
Will mengendarai mobil sportnya dengan tidak sabaran, Ia baru tahu dan baru menyadari jika Ia begitu bergantung pada gadis yang sangat Ia hindari. Gadis dengan cat pink pada ujung-ujung rambutnya. Sesuai dengan namanya yang begitu unik, Pinka.
Pinka adalah gadis yang entah dari mana datangnya itu mampu membuat Will yang biasanya kalem sering kali marah-marah setiap harinya. Pinka adalah gadis yang hanya Jeje tahu asal muasalnya. Gadis yang 3 tahun yang lalu berbaring di ranjangnya membuat Ia harus mandi air dingin, tentu saja karena Dia adalah lelaki normal. Lagian siapapun pria yang melihat wanita tanpa kain sehelai benangpun pasti akan merasakan hal yang sama, hanya saja Will adalah pria jenius yang mampu menutupi itu dari semua orang.
Will sadar bahwa selama ini Ia belum mengenal Pinka, dirinya begitu anti pada semua wanita. Kecuali Jeje yang adalah Mommynya, dan tentu keluarga Kelvin lainnya.
Will memutar kemudi saat Ia memasuki stasiun kereta bawah tanah, mematikan mobil dan melangkah ke luar dengan tergesa tanpa ingat menutup pintu mobilnya. Will tidak memikirkan itu, jika mobilnya hilang maka akan beli lagi. Will tidak serumit orang-orang yang akan membuat laporan ke hilangan jika mobilnya hilang.
Will berjalan dengan langkah kaki lebar, hampir seperti berlari. Matanya terus menerobos kumpulan orang-orang yang mengantri untuk masuk kereta. Gelapnya malam menyusahkannya untuk melihat wanita yang menyusahkan ini, oh bukan. Tapi wanita yang mampu merebut semua perhatian Will hanya sebuah ucapan Jeje. Tapi telah mengoyak pertahanannya yang sebenarnya rapuh namun terlihat kuat.
Will menjadi dekat dengan seorang wanita dan Will rela menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke stasiun ini, sungguh rekor baginya. Will selalu menghabiskan waktu di lab ataupun memodifikasi mobil sportnya.
Will terus mencari, tapi sepertinya wanita itu pintar bersembunyi darinya. Kaki Will yang panjang kembali melangkah ke arah kursi tunggu. Tapi lagi, tidak ada ciri wanita itu di sana.
Hingga terdengar pengumuman bahwa kereta sebentar lagi akan berjalan. Bahkan pintu kereta telah di tutup, Will segera berlari di tepi kereta. Will berharap Ia dapat melihat semua penumpang dari balik jendela kaca kereta.
Kereta perlahan berjalan, mata Will seperti mata elang yang siap memangsa. Tapi tetap nihil, jantungnya memberontak, akalnya tidak terima Ia di permainkan. Tangannya mengepal kuat, siap menghantam siapapun yang menghalangi jalannya untuk kembali mendapatkan wanita itu.
Will kalah, ini akhir dari gengsinya yang selangit. Ia bersimpuh, kepalanya tertunduk lemah kala wanita yang dengan sengaja itu masuk dalam pikiran juga hatinya. Will menarik kemejanya tepat di dada.
"Ke napa rasanya nyeri?" Will bertanya, hingga suara seseorang membuatnya mau tidak mau meneteskan air mata.
'Kau kalah Will?' suara dengan nada mengejek itu melukai hatinya.
'Apa Mom senang?' balas Will.
'Tentu, Aku sudah memperingatimu berkali-kali Son, bukan ini pertama kalinya.' Will semakin menunduk, Ia tahu Ia kalah dalam perasaan ini. Wanita itu menang dan membawa hatinya yang utuh serta meninggalkan luka yang sekarang Will rasakan.
'Bantu Aku Mom.' lama tidak ada jawaban dari seberang membuatnya tersenyum, senyum yang mengejek dirinya sendiri atas ke kalahan ini.
