
Mereka tiba disaat sebagian besar orang mengalami panik dikarenakan tidak belajar. Sebagiannya lagi merupakan bagian orang-orang santuy, khususnya di bawel Mirna.
"Lebay bat deh panik gegara ujian" ujar Mirna berbahasa alay.
"Sifat orang kan pada beda Mir", jawab Lina santai.
"Lo sih enak pinter dari sononya, gak usah belajar juga dapat" lanjut Mirna lagi.
Lina cuma bisa geleng-geleng untuk kesekian kalinya. Walaupun mereka memiliki sifat yang bertolak belakang, tetapi Lina sangat menyayanginya.
********
Ujian berlangsung selama seminggu sejak hari Senin hingga Sabtu, hari terakhir ujian ditutup dengan ujian kesenian. Seminggu ini Lina asik belajar dan memikirkan Revan hehe.
"Finally, UAS berakhir juga" ujar Mirna kegirangan.
"Giliran gini aja Lo senang amat" balas Lina.
"Ye, biarin dong, suka-suka gua" jawab Mirna tak mau kalah.
Mereka terus menelusuri koridor, hendak pulang setelah semua ujian selesai. Baru saja Lina meniatkan akan tidur siang, Mirna sudah menggagalkannya.
"Eh Lin, nongkrong dulu yuk" ajar Mirna.
"Hitung-hitung nyantai setelah terbebas dari ujian, hehe" sambungnya lagi.
"Yaudah kuy" balas Lina singkat.
__ADS_1
"Hai Lin" sapa seseorang, dia adalah Leo.
"Eh Leo, apa kabar?" sahut Lina.
"Gua sehat, gimana ujiannya? tanya Leo.
"Biasa aja hehe" balas Lina kemudian.
"Eh siapa ni cowok, ganteng juga" bisik Mirna pada Lina.
"Entar gua ceritan" balas gadis itu.
"Pada buru-buru nih?" tanya Leo.
"Kita mau nongkrong nih, Lo ikut nggak?" ajak Mirna tanpa basa-basi.
Lina hanya bisa menyikut lengan Mirna memberi isyarat. Dia begitu kaget dengan ucapan yang keluar dari mulut sahabatnya itu.
Lina hanya terdiam dan pasrah. Dia tidak bisa menolak permintaan sahabatnya.
"Eh sepertinya kurang asik deh kalo Lo cowok sendiri" ujar Mirna lagi.
"Eh Revan, kebetulan Lo lewat, Lo mau nggak nongkrong bareng kita? gak asik nih kalo Leo cowok sendiri" ajak Mirna pada Revan yang kebetulan lewat.
Astaga si Mirna udah geger otak ngajakin Revan disaat ada Leo batin Lina. Lina merasa risih dan salah tingkah di hadapan Revan.
"Yaudah yok, gak masalah kok" jawab Revan santai.
__ADS_1
Revan juga tersenyum ke arah Leo dengan akrab. Lina tidak tahu apakah Leo mengetahui bahwa Lina suka Revan, tetapi mungkin Revan belum mengetahui kalau Leo menyukai gadis itu.
"Lo ngapain sih ajak si Revan juga, udah pake acara ngajakin Leo lagi, Lo tau nggak Leo itu siapa, dia itu cowok yang ngejar gua sejak SMP" Lina mengirimkan pesan WhatsApp kepada Mirna yang berada di sampingnya.
"Ya bagus dong, paling perang dunia ketiga di mulai, hahaha" balas Mirna dengan isengnya.
"Kita mau nongkrong dimana Lin, gua bawa mobil kok" ujar Leo bersemangat.
Lina melirik ke arah Revan, dia santai seperti biasanya. Wajah Revan bersinar layaknya pangeran yang ia nantikan.
"Eh bagus dong Lo bawa mobil, kuy cari cafe terbaik" balas Mirna lebih semangat lagi.
Lina hanya diam menyaksikan, sama seperti yang dilakukan oleh pangerannya. Mereka berangkat menuju cafe yang merupakan rekomendasi dari Mirna. Revan duduk di depan bareng Leo, sedangkan Lina dan Mirna berada di belakang.
"Eh kalian gak kenalan?" ujar Mirna blak-blakan.
"Kita udah saling kenal lah, kitakan sepupu, ya nggak bro" balas Leo menghadap Revan sebentar kemudian menghadap ke Lina lagi.
"Ha?" Lina dan Mirna sama-sama terkejut.
"Kok kaget gitu?" ujar Leo lagi.
"Beneran Van?" tanya Mirna yang dibalas anggukan dari Revan.
Mereka akhirnya sampai di Cafe pilihan Mirna, Lina masih belum percaya kalau mereka sepupuan. Kok bisa? kok pas banget? ujar batin gadis itu tidak percaya.
"Hati-hati neng" ucap Leo sambil tersenyum saat Lina hendak keluar dari mobil.
__ADS_1
"Apaan sih lo, dasar" balas Lina bercanda.
Mereka pun masuk ke Cafe dan memesan makanan serta minuman. Lina suka curi-curi pandang pada Revan.