
Aldo menatap isterinya yang kini tengah duduk di kursi riasnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Rasa cinta yang menggebu Aldo rasakan saat dada Aldo terasa sesak akibat denyutan jantung yang di luar kendalinya. Otaknya di penuhi sejuta hal-hal indah yang pernah Ia lewati bersama Jeje. Mulai awal pertemuan mereka hingga saat ini mereka bisa bersama kembali.
Yah walau Aldo tahu hal indah itu belum banyak tercipta dengan isterinya itu. Tapi untuk kali ini tidak menutup ke mungkinan hal indah akan Aldo realisasikan pada isterinya tercintanya. Semua pekerjaan yang menumpuk di pundak Jeje kini sudah di alihkan pada semua anak-anak mereka. Mengingat hal itu membuat dada Aldo membuncah bahagia, anak-anak yang kini memanggilnya dengan sebutan Dad.
Hari-hari Aldo yang berbeda dari biasanya, suasana rumah yang ramai serta kadang juga suara tangisan dari Jovan dan Jonas yang memenuhi seisi mansion mereka. Bukan hal yang mengganggu Aldo, malah membuatnya semakin betah di rumah.
"Ke napa terus menatapku?" Aldo terkekeh. Ia tidak tahu bahwa Jeje kini juga menatapnya. Mungkin Jeje tahu akan senyuman Aldo lewat pantulan cermin meja rias.
Aldo bahagia saat setiap harinya akan banyak pertanyaan dan komentar dari isterinya mengenai berbagai hal. Isterinya yang hamil membuat Jeje lebih cerewet dari biasanya. Jarang terlihat wajah serius Jeje, saat ini lebih sering Jeje menampilkan wajah galak ala emak-emak yang sedang mengomeli anaknya. Hal itu malah membuat Aldo suka, meski tidak untuk anak-anak yang ikut kena omelan Jeje.
"Ke mari!" Jeje melangkahkan kakinya mendekati Aldo dengan langkah ringan. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan ke duanya belum terlihat mengantuk. Mungkin rasa menikmati ke bersamaan merekalah yang membuat mereka enggan memejamkan mata.
Aldo menepuk pahanya agar Jeje duduk di pangkuannya, Jeje hanya mampu menurut. Jeje mendudukkan pantatnya tepat di paha Aldo. Isterinya itu berangsur menjadi penurut sekali, bahkan ketika Aldo memaksa Jeje untuk tidak bekerja sekalipun. Jeje hanya mampu mengangguk dan mengganti pakaian Dokternya menjadi pakaian rumahan yang benar-benar longgar.
Ke duanya hanya saling menatap tanpa mau mengeluarkan satu buah katapun. Entah apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Aldo melingkarkan lengannya pada pinggul Jeje, dan Jeje hanya menumpukan ke dua lengannya pada bahu Aldo.
Jeje sendiri tidak tahu
Aldo memajukan wajahnya, aroma mint menguar dari nafasnya kala satu kalimat Ia ucapkan.
"I love you." satu kata yang mampu membuat pipi Jeje merona. Kata-kata yang menurutnya sakral untuk di ucapkan, menilai dari awal pertemuan mereka hingga setelah menikahpun mungkin akan jadi pertimbangan pasangan manapun untuk mengeluarkan kata cinta.
Jeje mengangguk dengan kepala tertunduk.
"Kamu tidak ingin menjawabnya?" Jeje menggeleng.
"Ke napa?" Jeje kemudian menatap Aldo intens.
__ADS_1
"Saat Aku tidak ada di sisimu, ke napa tidak pernah Kamu menyatakan kalimat itu?" Aldo menaikkan satu alisnya. Bukankah Jeje sudah tahu akan jawaban Aldo? Tapi Aldo tidak akan bosan untuk menjawab dan meyakinkan Jeje, meski tidak semudah itu.
"Kalimat yang mana?" Aldo tahu maksud Jeje, tapi Ia sengaja menggoda isterinya itu. Saat Ia mengirimkan foto lewat e-mail, Ia sangat tahu bahwa hanya ke rinduan yang Ia utarakan pada isterinya itu.
Jeje memutar matanya.
"Kalimat I love You barusan.".
"You too." Jeje memukul gemas bahu Aldo, pipinya semakin merona atas godaan suaminya.
"Al, Aku sedang tidak bercanda." geram Jeje, Aldo hanya terkekeh karenanya.
"Ke napa ya?" Aldo menaik turunkan alisnya.
