Future Husband

Future Husband
Extra Part : End


__ADS_3

Jangan lupa Vote dan Rate ya..


Malam ini keluarga Aldo menyewa sebuah restoran mewah yang ada di St. Petersburg untuk dinner bersama. Bukan! Lebih tepatnya Will yang menyiapkan makan malam ini, karena Ia telah mendapatkan wanitanya.


Semua anggota keluarga berkumpul, membawa mobil masing-masing tidak lupa dengan pasangannya. Begitupun Jovan dan Jonas yang memilih mengemudikan mobil sendiri-sendiri. Jovan dengan ke ponakannya, anak dari Lian. Lalu Jonas dengan Adiknya, Alica. Alica adalah anak Jeje dan Aldo, nama Alica tercetus dari nama ALdo dan JessICA.


Alica merupakan si bungsu yang sangat di sayangi, di manja juga di perlakukan layaknya seorang puteri hingga Alica menjadi gadis pintar layaknya Mom dan Daddynya. Dengan usinya yang 1,5 tahun Ia sudah lancar berbicara, usia 2 tahun sudah dapat menguasai 4 bahasa asing. Inggris Indonesia Mandarin dan juga bahasa Russia sendiri (Russkiy yazyk).


"Ke napa Alica harus semobil sama Kak Jonas?" Jonas terkekeh atas protesan dari Alica, Adiknya yang begitu menggemaskan. Apalagi dengan bibir mengerucutnya.


"Kata Dad, Alica ingin mempunyai Adik lagi selain Liana dan Marc? Jadi Alica harus sama Kak Jonas terus supaya Mom dan Dad bisa membuat Adik untuk Alica." dalam hati Jonas tertawa geli, apalagi melihat ekspresi Alica yang penuh binar bahagia. Tentu saja, karena bocah kecil itu sudah merengek setiap hari ingin di berikan seorang dedek bayi yang gembul.


Alica masih kecil, walaupun ke jeniusannya hampir menyerupai Jeje. Tentu Alica masih sangat kecil hingga Alica juga masih mudah untuk di tipu. Tentu juga dengan iming-iming seorang Adik bayi. Bukan Jonas ingin melakukannya, di sini juga Jonas berperan untuk melatih Alica menjadi gadis tangguh yang mandiri. Tidak bergantung pada saudaranya yang lain, meski semua Kakak-kakaknya tidak ke beratan sama sekali jika Alica bergantung pada mereka.


Soal dedek bayi, tidak ada penjelasan lebih dan Alica juga seolah tidak peduli bagaimana Ia akan mendapatkan Adik. Anak kecil tetaplah sama, memintanya dan orang tua hanya menuruti, entah itu benar-benar di penuhi atau tidak yang jelas lebih baik dari pada mendengar mereka menangis dan semakin membuat para orang tua merasa miris. Bukan bermaksud menipu, tapi contoh salah satu pendidikan. Bukan untuk melakukan hal itu (") tapi semua yang di dapat harus melalui proses.


Dan seperti ini adalah termasuk didikan keras dari Jeje juga Aldo. Hingga menjadi seperti sekarang, semuanya tidak ada yang yang saling bergantung. Mereka berdiri sendiri, hanya modal ke jeniusan dan juga nama Kelvin yang tersemat. Sungguh mengingat itu, Jonas merasa sangat beruntung bertemu Jeje. Nama Kelvin begitu berpengaruh besar, apalagi setelah Aldo dan Jeje mengumumkan secara resmi semua anggota keluarganya.


Tanpa ke raguan, Aldo mengenalkan mereka sebagai putera dan puteri Aldo. Dan ke beruntungan Aldo memiliki mereka membuat Jonas menangis histeris kala itu. Seharian penuh Jonas tidak melepaskan Aldo dan selalu mengikuti pria itu ke manapun Aldo pergi. Sungguh hari yang melelahkan bagi Aldo, mendengar pria 10 tahun menangis histeris belum pernah terjadi dalam hidupnya.


"Benarkah?" Jonas hanya mengangguk.


"Ya, jika Alica tidak mengganggu Mom dan Dad." Alica mencebik.


"Alica setiap hari bersama Kak Jonas Kak Jovan juga Liana dan Marc, bagaimana Aku bisa mengganggu mereka?" Jonas terkekeh, mengusap puncak kepala Alica sayang.


