
Aldo menatap bangunan yang ada di hadapannya dengan penuh harapan. Bangunan yang mungkin bisa mempertemukan dirinya dengan istri tercintanya, semoga. Hanya itu doa dan harapan Aldo kali ini.
"Apa Dia sedang di sini?" Dahlan tidak yakin, apakah Nonanya ada di dalam bangunan ini atau tidak? Dahlan juga berharap hanya gedung ini satu-satunya harapan yang mereka miliki. Tadi mereka sudah ke perusahaan Jeje namun pihak resepsionis bilang kalulau Jeje jarang sekali ke perusahaan, Jeje lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit milik keluarganya.
"Saya tidak bisa mastikannya Tuan." Aldo hanya mampu mengangguk. Dia saja sangat sulit mencarinya dan Aldo tahu rasanya. Jadi jika Dahlan sampai ke sulitanpun, Aldo sangat mengerti itu. Dia tidak bisa memaksa Dahlan untuk menemukan wanitanya.
Aldo di ikuti Dahlan melangkahkan kaki memasuki area rumah sakit, mereka bertanya pada seorang resepsionis.
"Maaf Nona, bisakah Saya bertemu dengan Dokter Jessica?" wanita itu nampak menilai Aldo dan Dahlan. Wanita itu tahu jika orang yang ada di hadapannya itu adalah seorang pengusaha sukses yang selalu memenuhi notifikasi ponselnya. Berita tentang Aldo tidak pernah luput dari pemberitaan media termasuk cover sebuah perusahaan web yang Aldo miliki sendiri.
"Maaf Tuan, apa Anda sudah membuat janji?" wanita itu bertanya kembali.
"Belum Nona, apakah Saya bisa bertemu? Oh atau apakah Saya bisa membuat janji dengannya?" wanita itu nampak berpikir.
"Sebentar Tuan, Saya akan tanyakan dulu pada Tuan Marcell." setelah mengatakannya, wanita itu menelfon seseorang. Aldo hanya menunggu saja sambil berharap sambutan baik dari orang tersebut.
"Maaf Tuan, Dokter Jeje sedang tidak ingin di ganggu." satu kalimat yang sudah pasti memudarkan harapan Aldo untuk bertemu dengan istri tercintanya. Tapi bagaimana dengan hatinya? Aldo mampu menerimanya namun tidak dengan hatinya yang berdenyut nyeri, nyeri sekali. Rasanya seperti di hantam jutaan pisau yang tepat mengenai hatinya. Jantungnya berdegup, tapi bukan rasa degup ke bahagiaan. Melainkan jantung ini berdegup kencang karena seperti ke kurangan pasokan oksigen. Apakah harapannya akan sirna hari ini?.
Dahlan hanya mampu menatap Tuannya prihatin, bagaimana cara Dia menolong Tuannya? Ide cemerlang ke luar dari otaknya, saat Aldo berjalan memunggunginya untuk kembali ke mobil. Dahlan berbicara pada resepsionis itu, dan saat idenya terealisasi Dahlan menemui Aldo.
"Tuan, Saya ingin ke toilet sebentar." Aldo tidak menjawab, Dahlan mengerti seberapa hancur harapan serta hati Tuannya. Orang manapun pasti tahu kalau Aldo sedang berada di titik terendah sekarang. Kepala yang biasanya mendongak tanpa ke raguan itu kini tertunduk lemah. Mata yang tajam itu kini terlihat memilukan. Bukan Aldo sama sekali. Selama Dahlan bekerja dengan Aldo, kali inilah Dahlan melihat semua harapan yang di bangun Aldo hancur.
Dahlan sendiri meninggalkan Aldo, lalu berjalan cepat menuju ruangan yang sekarang telah duduk seseorang yang umurnya sekitar 24 tahun kalau Dahlan tidak salah menduga.
"Selamat pagi Tuan." sapa Dahlan. Pria dengan jas Dokternya itu berdiri lalu tersenyum.
"Panggil Saya Marcell Tuan." Marcell menjabat tangan Dahlan dan mempersilahkan Dahlan duduk.
"Jadi? Apa yang bisa Saya bantu?" tanya Marcell to the point.
"Seperti yang Anda tahu, Saya datang ke mari ingin bertemu dengan Nona Jessica. Namun sepertinya itu sangat tidak mudah." Marcell mengangguk mengerti.
"Apa Saya harus mempertemukan Tuan Anda dengan Nona Jessica?" Dahlan dengan cepat menggeleng.