Jeje mendengus, Ia kemudian menempelkan pipinya ke bahu Aldo. Menghirup dalam aroma kulit suaminya yang dapat menenangkan pikirannya, entah sejak kapan? Dia benar-benar menyukai ini setelah pertemuannya dengan Aldo.
"Ke napa?" kini Jeje yang kembali bertanya, matanya terpejam karena usapan di punggungnya naik turun menambah ke nyamanannya.
"Kamu tahu apa arti rindu?" Jeje mengangguk, menghirup kembali kulit leher Aldo.
"Yang, jangan menggodaku." Jeje tetap melakukannya.
"Jangan salahkan Aku jika Aku tidak tahan untuk memakanmu." Jeje merasa kecewa, dan Aldo hanya mampu membuang nafas. Menahan libidonya agar tidak naik dan menerkam isterinya di bawah kungkungannya.
Membayangkannya saja bisa membuat celana Aldo sesak, Aldo menggeleng. Apa yang baru saja Ia pikirkan?.
"Kamu belum menjawabnya. Kamu tahu arti rindu?" Aldo kembali bertanya dan membiarkan Jeje kembali mengendus kulit lehernya. Sumpah jika tidak ingat ini masih jam 10 malam pasti Aldo tidak akan melepaskan wanitanya ini.
__ADS_1
"Memangnya apa?" bukan jawaban yang Jeje berikan, melainkan sebuah pertanyaan yang meminta penjelasan to the point dari Aldo. Jawaban Aldo saat pertemuannya pertama itu masih belum cukup Jeje rupanya, ya Jeje akui waktu itu hatinya juga berdesir begitu bahagia.
"Jika Aku bilang I love You saat itu, pasti Kamu akan berpikir Aku hanya merayumu. Benar begitu?" Jeje menggeleng.
"Ke napa Kamu tidak katakan itu saja?" Aldo terkekeh dengan gelengan kepala.
"Tidak, Aku lebih suka mengatakan rindu. Karena bagiku rindu itu berarti menginginkan orang itu kembali, kembali untuk Aku cium." Aldo mencium sekilas bibir ranum Jeje yang masih berada di samping kiri wajah Aldo. Dan serangan tiba-tiba Aldo membuat Jeje terkejut.
"Untuk memeluknya." Aldo mempraktikkan memeluk Jeje dengan erat. Meski sedikit masih terkejut Jeje tetap membalas pelukan Aldo.
"Dan untuk mengatakan I love You padamu, tepat di depanmu. Menatapmu dan Kamu juga bisa menilai, apakah kalimat I love You yang Aku ucapkan itu tulus atau tidak padamu." Jeje merasa terharu, Ia semakin mengeratkan pelukannya. Jantungnya berdetak tidak normal, hatinya membuncah rasa bahagia yang tiada tara. Astaga! Ia beruntung bahwa Aldo sudah menjadi suaminya.
Aldo sendiri merasa jantungnya berpacu, untuk pertama kalinya Ia mengucapkan kalimat sakral itu pada wanita yang sudah menjadi isterinya. Bukan pertama memang, sering kali. Tapi pernyataannya kali ini memang dari relung hatinya yang paling dalam. Oh alangkah beruntungnya Ia.
"I love You.".
"I love You too." kalimat sederhana yang ingin selalu Ia ucapkan, dan sulit Ia ucapkan di saat dulu Ia masih ragu. Apakah Aldo benar-benar mencintainya? Kini pertanyaan itu terjawab sudah. Aldo benar-benar mencintainya, takut ke hilangannya.
"Apa Kamu juga rindu dengannya?" Aldo mendengus.
"Apa Kamu ingin menjebakku Sayang?".
"Jelas Aku rindu padanya, jika Dia masih hidup. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih padanya, karena Dia kita bisa tanpa sengaja selalu bertemu. Dan Aku menemukan jodohku yang sebenarnya, tanpa Dia. Kita tidak akan bisa bersama, walau hanya untuk saling mengenalpun adalah sebuah ke mustahilan. Aku sahabat Alan, tapi Aku sama sekali tidak tahu jika Ia mempunyai seorang Adik wanita yang akhirnya dapat merobohkan tembok besar hatiku.".
"Rinduku padanya jelas berbeda, Claudia sudah tenang di sisi Tuhan." Jeje melambung, hatinya bagaikan di terbangkan jutaan kupu-kupu yang berwarna pelangi. Meletup-letup seperti kembang api di pergantian tahun. Indah sekali, cinta ini sungguh membuat Jeje ke canduan pemiliknya.
Madiun,15/07/20
__ADS_1