Future Husband

Future Husband
Russia


__ADS_3

"Mom, Dad ada di Rusia." Jeje mengangguk pertanda ia sudah tahu akan berita ke datangan Aldo ke Russia.


"Lalu ke napa Mom tidak menemuinya?" Jeje menutup buku yang Ia baca saat pertanyaan itu muncul dari bibir Roman yang sangat jarang bicara itu, Jeje menatap intens puteranya itu.


Jeje tersenyum.


"Bukan Mom tidak ingin Rom, tapi ini bukan waktunya. Kau bukannya tidak tahu bukan? Daddy sedang di incar oleh para sniper. Selama kita belum tahu kapan mereka akan melakukan hal itu pada Daddymu, Mom akan semakin membahayakan Daddymu." Roman berpikir sejenak dan apa yang di katakan Mommynya itu memang benar. Bahkan nyawa Mommynya juga bisa berbahaya jika Jeje memaksakan bertemu dengan Aldo saat ini juga. Mengingat sniper itu juga berasal dari Russia.


"Lalu kapan Mom akan menemui Dad?" Jeje tersenyum, Jeje sendiri tidak bisa memperkirakan kapan pertemuannya dengan Aldo akan terjadi.


"Secepatnya jika Kamu sudah menyelesaikan tugasmu." Roman mendesah pasrah, Ia lupa akan tugas yang di berikan Jeje itu. Mengingat status Jeje yang sudah menjadi istri Aldo.


"Ke napa file itu masih berguna, jika Dad sekarang sudah mencari Mom?" Jeje menggeleng tegas pada Rom atas pendapat Rom akan status pernikahannya dengan Aldo.


"File itu milik Daddymu dan Kau harus mengembalikannya ke pemilik aslinya." Roman mengangguk pasrah akan perintah Jeje.


"Baiklah Mom." Jeje tersenyum pada Roman.


"Di mana Lian?" Jeje ingat dengan puteranya yang sangat bandel itu, Jeje tidak melihat Lian dari pagi tadi dan entah apa yang di lakukan puteranya itu.


"Lian sedang jalan-jalan dengan istrinya." Jeje tersenyum, Jeje merasa sedikit iri akan ke harmonisan rumah tangga Lian dengan Heln yang tidak seperti dirinya. Penuh dengan masalah yang tidak kunjung selesai.

__ADS_1


"Baiklah, Kau juga harus luangkan waktumu untuk berlibur Rom." Roman menatap Jeje dengan ogah-ogahan, Ia begitu malas akan hal-hal seperti itu. Mending Ia menghabiskan waktu di lab juga ikut Will menjajal berbagai mobil koleksi mereka.


"Aku tidak berminat Mom." Roman berdiri dari kursinya lalu berniat ke luar sebelum pintu itu di buka lebih dahulu oleh sang Kakak pertama,siapa lagi jika bukan Will. Will menatap Roman dengan satu alis tertarik ke atas.


"Ku kira Kau ikut Lian?" Rom mendesah lalu Ia melangkah menjauh dari ruangan Jeje tanpa mau susah-susah menjawab pertanyaan Will, Will mengangkat bahunya acuh. Memang seperti itulah saudaranya itu, jika itu penting maka akan di jawab dan jika tidak ya seperti itulah Roman. Pertanyaannya akan di anggap angin lalu saja.


"Mom." Jeje mendongak lagi saat Will menyapanya, Jeje berniat kembali membaca bukunya. Namun Ia urungkan saat Will menyapanya.


"Ya Will?".


"Mom tidak menemui Dad?" Jeje membuang nafas, pertanyaan yang sama batin Jeje. Semua seperti itu, selalu saja. Berita ke datangan Aldo ke Russia benar-benar membuat seisi rumah heboh, apalagi dengan Jovan dan Jonas. Bahkan ke dua puteranya itu memaksa Jeje untuk segera membawa Aldo ke mansion tanpa tahu ada masalah pelik di antara Aldo dan Jeje.


"Mom." Jeje menaikkan satu alisnya saat wajah puteranya itu terlihat sangat serius. Serius ingin tahu akan sesuatu yang sudah mati-matian Jeje tutupi.


