
Jam menunjukkan puluh 22.00, Lina masih menunggu di luar ruangan. Kesedihan menyelimuti dirinya di malam yang dingin ini.
"Mbok tolong bawa Lina makan malam" ucap Mama dari dalam ruangan dengan mata sembab.
Mbok Lastri segera mengajak Lina makan malam ke warteg dekat rumah sakit. Mereka tidak kepikiran lagi untuk mencari restoran, mereka lebih memilih tempat makan yang dekat.
"Barengan aja Ma" ajak Lina kemudian, Mama hanya menggelengkan kepalanya.
"Kita gantian aja ya sayang, Mama jagain Papa disini" ucap Mama.
Lina mengangguk patuh karena tidak mau Mama bertambah sedih. Lina dan si Mbok berjalan meninggalkan ruangan Papa untuk makan malam.
"Pesan nasi pakai ayam satu, pakai telur satu ya" ucap si Mbok kepada penjual nasi.
Kebetulan kedai Nasi 24 jam ada di samping rumah sakit. Orang-orang terlihat ramai, mungkin sebagian besar dari mereka adalah keluarga orang yang sedang dirawat di rumah sakit. Lina duduk di pojokan dengan si Mbok.
"Pesanin nasi ayam nya satu lagi Mbok buat Mama" ujar gadis itu mengingatkan.
__ADS_1
"Oiya, takut nya nanti semakin ramai" balas si Mbok.
Mbok Lastri pergi untuk memesan satu bungkus lagi buat Mama. Lina makan tanpa semangat, baru saja tadi ia bahagia dikarenakan Revan, kini sudah berduka dikarenakan Papa. Lina teringat nasehat yang pernah Papa sampaikan kepadanya.
"Kehidupan akan selalu berputar Nak, kamu tidak akan tahu kapan bahagia akan mendatangi mu kapan duka akan mengunjungimu" ujar Papa dulu sewaktu Lina sedang sedih.
"Nikmati saja setiap kondisi yang ada, karena kamu kuat untuk melewatinya" kalimat penyemangat yang diberikan Papa ketika dulu Lina pernah menangis dikarenakan juara satu yang biasanya ia dapatkan direbut oleh temannya.
Sejenak menatap langit tanpa bintang, dalam hati Lina berdoa kembali untuk kesehatan Papa. Hawa dingin mulai terasa, gadis itu lupa membawa jaketnya.
Tak lama setelah mereka selesai makan, si Mbok langsung membayar tagihan. Mereka kembali ke ruangan membawa makanan untuk Mama.
"Kamu pulang dulu ya sayang, besok bawakan beberapa baju bersih buat Mama" ujar Mama tadi malam.
•••••
Lina memakan sarapan yang di siapkan si Mbok. Wanita itu masih tidak percaya akan kejadian yang. menimpa keluarganya.
__ADS_1
"Kita boleh bersedih Non, tetapi kesehatan tetap harus di jaga, kalau Non sakit siapa yang akan jagain Bapak dan Ibu" nasehat si Mbok ketika Lina mogok makan.
Suasana rumah yang biasanya hangat berubah seketika. Sejak semalam ia tidak membuka handphonenya. Terlihat pesan dari Revan yang belum sempat ia baca.
"Lo boleh pinjam komik-komik gua kalau bosan" tertulis sebuah kalimat indah tetapi tidak dapat ia rasakan karena suasana hatinya yang tidak baik.
"Papa gua kecelakaan Rev, kejadiannya semalam, sepertinya gua gak bakal sempat baca komik lo, lain kali ya" balas Lina pada Revan.
Setelah beberapa menit teleponnya berdering, panggilan masuk dari Revan. Lina akhirnya mengangkat telpon setelah ragu untuk beberapa saat.
"Halo" ucap gadis itu membuka pembicaraan.
"Gimana keadaan Papa lo Lin?" tanya Revan.
Lina menceritakan kondisi Papa yang belum sadarkan diri dan di rawat di rumah sakit. Revan turut berdukacita mendengar kabar darinya.
"Rumah sakit yang mana Lin? Ruangan nomor berapa?" tanya Revan di akhir percakapan mereka.
__ADS_1
Lina memberitahu alamat lengkap rumah sakit serta nomor ruangan Papa. Setelah panggilan selesai, Lina bergegas mandi dan bersiap-siap untuk menyiapkan barang yang di perlukan Mama. Si Mbok membantunya memilih pakaian Mama dan menyiapkan makanan. Lina segera turun ke bawah dan bergegas ke rumah sakit.