"Baiklah, pendidikanmu itu penting gadis kecil." Alica cemberut. 


"Alica sudah besar." Jonas hanya mampu mengangguk, mengiyakan saja agar Alica tidak semakin cemberut.


Setelah perjalanan mereka yang panjang, karena Will membawa semua keluarganya ke sebuah restoran di tepi pantai yang tenang di malam hari ini. Mereka curiga jika seluruh wilayah pantai ini memang sengaja Will sewa untuk acara makan malam ini. Pantai yang biasanya ramai itu kini terlihat sepi, hanya ada keluarganya. Di tempat parkirpun sama, hanya mobil mereka yang terparkir di sana. 


Jeje dan Aldo berdecak kagum, Will menyiapkan acara makan malam ini dengan begitu sungguh-sungguh. Memang Will menyewa satu restoran penuh, tapi acara makan malam mereka ternyata bertema outdor. Setengah dari pesisir pantai Will hias dengan pencahayaan dari lampu yang tergantung dengan apik. Tidak lupa juga bunga lyly warna putih dan kuning yang menambah kesan tenang. Jeje menghirup aroma laut serta bunga lyly.


"Apa Kau sangat menyukainya?" Jeje tersenyum, lalu mengangguk.


"Ya, ini menenangkan Al." Aldo tidak berhenti memandangi wajah ayu isterinya. Dengan pencahayaan apik ini, Aldo dapat melihat wajah Jeje sepenuhnya. Wajah natural wanitanya, wanita yang memberinya kesan mendalam.


Sudah 4 tahun mereka lewati bersama, hingga gadis kecilnya sudah tumbuh menjadi gadis yang periang dan jenius. Gadis kecil yang memberi perubahan besar akan sikap dan sifat Aldo. Aldo tersenyum lalu memeluk tubuh Jeje yang terus menatap pantai, di mana anak-anak sudah berada di bawah lampu-lampu gantung juga menginjakkan kaki mereka secara langsung pada dinginnya pasir pantai. Entah makan malam ini akan di mulai jam berapa, ketika melihat anak-anak mereka malah berlarian ke sana ke mari.


"Apa Kau tidak ingin bergabung bersama mereka?" Jeje mendongak, senyum tidak pernah luntur dari wajahnya.


"Aku bahagia saat melihat mereka tumbuh dengan baik, Aku merasa sempurna saat senyum dan tawa mereka begitu lepas. Dan Aku juga bahagia saat Kamu terus ada di sampingku." jujur Jeje mengatakan itu dari hatinya, perasaan yang bahagia selalu memenuhi relung hatinya. Setiap paginya ada Aldo yang masih terlelap atau kadang sudah bangun memandangi dirinya. Menghabiskan setiap harinya dengan suara tangis Alica serta Liana atau Marc yang malah membuat mereka semakin kompak dan harmonis.


Bagi Aldo Ia tidak sepatutnya juga tidak bahagia. Mata Aldo menatap Jovan dan Jonas yang seperti biasa, saling berdebat namun mereka akan saling memeluk satu sama lain saat mereka anggap perdebatan hanya sebuah alat untuk menunjukkan perhatian satu sama lain dan menjadikan jalinan mereka semakin menguat.


Aldo melihat Will dan Pinka yang menikmati waktu romansa dengan duduk di pasir pantai dengan Will yang memeluk Pinka dari belakang. Sungguh Ia tidak akan menyangka jika cinta bisa selucu ini.


Lian dengan isterinya, Aldo melihat Marcell dengan Lyly yang sudah dapat menerima ke putusan Jeje untuk menikahkan mereka 2 tahun silam. Mereka sama-sama mencintai, tapi mereka tidak egois. Mereka ingin keluarga Kelvin yang di bangun Jeje tetap bersatu. Dan ke putusan Jeje benar memaksa mereka menikah dan hidup bahagia dengan puteranya. Cucu ke duanya bersama Jeje, Aldo terkekeh mengingat jika Ia sudah memiliki 2 cucu yang seperti anaknya jika orang melihatnya.

__ADS_1


Rambutnya belum beruban, gayanya masih cool dan wajahnya masih sangat segar. Tapi apa daya, cucunya malah menambah ke harmonisannya dengan Jeje.


"Ada apa?" Aldo menunduk, menatap Jeje yang mendongak menatapnya.


