
Sore hari terlihat mendung, seperti halnya keadaan keluarga Lina yang sedang tidak baik. Mama akhirnya kembali ke rumah untuk istirahat sejenak setelah lama di bujuk oleh si Mbok.
Selama tiga hari penuh Mama di rumah sakit tanpa tidur terbentang. Mama hanya sekedar ketiduran di bangku rumah sakit dan kemudian bangun lagi melihat keadaan Papa.
"Nyonya sebaiknya pulang dulu, istirahat sejenak di tempat tidur" ujar di Mbok.
"Nanti malam nyonya datang lagi, saya takut nyonya sakit" bujuk si Mbok lagi.
Mama akhirnya mengalah, perkataan si Mbok. Memang benar kalau Mama sampai sakit, Mama tidak bisa lagi menjaga Papa.
"Sayang kamu jaga Papa ya, nanti malam Mama balik setelah istirahat dan mandi" ucap Mama dengan wajah lesu dan pucat.
Lina mengangguk patuh terhadap setiap kalimat Mama. Lina sungguh sedih melihat wajah sembab Mamanya.
"Mbok, Lina jaga Papa di dalam ya" sahut gadis itu pada si Mbok yang sedang duduk di bangku dekat pintu ruangan Papa.
Lina memegang erat tangan Papa, berdoa dalam hati dan meneteskan air mata tanpa suara. Sudah tiga hari Papa belum sadarkan diri, Lina benar-benar takut.
•••••••
"Jangan tinggalkan aku sayang, bagaimana bisa aku dan Lina bahagia tanpa kamu" ucap Mama menangis begitu kuat.
Lina melihat si Mbok yang berusaha menenangkan dengan mengelus pundak Mama. Lina tidak percaya Papanya sudah tiada untuk selamanya.
"Papa mu telah pergi nak, telah pergi" ucap Mama menangis sambil memeluk gadis itu.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan Lina Pa, Lina sayang Papa" ujar gadis itu di sela tangisnya.
Lina menangis sembari memanggil Papanya. Dokter dan beberapa suster berusaha menghibur Lina dan Ibunya, gadis itu diam terpaku melihat tubuh Papanya yang sudah berbaring tidak bernyawa. Lina merasa tidak berdaya, badannya seketika panas dan ia hendak pingsan.
••••••
"Non, bangun non, sholat magrib dulu" suara si Mbok membangunkan Lina dari mimpi buruknya.
Lina membuka matanya, melihat Papa yang masih belum sadarkan diri di sampingnya. Lina hanya bermimpi, syukurlah ia takut itu benar-benar terjadi. Lina segera berwudhu dan mengerjakan sholat magrib.
"Tadi waktu si Mbok bangunin, badan Non terasa panas? Non sakit?" tanya si Mbok.
Lina menggeleng dan menjelaskan alasannya dikarenakan bermimpi Papa sudah meninggal. Setidaknya ia bersyukur semua itu hanya sebuah mimpi buruk.
"Non hanya bermimpi, oiya Non tadi sore ada teman Non yang datang. Berhubung si Non tidur dia hanya titip salam, dia melarang si Mbok bangunin Non" ujar bibi panjang lebar kepada Lina.
Lina langsung mengerutkan dahinya dan bertanya kepada Bibi siapa gerangan yang datang. Lina sudah menerka-nerka siapa gerangan yang menjenguk Ayahnya.
"Ganteng Non, kalo gak salah namanya ev, apa ya si Mbok lupa Non" balas bibi.
"Revan mbok?" tanya Lina lagi.
"Iya itu, pas sekali Non" si mbok langsung mengiyakan dengan jelas.
Lina tidak habis pikir Revan benar-benar berkunjung ke rumah sakit. Ternyata bukan hanya basa-basi semata ketika ia menanyakan alamat rumah sakit dan nomor ruangan Papa.
__ADS_1
"Mas Revan membawakan buah Non, itu diatas meja" ujar si Mbok.
•••••
"Assalamualaikum" satu jam kemudian Mama kembali ke ruangan Papa.
"Wa'alaikumussalam" Lina serentak menjawab salam Mama dengan si Mbok.
"Mama sudah makan?" tanya Lina.
Mama mengiyakan pertanyaan putrinya itu. Wanita itu terlihat sangat tegar, tetapi di dalam hatinya terasa rapuh.
"Kamu makan dulu bareng si Mbok, Mama sudah bawakan makanan buat kalian" ujar Mama.
Setelah selesai makan Lina memeriksa ponselnya sejenak. Terlihat beberapa pesan dari teman-temannya.
"Lina, yang sabar sayang, gua dapat kabar Om Nara kecelakaan" pesan dari Mirna sedikit menghibur Lina.
"Terimakasih Mir, bantu doa ya" balas Lina lagi.
Gadis itu juga mengirimkan pesan terimakasih kepada Revan. Dia benar-benar tidak menyangka Revan datang mengunjunginya.
"Makasih Van udah datang ke rumah sakit, bantu doa ya buat kesembuhan Papa" pesan Lina pada Revan.
Beberapa menit kemudian Revan langsung membalasnya dengan kalimat yang menguatkan Lina. Wanita itu merasa terhibur dengan kalimat itu.
__ADS_1