'Dia akan kembali pada pria brengsek itu, apa Kau lupa akan ke mampuanmu?' Will mendongak, secercah harapan. Dia begitu bodoh bersikap lemah dan menjadi bahan tontonan di sini. Sial! Ia bicara pada Jeje saja bisa lewat telepati, juga bisa teleport. Apa gunanya ke mampuan itu?.
Suatu harapan yang selalu di berikan malaikat hidupnya. Saat semua membuangnya dulu, malaikat bermarga Kelvin itu memberinya harapan untuk bertahan hingga menjadi Will yang sekarang. Dan sekarangpun sama, malaikat itu kembali membuka harapannya. Melalui pembicaran lewat pikiran ini, sekarang wanita itu mampu memberi sedikit cahaya yang gelap dan mengunci pandangan Will.
__ADS_1
'Temukan Dia di Admiralteisky' Will tersenyum, kakinya kini mulai menapak tegap. Ia menatap sekeliling di mana orang-orang juga menatapnya dengan pandangan aneh. Namun sama sekali tidak peduli, dalam kedipan mata tubuh tegap tinggi itu menghilang membuat beberapa orang histeris serta pingsan akibat ulahnya.
Will menampakkan kakinya di sebuah dermaga kecil di sebuah pulau Admiralteisky. Pulau yang menjadi destinasi wisata di St. Petersburg Russia.
Mata Will meneliti orang-orang yang lalu lalang ke luar dermaga hingga matanya menatap seorang perempuan yang di gandeng paksa oleh seorang lelaki. Kuku jari Will memutih, wajah pucat yang tampil di matanya menambah ke marahan Will memuncak. Dengan hembusan angin Will sudah berpindah tepat menghadang langkah kaki pria dan wanita yang Ia cari.
Mereka sontak terkejut.
"Apa Kau bersenang-senang Pinka?" jelas bukan sebuah pertanyaan, lebih tepatnya sebuah geraman ke marahan yang sengaja Will tahan.
Wanita itu tampak meneteskan air mata, Ia ingin melangkah. Berlari pada lelaki yang sejak pertama Ia harapkan akan hadir di sisinya. Untuk melindungi dan memperhatikannya. Tapi itu sia-sia saja karena langkahnya terhenti oleh pria di sampingnya juga perasaan Will terhadapnya. Pinka begitu takut jika Will tidak ada di hadapannya, maka apa yang terjadi padanya akan lebih buruk sebelum Ia tiba-tiba terdampar di kamar pria itu.
Will dan keluarganya yang memperlakukannya dengan sangat baik melebihi keluarganya sendiri. Keluarga yang rela menjual dirinya pada pria hidung belang yang akan menjadikannya budak ****.
Will menatap Pinka dengan pandangan mengancam.
"Apa Kau lebih senang di sana?" Will melihat mata Pinka, mata memohon itu membuat hatinya semakin sakit berkali-kali lipat. Mata yang menyiratkan sebuah permohonan untuk Ia tolong segera.
"Siapa Kau?" Will menatap pria yang memaksa Pinka itu dengan pandangan meremehkan.
"Aku tidak butuh uangmu Tuan, untuk apa juga Kau mengeluarkan uang demi wanita gila ini?" Will tidak suka, apalagi pria itu menghina miliknya. Ya mulai sekarang wanita itu miliknya.
"Apa bosmu membelikan rumah untukmu?" pria itu menggeram.
"Aku tidak tahu maksudmu menghalangiku? Tapi yang jelas, apapun yang Kau tawarkan padaku tidak akan membuat Aku melepaskan ****** ini." belum ada satu detik mungkin, pria dengan kacamata itu tersungkur di tanah. Dengan Pinka yang sudah ada dalam pelukan Will.
"Sial Kau ba-!" belum sempat pria itu mengutuk Will, Will dan Pinka sudah lenyap membuat pria itu tergopoh berdiri dan lari dengan rasa takut yang memenuhi pikiran dan tubuhnya.