"Tidak, cinta itu lucu." Jeje menaikkan alisnya.


"Kita memiliki banyak anak dan dua cucu, apa itu tidak lucu?" Jeje ikut terkekeh.


"Ya, Aku kadang merasa sudah menjadi nenek-nenek tua jika bersama Liana juga Marc.".


"Meski Kau akan menjadi tua, Aku tetap mencintaimu." Jeje mengangguk.


"Jika Kau tua, Aku akan cari suami baru." Aldo menyentil dahi Jeje, terlihat gemas dengan jawaban isterinya yang terlihat enteng ketika mengucapkannya.


"Kau berani?" Jeje mengaduh dengan mengusap dahinya tapi juga tertawa setelahnya.


"Aku bisa gila tanpamu." Aldo benar-benar mencintai Jeje, Ia mendekap erat tubuh wanita mungilnya. Menempatkan kepalanya pada ceruk leher Jeje yang hangat adalah tempat favorite kala Ia terlalu banyak pikiran.


Jeje dan Aldo tersenyum dan melambai kala Alica melambaikan tangannya ke arah mereka.


"Dad Mom, ke mari!" ucapan Alica adalah mutlak dan ya, kaki mereka melangkah mendekati puterinya itu.


"Apa yang Dad dan Mom lakukan di sana?" tanya Alica penasaran.


"Melihat kalian." Alica mengangguk, Alica mengeluarkan sebuah kotak beludru dari tas kecilnya.


"Untuk Dad dan Mom, happy anniversary yang ke 4." Jeje menutup mulutnya, Aldo mengingat-ingat tanggal berapa sekarang. Dan ketika mengingatnya, Aldo segera berjongkok di hadapan Alica.


Dan entah sejak kapan mereka semua telah berkumpul, di iringi musik klasik yang memaksa ke dua orang itu harus berdansa di atas pasir pantai. Tanpa alas kaki yang menghangatkan kaki mereka, karena hak tinggi Jeje sudah tergeletak di tempat saat Ia dan Aldo berjongkok tadi. Semua anak-anak bertepuk tangan, tapi bagi yang sudah punya pasangan. Mereka ikut berdansa bersama ke dua orang tua mereka.


"Kau mau apa?" tanya Jovan pada Adiknya.


"Kapan Aku bisa punya pasangan?" Jovan mengejek Jonas.


"Namamu sudah Jonas, jadi terima saja." Jonas cemberut. Lalu Jonas berjalan menjauh dari Jovan karena Ia amat malas untuk berdebat dengan Jovan malam ini. Kata Jovan, Jonas berarti JOmblo yang mengeNASkan dan itu sungguh menyinggung perasaannya.


Jovan hanya menatap Adiknya datar, Ia mengatai kembarannya. Padahal Ia sendiri juga tahu bahwa dirinya belum juga mempunyai pasangan, jangan kira Jovan pria jelek. No! Di sekolahnya Ia sangat terkenal dengan ke tampanan juga karismatiknya, tapi lagi belum ada seorang wanitapun yang mau jadi pasangannya. Jovanpun mengikuti langkah Jonas yang memandangi lautan lepas di malam hari.


"Apa Kau benar-benar ingin memiliki pasangan?" Jonas tetap memandangi lautan saat pertanyaan meluncur dari bibir Jovan. Setelah seperkian menit Ia diam akhirnya Ia menjawab.


"Ya, siapapun ingin memiliki pasangan. Tapi setidaknya untuk saat ini Aku sudah memilikinya." Jovan seketika melihat saudaranya, wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang berlebihan.


"Siapa?" Jonas tersenyum misterius.


"Kau.".


"Gila, Aku tidak mau!" seketika itu pula Jovan berteriak histeris, menatap jijik Jonas yang malah tertawa terbahak melihat ekspresi dari Jovan.


"Hahhaha" Jovan menggeram, sial! Dia di kerjai Adiknya itu.

__ADS_1


"Kau, ******** kecil." Jonas berlari di sela tawanya, Ia bahagia saat Ia bisa menggoda Jovan. Sungguh itu sangat menyenangkan.


"Berhenti!" Jonas menjulurkan lidahnya, Jonas berlari di area dansa dan membuat para pasangan yang sibuk berdansa kesal padanya. Bagaimana tidak? Jonas berlari pada Will dan menggunakan badan Will yang besar sebagai tameng agar Jovan tidak dapat menangkapnya. Sedangkan Will harus terlepas dari pasangannya, Pinka. Dan korbannya bukan Will saja, tapi juga pasangan lainnya.


