
Will berlari dengan tenaga yang Ia punya, Will jago dalam semua hal. Termasuk berlari! Will tidak dapat mendengar apapun setelah Jeje berkata bahwa Ia adalah tawanan dan Ibunya itu adalah targetnya. Will mencoba terus berkomunikasi dengan Jeje namun hasilnya nihil, tidak ada sahutan dari Ibunya.
Will mendengar dua tembakan yang sangat keras tepat di mana itu dapat Will perkirakan tidak ada sesentipun jauhnya dari Ibunya berdiri. Will menggeleng, tidak mungkin Ibunya itu mati dengan mudah. Namun Will harus memastikannya, Will mempercepat gerakan kakinya dan saat kakinya menginjak ballroom. Semua orang membaur, suara teriakan histeris terdengar begitu kuat di antara musik yang masih saja di putar. Orang-orang berhamburan, hanya orang-orang berjas hitam dengan earphone di telinga mereka yang mendekat ke sumber ke jadian menurut Will.
Will mendekat, darah mengalir dari kepala seorang wanita. Dan Will sekali lagi menggeram.
"Kau terkejut Son?".
"Sialan!" suara di seberang malah tertawa saat mendengar umpatan Will.
"Lanjutkan umpatanmu saat Kau berhadapan dengan Mom Son, tempat abu-abu." mau tidak mau Will hanya membuang nafas dengan berjalan meninggalkan tempat yang hampir saja membuatnya mengamuk seumur hidupnya dan mencari penembak yang baru saja melepaskan pelurunya pada kepala wanita yang Ia anggap itu kepala Jeje, Ibunya.
Tidak butuh waktu lama, karena dalam kedipan mata Will mampu melihat Ibunya yang kini dengan 6 orang telah terikat rantai baja dengan gaya khas wanita itu. Will membuang nafas lalu memutar matanya, Dia tidak habis pikir dengan ke lakuan Jeje. Dalam ke adaan hamilpun tidak menjaga tingkah lakunya yang urakan.
"Kau kalah cepat Son." Will berjalan mendekati Jeje.
"Lain kali bisakah Mom memberiku tugas yang benar?" Jeje mengangguk, Ia malas berdebat sekarang.
"Tugasmu!" Jeje mengarahkan dagunya pada semua sniper yang tidak berdaya itu.
"Habis Mom apakan mereka?" Jeje mengedikkan bahunya.
"Memberi mereka minuman surga." jawaban enteng Jeje malah membuat Will bergidik.
"Lain kali biar Aku saja.".
"Atau Aku saja." Jeje dan Will mendongak, menatap sumber suara.
"Kalian ke napa ke mari?" seseorang berjalan mendekat ke arah Will dan seseorang lagi masih menatap Jeje dengan pandangan.
'Mom kau sedang hamil' Jeje membuang nafas lalu menurunkan kakinya.
Lebih baik Jeje menuruti ucapan lewat mata itu dari pada berargumen dengan pria yang tahu bagaimana cara menasehati seorang pasien.
"Aku yang akan menjerat mereka, dan Marcell akan membawa pasiennya." Jeje berdecak.
"Mom bukan pasien, Aku dokter di sini." Marcell menatap Jeje yang menyangkal status wanita itu.
"Dokter tidak akan menjadi pasien jika Dia baik-baik saja, tapi tidak dengan Mom. Lihat? Perutmu sudah terlihat, kasihan Adik kami." saat Marcell berbicara seperti itu, apa yang dapat Jeje perbuat? Lebih baik Ia menurut saja. Jeje berjalan mendekati Marcell yang ada di ambang pintu menungguinya tepatnya.
"Cell." Marcell yang akan berjalanpun menatap Kakaknya.
"Siapkan alat untuk mengecek jantungku, apakah masih berfungsi normal?" Marcell menaikkan satu alisnya.
"Tumben Kau mengeluh sakit saat tugas?" Will menatap Ibunya yang hanya mendengus dengan tatapan menuduh putera pertamanya itu.
"Nanti kalian bisa tanyakan itu pada Mommy." Will meneken kata Mommy yang di hadiahi Jeje dengan juluran lidah.
'Dasar anak nakal'
Jeje hanya diam saat Marcell memeriksanya, di sana juga sudah berkumpul semua puteranya. Bahkan Jovan dan Jonas sudah duduk di ranjangnya yang mewah itu.
"Mom tidak apa\-apa?" pertanyaan muncul dari bibir Jovan.
Jeje menggeleng lalu tersenyum.
"Kalau Jovan tidak percaya, tanyakan saja pada Kak Marcell." kini pandangan bocah itu pada Marcell.
"Bagaimana ke adaan Mom Kak?" Marcell tersenyum, mengusap puncak kepala Adiknya itu dengan sayang.
__ADS_1
"Mom baik\-baik saja, hanya tingkahnya yang labil harus di obati." Jeje menatap tajam puteranya, '*apa yang kau katakan? Jangan mengotori otak Adikmu*!' ya seperti itulah kira\-kira tatapan mata Jeje pada Marcell.
Terlihat mata Jovan dan Jonas yang membulat, menandakan bahwa mereka ingin tahu. Tapi dengan segera Jeje alihkan.
"Son ke mari!" dan berhasil, Jovan dan Jonas dengan cepat bergerak memeluk Jeje saat tangan Ibunya itu terentang.
"Mom harus sehat, kami merindukan masakan Mom." Jeje terkekeh kecil.
"Hanya karena rindu masakan?" ke duanya menggeleng.