"Tidak Tuan, tidak begitu." terlihat dari mata Marcell, sungguh berat bagi Dahlan untuk menolak penawarannya. Namun Dahlan sepertinya tidak mungkin memaksa Mommynya untuk ke luar dari ruangan yang sebenarnya hanya berbatas pintu dan tembok dari ruangan Marcell. Marcell juga yakin bahwa Mommynya sekarang tengah menguping, dasar labil.
__ADS_1
"Jika Saya berhak memaksa Nona, maka Saya akan memaksanya. Tapi Tuan tahu bukan? Tuan Saya segera pergi ketika Nona menolak bertemu dengannya, bukan Tuan tidak sungguh-sungguh ingin bertemu Nona. Hanya saja Tuan menghormati ke putusan Nona." Dahlan nampak lesu, ya! Lesu atas pekerjaannya yang menggunung dan memikirkan Tuannya yang begitu Ia hormati.
Marcell nampak tersenyum.
"Apa Tuan Anda suami dari Nona Jessica?" jelas Marcell tahu betul. Namun Ia hanya pura-pura menjadi orang asing di sini. Tapi tidak nanti di pertemuan pertamanya dengan Aldo, secepatnya jika bisa.
Dahlan segera mengangguk.
"Iya, Tuan hanya berharap Nona kembali suatu saat nanti. Mengembalikan semua yang Nona Jeje bawa dari Tuan Aldo, terutama kepingan hatinya."
"Maaf, apa Tuan Anda begitu mencintai Nona Jessica? Saya tahu ini masalah privasi, hanya saja. Saya butuh memastikan untuk membujuk Nona Jessica." Dahlan tersenyum. Senyum akan rasa ke terbukaan menurut Marcell.
"Lebih dari itu Tuan, Tuan sekarang sudah ke hilangan hampir seluruh raganya. Tinggal menunggu waktu itu tiba, dan semua akan terlambat. Bukan untuk menyerah, namun semua orang butuh ke pastian. Saya tahu Nona hamil! Dan Tuan juga sudah tahu. Dia hanya ingin sekali saja memperhatikan Nona, apakah Ia ngidam atau sejenisnya?" Marcell tidak bisa berkata lagi, jika Ia jadi Jeje. Ia akan berlari pada pria itu. Cukup sederhana dan itu membuat Marcell tahu, seberapa besar cinta Aldo pada Jeje.
"Baiklah, akan Saya coba semampu Saya." Dahlan senang mendengarnya.
"Terima kasih atas bantuannya."
"Sama-sama Paman."
Dahlan terus mencari, kakinya berhenti tatkala melihat objek yang di carinya ada di sana.
Berdiri di taman rumah sakit, tidak peduli dengan panas yang kini menyengat tubuhnya yang memang sangat kurus itu. Dahlan membuang nafas, Ia tidak akan meminta Aldo untuk berteduh. Membiarkannya adalah pilihan terbaik. Dahlan berdiri di bawah pohon yang tidak jauh dari Aldo berdiri.
Dahlan menampakkan wajah was\-was kala seorang wanita datang tepat dari belakang Aldo. Dahlan mulai mendekat, namun wanita itu hanya menyentuh bahu Aldo dan memberikan secarik kertas. Setelahnya wanita itu pergi, Aldo sendiri di buat bingung dengan kertas yang kini ada di tangannya. Aldo tidak menanyakan siapa wanita itu dan dari siapa kertas yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Tuan." Aldo menatap Dahlan.
"Apa itu Tuan?" Aldo menggeleng. Namun tetap membuka kertas tadi.
Tiba\-tiba Aldo tersenyum, senyum yang tidak pernah ada sebelumnya. Senyum yang mampu membuat Dahlan terheran\-heran.
"Ada apa Tuan?" Aldo menggeleng.
Aldo menatap rumah sakit Kelv di tengah teriknya matahari, karena Ia tahu seseorang tengah mengamatinya.
"Aku mencintaimu." hanya dua kata itu yang ingin Aldo katakan pada orang itu. Dengan suara lirih Ia berharap sudah sampai pada wanitanya.
Aldo meremas kertas yang ada di tangannya dan berkata.
"Kita kembali ke Indonesia.".
'***Jangan membakar tubuhmu, itu juga akan membakar tubuhku dan anak kita. Berteduhlah dalam rumah. Aku akan kembali secepat yang Aku bisa***'
__ADS_1
Madiun,01/07/20