"JOVAN JONAS, APA YANG KALIAN LAKUKAN?" semua orang berteriak memandang Jovan dan Jonas marah. Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka malah mencuri Jeje dari Aldo membuat Aldo menggeram marah. Sedangkan Jeje yang di gandeng ke dua anaknya hanya ikut berlari menjauhi Aldo. Di atas pantai ini Jeje dapat melihat semua, gambaran bahagia selalu menantinya. Apalagi genggaman di ke dua tangannya.


Melihat tawa Jovan dan Jonas yang lepas karena berhasil menjahili Aldo sudah mewakili semua perasaan Jeje. 


"Hahahha, kejar kami Dad. Jika Dad tidak mendapatkan Mom, maka Mom tidak akan kami lepas malam ini." teriakan Jovan sungguh menyebalkan.


Aldo melepas dasi yang mencekik lehernya, nafasnya memburu. Mendengar ejekan serta tantangan dari putera kembarnya membuatnya jengkel bukan main. Apa katanya tadi? Tidak melepas Jeje. Sialan mereka, jika Aldo mendapatkan ke duanya lihat saja.


Aksi kejar-kejaran itu membuat yang lainnya tertawa, Alica yang meneriaki nama Jonas.


"Ayo Kak Jonas, bawa lari Mom.". Aldo menggeram, menambah ke cepatan larinya.


Jeje melihat ke belakang, lalu menjulurkan lidahnya pada Aldo.


"Aaaaaaa!" teriakan Jeje yang beberapa detik setelah mengejeknya membuat Jovan dan Jonas tertawa.


Aldo mendekap tubuh Jeje dari belakang dan membawa Jeje seperti karung beras. Jeje meronta, gaunnya yang tidak sampai mata kaki sebenarnya tidak membuatnya susah lari tadi tapi dalam gendongan Aldo membuat Jeje juga merasa was-was. Apalagi punggungnya yang terekspos dalam ke adaan di jungkirkan seperti ini.


"Al, turunkan Aku." Aldo menggeleng, mencoba menetralkan nafasnya. Ia berlari cukup kencang tadi, apa karena Ia memiliki cucu hingga Ia sudah ke habisan nafas untuk mengejar ke dua puteranya yang menculik Jeje dari genggaman tangannya.


Aldo membawa tubuh Jeje kembali pada tempat yang sudah di siapkan Will, mendudukkan Jeje pada kursi meja makan yang sudah di tata rapi. Aldo beralih memandang ke dua puteranya yang mengikuti Aldo dari belakang tadi, dengan tawa yang masih tersisa ke duanya menatap Aldo dengan jengah.


"Apa yang baru saja kalian lakukan?".


"Membawa Mom kami." Aldo mendelik.


"Dia isteriku.".


" Dia juga Mom kami." jawab ke duanya kompak.


Jeje yang di belakang Aldo mengacungkan jempol pada ke duanya, memberi semangat pada Jovan dan Jonas untuk beradu debat dengan Aldo.


"Dad akan memotong uang jajan kalian." Jovan dan Jonas malah tertawa keras, di ikuti Jeje yang tersenyum di belakang Aldo.


"Dad, kami punya kartu yang tidak akan pernah limit. Apa Dad lupa?" Aldo menggeram, lalu tersenyum misterius.


"Baik, Dad kalah soal itu. Jadi sebelum kalian berumur 19 tahun. Kalian tidak boleh mempunyai pasangan, walau itu pacar sekalipun." wajah ke duanya pias. Aldo tersenyum puas, ternyata ancamannya berhasil.


"Mom." Jonas merajuk, tapi Jeje hanya mampu melambaikan tangannya pertanda Ia tidak bisa ikut campur.


Jeje merapikan duduknya, makan malam akan Ia mulai. Jam makan malam telah lewat karena acara yang tidak sesuai rencana. Semua duduk dan menikmati acara makan malam mereka dengan tenang.


END


Madiun,20/07/20

__ADS_1


***JANGAN LUPA BACA KARYA AUTHOR LAINNYA DAN TINGGALKAN JEJAK DI SANA..


(HE'S MY HUSBAND***)


__ADS_2