
Lina masuk ke kamarnya dengan suasana hati yang sudah membaik. Beberapa menit kemudian Mama Lina mengetuk pintu kamar Lina.
"Sayang, Mama boleh masuk?" tanya Mama.
"Masuk Ma" jawab Lina.
"Mama dengar kamu sakit sayang, kenapa tidak langsung pulang, Mama khawatir" ujar Mama.
Mama memegang kening Lina dengan khawatir. Tetapi wanita itu tidak merasakan panas di kening putrinya.
"Kamu tidak demam, jadi kamu sakit apa sayang?" tanya Mama.
"Lina agak pening Ma" jawab Lina.
"Hm, tidak biasanya kamu pulang kalau hanya sakit kepala, rasanya ini tidak seperti dirimu" ujar Mama mengenal putrinya dengan baik.
"Kamu ada masalah ya sayang? cerita dong ke Mama" ujar Mama.
Awalnya Lina tidak berniat menceritakan kejadian hari ini pada Mamanya. Tetapi ia tidak mau berbohong, Lina tidak pernah membiasakan dirinya berbohong pada Mama.
Setelah memutuskan, Lina pun menceritakan semua kejadian itu pada Mamanya. Berawal dari sakit hatinya hingga pemulihan.
"Hm, ternyata masalah hati ya" ujar Mama mengerti masalah putrinya yang sedang beranjak dewasa.
"Lin, terkadang kamu harus tahu, tida selamanya apa yang kamu harapkan merupakan yang terbaik untukmu" ujar Mama.
"Maksudnya Ma?" tanya Lina.
"Terkadang kamu harus belajar merelakan Nak, merelakan sesuatu yang tidak dapat kamu raih, dan berusaha menerima sesuatu yang selalu ada untukmu" jawab Mama Lina.
Lina mulai mengerti dengan maksud kalimat yang dilontarkan oleh Mamanya. Dia akan berusaha melupakan Revan dan mulai menerima Leo.
Walaupun hatinya belum siap, Lina memang harus belajar. Seperti yang dikatakan oleh Mamanya, merelakan sesuatu yang tidak dapat kita raih.
__ADS_1
********
Keesokan harinya Lina masuk ke sekolah dengan perasaan yang lebih tenang. Setelah sampai di kelas, ia melihat Revan duduk di bangkunya.
"Eh Lin lo udah datang, gimana kepala lo? masih sakit?" tanya Revan.
"Gua udah mendingan" jawab Lina.
"Syukurlah, gua khawatir Lin" jawab Revan dengan senyuman manisnya.
Nyatanya melakukan sesuatu tidak semudah mengatakan sesuatu. Senyuman manis yang diberikan oleh Revan membuat Lina tidak dapat berpaling. Dia membenci dirinya sendiri yang lemah terhadap Revan.
*********
"Kamu harus ikut Papa dan Mama pindah ke Amerika Leo" ujar Papa Leo.
"Kenapa Pa? Leo masih ingin bersekolah di sini" ujar Leo.
"Leo bisa mengurus diri Leo sendiri Pa" jawab Leo.
"Ya sudah, kalo kamu berubah pikiran beri tahu Papa, kamu bisa menyusul kami ke Amerika" ujar Papa Leo menghormati keputusan putranya.
"Terima kasih Pa" jawab Leo.
Leo kembali ke kamarnya dan meraih ponselnya. Leo mulai mencari kontak Lina dan mengirimkan pesan.
"Lin pergi yuk" pesan Leo.
"Kemana Le?" tanya Lina.
"Ke Bioskop gimana?" tanya Leo lagi.
"Ya sudah, gua siap-siap dulu" jawab Lina.
__ADS_1
"Jangan lama-lama ya, lo cantik apa adanya" pesan Leo lagi.
"Dasar gombal" jawab Lina tersipu.
Lina segera memilih pakaian terbaiknya. Gadis itu segera mandi dan mengeringkan rambutnya. Hari ini weekend, jadi ia ingin tampil maksimal.
"Lama amat woi, cepetan dong" pesan Leo setelah satu jam lebih.
"Iya sabar dong sebentar lagi gua siap" jawab Lina seraya merias wajah.
"Lo gausah make up an, lo cantik natural di mata gua" pesan Leo lagi.
Pipi Lina tersipu melihat isi chat Leo. Ingin rasanya Lina teriak, tetapi gadis itu hanya memiliki sedikit waktu tersisa.
Dua puluh menit kemudian Leo datang menjemput Lina. Mereka akhirnya pergi ke bioskop dengan warna pakaian senada tanpa direncanakan.
"Lah kok baju kita bisa samaan warnanya?" tanya Lina kaget.
"Lo ikut-ikutan gua ya?" ledek Leo.
"Enak aja, lo tu yang ikut-ikutan gua" balas Lina tidak mau kalah.
Sesampainya di bioskop, Leo segera memesan tiket nonton. Mereka memutuskan untuk menonton film bergenre komedi.
Saat sedang menunggu giliran masuk ke studio, mereka tidak sengaja bertemu Revan dan Diandra. Wajah Lina berubah seketika, gadis itu terlihat murung dan sedih.
"Eh Lina, lo jadian bareng Leo ya?" tanya Diandra sengaja.
"Nggak kok, kita cuma temen" balas Lina.
"Ya sudah kita masuk studio dulu ya" ujar Diandra seraya berjalan berdampingan dengan Revan.
Leo menatap wajah Lina yang sendu. Dia tidak ingin wanita itu bersedih, apalagi sampai meneteskan air mata.
__ADS_1