Future Husband

Future Husband
Heran


__ADS_3

Sekarang Aldo berada di Russia. Bukan tanpa alasan Aldo datang ke mari, pertama Ia ada pertemuan penting dengan klientnya dan yang ke dua. Jelas! Istri tercintanyalah yang menjadi alasannya datang jauh-jauh ke Russia. 


Kemarin Aldo pergi ke museum untuk mengisi waktunya dan sebagai pengalihan dirinya terhadap Jeje. Aldo sendiri merasa ke bingungan, bayangkan! Sama sekali tidak ada petunjuk mengenai Jeje di Russia. Bagaimana Aldo akan mencarinya? Memang di berbagai media sudah tercetak wajah ayunya sebagai pengusaha dan Dokter muda berbakat, namun Jeje sama sekali tidak Aldo temukan. Informannya sama sekali tidak tahu alamat rumah Jeje.


Hingga hari ini Aldo sama sekali tidak mendapatkan apapun. Apakah hari ini seperti kemarin? Ia merasa Jeje ada, namun tubuh itu sama sekali tidak dapat Ia lihat dengan mata telanjang. Apa sebegitu besar pengaruh Jeje bagi hidupnya? Seolah-olah Jeje mematainya tapi Ia sama sekali tidak bisa apa-apa.


Dahlan Ia andalkan dalam semua hal, namun Ia sama. Tidak menemukan apapun. Aldo sesekali tersenyum pada klient yang menyapa ataupun sekedar menyunggingkan senyum padanya. Aldo sebenarnya ada acara pesta malam ini, tapi nanti pukul 9 malam. Dan sekarang Aldo akan fokus pada pertemuannya dengan petinggi perusahaan yang ada di Russia. 


Total ada 5 orang yang mengelilingi meja sekarang ini. Mereka membutuhkan bantuan perusahaan Aldo untuk mempromosikan saham mereka yang mulai anjlok karena krisis para penanam saham. Entah apa masalah mereka, yang jelas Aldo hanya ingin perusahaan saham yang di jalankannya lancar. Dahlan yang menganalisa semua, dan baru di buka saja. Laman web perusahaannya sudah penuh dengan calon pembeli saham yang baru.


Aldo ada di dalam lingkaran meeting namun tidak dengan jiwa serta pikiran pria yang memang terlihat kurus dari biasanya itu.


Dahlan berdehem saat semua menyepakati untuk menjual saham mereka dari pada harus bersusah payah mencari penanam saham baru, karena Dahlan memperhitungkan akan susah membangun perusahaan yang akan koleps. Sebanyak apapun penanam saham baru, hutang yang di tanggung jauh lebih banyak. Dahlan juga membuat solusi untuk para pemilik saham menjualnya pada pemberi hutang. Setidaknya ini akan mengurangi resiko lebih banyak.


Aldo menatap Dahlan yang juga menatapnya, memberi isyarat pada Aldo bahwa semua telah beres dan di sepakati. Semudah itu jika kita memiliki sebuah nama besar. Semua juga akan lebih mudah dalam segala hal, namun tidak dalam rumah tangganya. Nama besar Also masih kalah pengaruhnya dengan wanita yang begitu ingin Ia peluk.


Sesusah itu menemukan Jeje, sama saat pertama mereka bertemu dan sampai sekarang Aldo hanya perlu menunggu. Profil wanita itu sungguh di rahasiakan, hingga tidak ada satupun yang tahu alamat rumah Jeje. Mereka hanya tahu perusahaan Jeje serta rumah sakit wanita itu. Setelah ini jika masih buntu maka Aldo akan mendatangi tempat bisnis Jeje itu.


"Baiklah. Sampai di sini pertemuan kita. Terima kasih." terlihat arogan memang. Tapi itulah Aldo, tanpa mau susah payah berkata lebih halus untuk di dengar. 


Aldo pergi dari sana di ikuti oleh Dahlan.


"Tuan ada pesta malam ini." Aldo sudah tahu. Ia hanya mengangguk.