"Apa Mom tidak rindu Dad? Mungkin Dia rindu?" Jeje melihat ke bawah, di mana Ia tidak harus menatap mata Will agar Dia bisa menyembunyikan yang sebenarnya. Mana mungkin Jeje tidak rindu pada suaminya itu? Jeje sudah dari awal begitu merindukan suaminya itu.


"Selesaikan cepat pekerjaanmu, jika kalian ingin Mom menemui Daddy kalian!" Will mengangguk, hanya tugas ringan itu. Dalam hitungan jam saja Will mampu. Tapi dari kemarin Ia harus sibuk pada gudang senjata dan mengantarkannya ke rumah Pak tua itu.


"Baiklah alAku akan lakukan sekarang, apa Rom telah siap?".


"Bertanyalah padanya!" Will hanya mengangguk lalu sudah lenyap dari pandangan Jeje.

__ADS_1


Jeje menatap langit-langit ruang kerjanya, apa Ia harus menemui suaminya. Dalam sekejap buku yang ada dalam pangkuan Jeje terjatuh bersamaan dengan hilangnya wanita cantik itu meninggalkan ruangan yang hampa kembali.


****


Di sinilah Jeje berada, dalam radius aman Ia melihatnya. Rasanya Ia ingin lari pada tubuh yang saat pertama Jeje lihat begitu kurus. Apa sampai seperti itu saat dirinya tidak ada?.


Jeje menggunakan jaket hitam dan kemeja putih untuk menutupi jati dirinya, agar pria itu tidak mengenalnya. Pria yang fokus melihat pada relief dan patung yang terpahat indah oleh penciptanya.


Jeje tersenyum, senyum rindu yang kentara. Tapi Ia bisa apa? Ia sama sekali belum berani menemui pria itu dengan tatapan mata yang pasti akan beradu, Jeje belum siap akan penolakan lagi. Dan itu tidak ingin Jeje ulangi, hatinya sakit. Sangat jelas meski Dia mampu bertahan sejauh ini, Ia sudah terlatih dari kecil dan itu semua bisa Jeje lakukan.


Jeje terus memandangi punggung itu, saat pria yang entah sejak kapan mampu membuatnya luluh itu menengok ke belakang. Seolah pria itu juga merasakan ke beradaan Jeje. Jeje sendiri tidak yakin kalau pria itu benar-benar mencarinya hingga datang langsung ke Rusia. Tempat yang seharusnya lebih membahayakan nyawa pria itu dari pada Ia tetap menetap di Indonesia.


Jeje mendengar, mendengar suara dari balik ke rumunan orang-orang yang berlarian gaduh di luar sana. Jeje berlari ke luar juga saat Ia tahu bahwa prianya ke luar dari museum belum lama. Suara histeris akan rasa takut terdengar.


Jeje melihat orang menjerit histeris karena sesuatu, di tambah ke panikan yang terjadi. Jeje tidak tahu apa yang terjadi, banyaknya orang yang berkerumun membuat matanya tidak dapat melihat apa yang terjadi sebenarnya.


Mata Jeje menelusuri setiap wajah orang-orang di sana, dan Jeje sama sekali belum menemukan wajah tampan suaminya. Jeje memutar tubuhnya, Jeje masih belum menemukannya. Hanya suara orang panik dan juga sirine ambulans yang datanglah memenuhi indera pendengaran Jeje. 


Semua orang panik itu berangsur mereda dan di sana Jeje dapat bernafas lega, suaminya tepat di sebuah cafe di seberang museum. Suaminya tetap sama, tidak terpengaruh dengan situasi apapun. Suara gaduh masih terjadi namun tidak seperti tadi. Jeje dapat melihat seorang pria bersimbah darah saat tubuh itu di masukkan ke dalam mobil ambulans. Untuk terakhir Jeje memandangi laki-laki yang sangat mempengaruhi segala pilihannya. Dia adalah suaminya, Aldo.


Madiun, 28/06/20

__ADS_1


__ADS_2