"Tidak, rindu dengan semuanya. Mom ingat kapan terakhir kita makan bersama?" Jeje merasa teriris hatinya. Ya! Jeje ada di Russia, tapi sama sekali tidak menginap di rumah besarnya. Hanya sesekali dan itu hanya sebentar. Selebihnya Ia akan di rumah sakit kalau tidak di mansionnya yang lain.
"Baiklah, Mom akan menginap malam ini. Bersama kalian." Jeje mengusap punggung ke duanya. Mereka juga mengeratkan pelukannya.
"Kak." tiba\-tiba Jonas melepas pelukan Jeje lalu menatap Marcell.
"Ya?".
"Apakah Adik kecil sudah bisa di lihat?" Marcell tersenyum geli.
"Boleh Mom?" Jeje hanya mampu mengangguk.
"Adik kecil, nanti kita bertemu." Jovan dan Jonas mengelus dengan lembut perut Jeje.
"Kalau Adik Kak Lian?" Lian ikut bicara, namun ke duanya hanya menatap Lian sekilas lalu menggeleng tegas. Tidak peduli sama sekali, Jeje menatap Lian dengan mata memicing.
"Kau apakan lagi Adikmu?" Lian mengedikkan bahu.
"Mereka saja yang lama.".
"Lama itu Kak Lian, ke napa malah berduaan dengan Kak Heln?" Lian menjulurkan lidah.
"Kak Heln istri Kakak, apa salahnya?" Jovan dan Jonas hanya bersidekap dada melihat Lian memeluk isterinya yang sedang hamil itu.
"Kalian ke luar, Kak Will akan bicara dengan Nom!" Jovan dan Jonas mendesis namun tetap menurut. Mereka mencium ke dua pipi Jeje bergantian lalu turun dari ranjang dengan gaya angkuhnya. Ya! Seperti itulah anak\-anak Jeje.
__ADS_1
Setelah semuanya ke luar Will menatap Jeje. Meminta penjelasan akan tugas yang Jeje berikan padanya.
"Ke napa Mom?" Jeje membuang nafas.
"Will dengarkan Mom, Mom tidak bermaksud membohongimu. Hanya Mom tidak ingin membahayakan nyawamu." Will menggeleng.
"Lantas siapa yang di bahayakan sekarang? Jawab Aku Mom." Jeje tersenyum, senyum menenangkan seorang Ibu di saat anaknya memang sedang pada level seperti Will saat ini.
"Will\-".
"Mom tahu betapa khawatirnya Aku? Apa Mom memikirkannya?" Jeje menatap Will memperingati, namun sepertinya Will bukanlah Will biasanya.
"Will, Mom memikirkan segalanya. Mom sudah memperkirakan semuanya." Will mendecih.
"Semuanya? Sekarang Aku tanya. Apa Mom memikirkan bayi Mom dan Dad?" kali ini Jeje diam. Ya? Apa Dia memikirkan suaminya, bukan! Setidaknya apa Dia memikirkan anak dalam kandungannya? Jeje mengusap perutnya ringan, Jeje bahkan lupa akan ke hadiran calon buah hatinya saat tadi menjalankan misi.
"Tidakkan? Mom terlalu egois dalam segala hal. Setidaknya pikirkan satu orang yang akan sangat ke hilangan Mom jika Mom salah sedikit saja memperkirakan." kali ini suara Will naik satu oktaf. Tidak, Will tidak akan mampu marah pada Jeje jika Jeje juga memikirkan orang lain tanpa membahayakan nyawanya.
"Pikirkan Mom, pikirkan satu orang itu!".
"Mom tahukan, Dia rela datang ke mari hanya untuk Mom? Bisnis? Omong kosong!" Will mengusap wajahnya. Dia tahu perasaan Aldo, ke hilangan orang paling Ia cintai. Meski awalnya Aldo tidak pernah sadar akan rasa cinta itu, tapi melihat bagaimana Aldo. Will tahu jika Aldo begitu tersakiti saat ini.
"Apa Mom tidak puas dengan pergi saja? Apa Mom juga tidak puas lagi dengan mengorbankan nyawa serta anak dalam kandungan Mom? Coba jelaskan pada Will? Siapa yang paling terluka nanti?" air mata hanya mampu menetes dari mata seorang Jeje. Ya! Dia egois, sangat egois pada suaminya.
"Pergilah menemuinya!" satu kata yang Will ucapkan mampu membuat Jeje mendongak setelah tadi Ia hanya mampu menunduk.
Will bersimpuh di samping ranjang Jeje, Ia memberikan senyum. Emosi Ia redakan untuk membujuk Ibunya itu untuk kembali, kembali bersama orang yang memang di takdirkan untuknya.
"Aku tahu alasan Mom, Aku tahu target yang sebenarnya itu Mom bukan Dad. Aset Dad tidak ada apa\-apanya dengan aset Mom, tapi apa Mom masih membutuhkan aset jika orang yang ada di hati Mom tetap terluka? Dan apakah Mom yakin, di sini\-" Will menunjuk dada Jeje dengan senyuman seorang Will yang menawan.
"Di sini Mom tidak merasa terluka juga?" Jeje tersenyum namun juga menangis, Ia merentangkan tangannya. Memberikan Will pelukan, atau lebih tepatnya Jeje yang ingin pelukan dari Will. Will melakukannya, memeluk Ibunya itu. Mengusap punggung Jeje naik turun saat Ibunya itu malah menangis di bahunya.
"Aku yang akan bicara pada Jovan dan Jonas.".
Madiun,04/07/20
__ADS_1
