang namanya perpisahan.


Lina memakai seragam dengan cekatan. Dia memberikan sedikit liptin di bagian bibirnya. Setelah itu dia turun untuk sarapan bersama keluarga tercinta.


"Pagi sayang" ujar Papa.


"Pagi Pa" jawab Lina bersemangat.


"Kamu terlihat lebih cantik pagi ini" ujar Papa lagi.


"Dasar, bisa-bisanya Papa gombal Lina" ujar Lina.


Setelah sarapan, Lina berangkat sekolah diantar oleh Papa. Selama perjalanan mereka hanya tertawa riang sembari menyanyi bersama.


"Hati-hati ya sayang, semangat sekolahnya" ujar Papa mencium kening putrinya.


"Terima kasih Pa" balas Lina.


Lina masuk ke kelasnya lebih awal dari biasanya. Hari ini dia piket kelas, Lina mulai menyapu kelas dan halaman.


"Pagi Lina" ujar teman semeja nya.


"Pagi Revan" jawab Lina.


"Hari ini kita piket ya" ujar Revan lagi.


"Iya Van" jawab Lina.

__ADS_1


Suasana kelas benar-benar sepi, hanya ada mereka berdua. Revan berjalan mendekati Lina yang sedang menyapu teras kelas.


"Lin, ada sesuatu yang ingin gua omongin" ujar Revan.


"Ada apa Van?" tanya Lina penasaran.


"Lin selama beberapa bulan ini gua selalu memerhatikan lo, lo kelihatan lebih dekat dengan Leo, kalian ada hubungan?" tanya Revan.


"Nggak, kita hanya berteman" jawab Lina.


"Serius?" tanya Revan lagi.


"Iya Rev, kenapa emang?" tanya Lina.


"Lin, lo mau nggak jadi pacar gua?" tanya Revan.


Lelaki idaman Lina sejak ia masih SMP akhirnya menyatakan cintanya. Lina begitu terkejut hingga tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dengan refleks dia mengangguk, dia tidak sanggup menahan kebahagiaannya.


"Eh tapi lo serius kan?" tanya Lina lagi.


"Gua serius Lin, gua gak bohong" jawab Revan.


"Jadi gua diterima nih?" tanya Revan.


"Tentu saja" balas Lina bahagia.


Hari ini resmi menjadi hari pertama Lina melepaskan masa singlenya. Sewaktu istirahat Lina datang menemui sahabatnya Leo.

__ADS_1


"Leo gua punya kabar bagus nih" ujar Lina riang.


"Apa itu, lo semangat banget" jawab Leo.


"Tebak apaan" ujar Lina.


"Lo dapat uang jajan tambahan?" tanya Leo.


"Dasar Leo, gua jadian sama Revan, cinta pertama gua" jawab Lina semangat.


Wajah Leo langsung berubah, dia memaksakan senyum di wajahnya. Dia memberikan selamat kepada sahabatnya yang cantik.


"Selamat ya Lin, akhirnya cinta lo terbalaskan" ujar Leo.


"Makasih Leo, lo emang sahabat terbaik gua" jawab Lina semangat.


"Lin, ke kantin yuk" ajak Revan.


Lina langsung gugup di datangi oleh Revan. Wanita itu salah tingkah, bagaimanapun ini hari pertama mereka jadian.


"Ayo, lo mau bareng nggak Leo?" tanya Lina pada Leo.


"Lanjut Lin, gua masih ngantuk" jawab Leo dengan senyuman terpaksa.


"Ya udah gua ke kantin dulu ya, nanti gua beliin roti kesukaan lo" jawab Lina seraya pergi bersama Revan.


"Kesukaan gua itu elo Lin, bukan rotinya" ujar Leo pelan setelah Lina jauh melangkah.

__ADS_1


Leo menatap punggung Lina dari belakang. Dia senang sekaligus sedih, senang bisa melihat Lina bahagia, sedih melihat Lina bersama dengan lelaki yang bukan dirinya.


Leo meraih ponsel dari tasnya. Dia hendak menghubungi kedua orang tuanya. Setelah pertimbangan yang cukup matang, akhirnya Leo memutuskan untuk pergi ke Amerika menyusul orangtuanya. Dia merasa kini Lina sudah bahagia, tidak ada lagi alasan untuk menahannya tinggal di Indonesia.


__ADS_2