"Antar Aku memilih pakaian!" Dahlan tahu, Aldo bukan tipe pemilih dalam fashionnya. Dahlan sangat mengerti, bahwa Aldo selalu akan datang ke tempat  ramai untuk mengalihkan fokus pikirannya pada Jeje. Apalagi setelah Aldo tahu bagaimana ke adaan istrinya itu saat ini.




Pesta selalu membosankan bagi Aldo, semeriah apapun itu. Hanya satu pesta yang membuatnya sangat senang ada di sana. Yaitu pesta pernikahannya bersama istrinya. Aldo berharap akan menemukan Jeje malam ini, di pesta para pemilik perusahaan yang ada di Russia.



"Dahlan.". 



"Ya Tuan?" Dahlan mendekat pada Aldo. 



"Cari tahu di mana rumah sakit keluarga Kelv berada, Aku ingin ke sana besok pagi." Dahlan juga baru ingat, bahwa keluarga dari nonanya adalah perusahaan yang mayoritas di bidang ke sehatan jika Aldo tidak mengingatkannya malam ini. Aldo bisa saja minta bantuan pada Alan, namun Ia sadar. Begitu banyak masalah yang sudah Ia bagi pada Alan dan akan lebih menyusahkan pria itu nantinya.



"Baik Tuan, Saya undur diri sebentar." Aldo mengangguk. 



Aldo sangat bosan, seperti biasa. Pesta selalu di penuhi dengan wanita, termasuk wanita sewaan untuk melayani para pria berduit tebal. Beberapa kali Aldo mendapat tatapan menggoda dari wanita, tapi sayang ini Aldo. Kode\-kode itu sama sekali tidak berpengaruh sedikitpun untuk Aldo yang semuanya sekarang Ia serahkan untuk Jeje seorang. Dulu ataupun sekarang, Aldo adalah pria yang tidak dapat di jangkau oleh wanita manapun. Namun Ia luluh pada gadis itu, gadis pembuat masalah di saat awal pertemuan mereka.



"Tuan Aldo." Aldo menjabat tangan seorang pria yang umurnya sekitar 23 tahun saat pria itu menyapa dan mengulurkan tangannya. 



"Ya, Tuan\-?" pria itu tersenyum. Lalu dengan senang hati pria itu memperkenalkan dirinya.



"Saya Lucas, Saya anak dari pemilik pesta ini." Aldo mengangguk tanpa kata.



"Apakah Tuan berkenan mengisi acara ini?" Aldo menaikkan satu alisnya dengan pertanyaan yang ke luar dari bibir Lucas.

__ADS_1



"Maaf?" Lucas tersenyum simpul. Lucas menatap panggung kecil yang tersedia di sana.



"Tuan nyaman akan kemeja yang Tuan pakai?" Aldo meneliti pakaiannya.



"Lumayan." Lucas lagi\-lagi tersenyum.



"Anda pria paling jujur Tuan, suatu ke hormatan Anda datang ke mari dan telah sudi memakai pakaian dari perusahaan kami." Aldo jelas tidak terkejut dengan pernyataan Lucas, meski terdengar sombong. Tapi Aldo tahu Ia datang ke pesta sebuah perusahaan fashion yang memenuhi daftar laman webnya juga.



"Apa yang harus Aku lakukan? Tidak mungkin Aku menolak permintaan dari Tuan rumah." Lucas mengagumi pria di hadapannya. Dingin namun pria di hadapannya ini memiliki hati yang rendah.



"Saya dengar dari Tuan Zalano, kalau Tuan bisa bermain musik DJ. Saya ingin Anda memainkannya." Aldo hanya dapat memutar matanya, lagi\-lagi Alan. Di manapun Aldo, pria itu selalu bisa menjebaknya.



"Baiklah." dengan langkah dingin dan pasti, Aldo naik ke panggung. Memakai earphone dan kemudian menyetel alat DJ yang kini ada di hadapannya.