Sedangkan Will, hanya membawa Pinka bersembunyi di balik pohon besar tidak jauh dari Will membogem mentah pria yang berani-beraninya membawa wanitanya. Ya wanitanya mulai saat ini dan seterusnya.
Will mengunci pergerakan Pinka pada pohon besar itu, matanya menscan penampilan wanita di hadapanya ini. Pinka sendiri hanya mampu menunduk, takut akan mata Will yang menghunus tepat di manik matanya.
Pinka sadar betul Ia siapa, sudah berapa kali Ia mencoba membuat Will mencintainya tapi itu sama sekali tidak berhasil. Dan yang Pinka dapat adalah, Ia kembali tertangkap oleh pria yang telah membelinya dari keluarganya. Pria ******** yang akan menodainya, namun Tuhan masih begitu menyayanginya.
__ADS_1
"Apa yang Kau pikirkan?" Pinka tetap menunduk dengan gelengan kepala. Will bersidekap dada melihat penampilan Pinka yang begitu berantakan. Rambut yang biasanya rapi itu kini terlihat awutan, seperti habis di paksa lepas dari kepala wanita itu. Will menggeram, Pinka mendongak. Sama sekali tidak berani membangunkan harimau yang tertidur lagi.
"Apa yang mereka lakukan padamu?" Pinka pikir Will marah karena apa, ternyata pria itu mengkhawatirkannya. Sedikit bahagia hingga ke dua sudut bibirnya tertarik samar.
"Pinka." nada penuh penekanan itu membuat Pinka memberenggut. Pinka dengan berani bersidekap dada menatap tajam Will.
"Apa yang Kau harapkan William?" Will tertawa sarkas.
"Kau mulai berani?" dengan sengaja Will memainkan telunjuknya untuk menyusuri wajah cantik Pinka. Pinka merinding tapi tidak membuatnya goyah sama sekali, hanya di hadapan Will Ia tidak boleh lemah. Ia harus jadi Pinka sebelum tragedi tadi.
"Memangnya apa yang perlu Aku takutkan?" jelas itu bukan jawaban yang di harapkan Will, dengan cepat Will mencium bibir gadis itu dengan rakus. Seolah tidak ada hari esok untuknya bisa bersenang-senang dengan Pinka.
"Le--pashhhh!" Pinka mendorong dada Will hingga ciuman ke duanya terlepas. Will menatap sayu wajah Pinka yang sangat shock atas ke lakuannya barusan.
"Kau tahu aturanku Pinka!" Pinka menaikkan alisnya.
"Aturan apa?" dengan membersihkan bibir bekas ciuman Will Pinka bertanya.
"Aku berkata sekali dan itu adalah perintah." Pinka tahu itu, sejak awal Ia datang pria itu memang membuat aturan yang Pinka sendiri tetap menyukainya. Pinka mengangguk mengerti.
Will semakin mendekati Pinka, Pinka memundurkan tubuhnya meski Ia tidak bisa karena pohon di belakangnya.
"Kau adalah wanitaku dan milikku, milik William Kelvin." Pinka terkejut, namun belum sadar dari ke terkejutannya Ia lebih terkejut lagi ketika akan mencerna kata-kata Will seolah angin besar melesakkan tubuhnya hingga sekarang mereka sudah ada di dalam mobil Will yang tertinggal di stasiun kereta kota St. Petersburg.
"Ba-?".
"Diam dan jadilah gadis penurut." apa yang mampu Pinka lakukan selain menahan nafas ketika pria idamannya itu memasangkan sabuk pengaman dan menepuk puncak kepalanya. Memang kata perintah selalu Will lontarkan, tapi senyum pria itu membuat jantung Pinka berdetak tidak normal.
Pinka mengangguk patuh.
"Good girl.".
Madiun, 19/07/20
__ADS_1