Future Husband

Future Husband
Bab 22


__ADS_3

Seminggu sudah Papa di rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri. Mama setiap malam selalu mendoakan Papa dalam sujud nya pada saat shalat tahajud.


Malam ini udara rumah sakit sedikit berbeda. Sejuk, angin seakan bersahabat dengan Lina, ia berjalan keluar dari rumah sakit. Pergelangan kakinya yang keseleo berlahan sembuh setelah sepuluh hari dalam pengobatan


Langit tanpa bintang seakan menyapa gadis itu. Suara notifikasi dari handphonenya berbunyi, tetapi Lina enggan melihatnya. Lina berjalan terus hingga sampai di pagar rumah sakit.


"Mang, es dawet nya satu" ia memesan sebungkus es dawet, tidak biasanya ada es dawet di malam hari begini.


"Kenapa wajahnya lesu gitu neng?" tanya Mang dawet.


Lina hanya tersenyum dan mengatakan keadaannya sedang ada masalah. Mang dawet diam sejenak, kemudian menyerahkan pesanan Lina.


"Kalimat habis gelap terbitlah terang itu nyata adanya Neng" ujar si Mamang.


"Terus berdoa dan berusaha" lanjutnya lagi.


"Iya Mang, saya yakin kami bisa melewati ini" ujar Lina.


Gadis itu tidak begitu menceritakan kejadian detail yang sedang menimpa keluarganya karena ia tidak mengenal si Mamang. Nyatanya walaupun demikian, si Mamang tahu bahwa gadis itu sedang dalam masalah dan Mamang memberikan nasehat sebagai motivasi untuknya.

__ADS_1


Lina kembali ke ruangan Papa setelah menghabiskan es dawet miliknya. Selama perjalanan, ia lagi-lagi menatap langit, ntah bagaimana langit terlihat lebih indah dibandingkan saat ia hendak keluar tadi. Lina bergegas mempercepat langkahnya menuju ruangan Papa.


••••••


Revan menatap kertas berisi puisi-puisi indah di tangannya. Dia tertegun dan mengingat kembali kenangan puisi itu. Lagi-lagi wajah wanita itu memenuhi pikirannya. Apakah dia sudah mulai membuka hati? dia bahkan tidak dapat menjawab pertanyaannya sendiri.


Semenjak pertama kali bertemu Revan sudah langsung mengenali wajah gadis ini. Tetapi Revan tidak menyukai gadis agresif karena masa lalunya yang kurang baik.


Tetapi semakin Revan ingin menjauh, semakin kuat keinginannya untuk selalu melindungi gadis ceroboh itu. Buruknya, setiap Revan melihat gadis itu, dia akan teringat pada gadis lain yaitu Diandra.


Tetapi Diandra bukan satu-satunya alasan Revan tidak bisa menyukai gadis itu sepenuhnya. Gadis itu terlalu polos untuk mengetahui kondisi di sekitarnya.


"Kalau suka ya bilang aja, apalagi dia juga suka sama Lo" ujar Rio sahabat Revan ketika mata Revan sering menatap gadis itu di sekolah.


Revan hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak begitu yakin dengan perasaannya. Jauh di lubuk hatinya masih mengharapkan Diandra berubah dan mengakui semua kesalahannya. Tetapi Revan juga tidak bisa melihat Lina bersedih dan berharap.


Revan kembali menutup kotak surat berisi puisi-puisi indah yang ia dapatkan dari gadis yang akan selalu mencintainya. Revan mungkin ragu, tetapi gadis tersebut akan membuktikan kesungguhannya untuk memiliki Revan.


••••••

__ADS_1


Lina membuka pintu ruangan Papanya. Matanya tertuju pada seorang lelaki yang sedang menatap lembut istrinya.


"Papa, Papa sudah sadar, Alhamdulillah" ujar Lina yang kemudian menangis haru.


"Kamu darimana aja sayang, Mama terus-terusan nelpon kamu" ucap Mama dengan wajah berbinar.


"Maaf Ma, Lina gak lihat handphone tadi" balas Lina sambil menghampiri Papa.


Wajah Papa tampak pucat, dia masih lemah. Mama bilang dokter baru saja mengecek kesehatan Papa yang sudah membaik. Tetapi dikarenakan baru sadarkan diri, Papa harus di rawat selama beberapa minggu lagi di rumah sakit.


Tanpa henti Lina selalu berterima kasih kepada sang pencipta yang telah menyembuhkan Papanya. Gadis itu bahagia, terkhusus melihat wajah Mamanya yang langsung berubah dalam sekejap ketika Papa sudah sadarkan diri.


Lina memberitahu kabar baik itu pada Mirna dan Revan, mereka pasti kuatir. Keesokan harinya Papa sudah bisa diajak berbicara sedikit.


"Papa istirahat yang banyak ya" ujar Lina.


"Maafin Papa ya sayang, kamu jadi tidak bisa liburan" balas Papa dengan perasaan bersalah.


"Apapun demi kesehatan Papa, liburan itu nomor kesekian" balas gadis itu menyenangkan hati Papanya.

__ADS_1


__ADS_2