Musik terdengar, musik energik. Berlawanan dari hatinya yang sepi dan hampa. Setidaknya Ia bisa memberikan senyum sedikit saja pada semua tamu. Dan memberikan sedikit ke bahagiaan untuk Lucas yang kini memberinya sebuah tepuk tangan.



Musik terus terdengar, namun seketika tangan Aldo berhenti. Ruangan yang riuh seolah menulikan pendengaran Aldo. Matanya fokus pada seseorang di sana. Orang yang bisa saja menghancurkan hatinya berkeping\-keping jika Aldo tidak segera mendapatkannya.




Ponsel yang ada di sakunya terus berdering. Ia melihat sekilas siapa pengganggu pandangan matanya terhadap wanitanya. Alan!.



Aldo tidak mengangkat juga tidak mereject, hanya membiarkan ponsel itu. Dan matanya kembali pada fokusnya, namun sayang apa yang di lihatnya lenyap. Hanya kedipan mata dan itu membuat Aldo dengan cepat melepas serta membuang earphone asal. Ia berlari ke arah pintu ke luar secepat yang Ia bisa, dan lagi Ia harus menelan pil pahit saat tidak ada seseorangpun yang dapat Ia lihat dengan matanya.



Aldo memukul tiang yang menjulang tinggi di hadapannya dengan keras, melampiaskan segala ke tidak berdayaannya.



"Sial sial sial." Aldo tidak hiraukan semua orang yang menatapnya aneh.



Aldo mengusap wajahnya kasar.



"Tuan!" Dahlan datang dengan tergopoh, Ia mengejar Aldo saat Ia tahu Tuannya lompat dari panggung dan berlari. Apa Tuannya tadi tidak merasa bahwa Ia menabrak beberapa tamu hingga mereka terjatuh?.



"Kau ikut Aku!" Dahlan hanya mampu pasrah saat langkah Aldo begitu lebar.


__ADS_1


"Sial, ada apa Kau menelfonku?" Aldo benar\-benar marah sekarang. Namun sepertinya orang di seberang sana tidak mau tahu bagaimana ke adaan Aldo saat ini.



"Kau di mana?" Aldo menggeram. Ia tidak mungkin bisa marah pada sahabatnya ini.



"Di Russia." tetap dengan langkahnya yang lebar Aldo menjawab.



"Pulanglah Do!".



" untuk a\-". Tut tut. Sambungan terputus begitu saja membuat Aldo semakin heran. Apa maksud dari Alan?.



"Dahlan.".



"Ya Tuan?".



"Cari daftar pengunjung yang hadir dalam pesta ini!" Dahlan terbengong. 



"Tapi Tuan, Saya tidak bisa. Anda tahu bukan? Kalau setiap tamu yang hadir sangat di jaga privasinya?".



"Saya tidak mau tahu Dahlan, Kau bicara pada mereka!" Aldo menatap meja resepsionis. Dahlan hanya mampu mengangguk.



"Ada yang bisa Baya bantu Tuan?" Aldo menatap Lucas, pria ramah yang seperti Dewa fortuna. Hadir di saat Aldo membutuhkannya.



"Anda mendengarnya tadi Tuan Lucas.".



"Anda sama sekali bukan tipe orang yang mau meminta pertolongan.".



"Jelas Anda tahu Saya." bukannya tersinggung dengan ucapan Aldo. Lucas hanya memberikan senyum dan kini Ia berjalan ke arah dua resepsionis. 



Lucas berbincang sebentar, dan wala? Buku tamu sudah ada di hadapan Aldo yang kini tengah duduk di kursi tamu. Memang menjengkelkan, tapi itulah Aldo.



Sepersekian detik tadi Aldo memang benar\-benar tidak rabun. Aldo mengacak rambutnya yang sudah rapi dengan kasar. Di sana, di buku tamu tepat kolom terakhir.



'Jessica Anora Kelvin dari perusahaan Kelv'


__ADS_1


Madiun,30/06/20


__ADS_2