
Terik matahari seakan menyengat wajahnya. Lina melangkahkan kakinya di koridor sekolah dengan malas.
"ya ampun semangat dong Lin, bentar lagikan pulang" ucap Mirna si bawel.
"Lihat siapa yang datang, vitamin tak langsung lo hehe" sambungnya lagi.
"Siang para ladies" ucap Rio sahabat Revan.
"Mau kemana?" tanya Mirna.
"Mau ganti baju, kita mau tanding basket nih, kalian harus nonton ya, noh dekat di lapangan basket sekolah kita kok" ujar Rio lagi.
"Ashiyapp..." jawab Mirna usil.
Lina melirik ke arah Revan yang tersenyum padanya. Revan terlihat gagah dengan. bola basket di tangannya.
"Nonton ya" ucap Revan sambil tersenyum yang dibalas anggukan dari Lina.
Hati gadis itu tak kuasa melihat senyum manis Revan entah kenapa Revan selalu terlihat memesona. Detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
"Priiiiit" suara peluit terdengar dari halaman sekolah.
"Eh Lin dah mulai tuh, auto gak jadi pulang nih" ucap Mirna sambil berlari kecil menuju lapangan.
Lina tidak langsung mengejar Mirna, kakinya berlari menuju kantin untuk membeli minuman dan coklat untuk Revan, kali ini ia memberanikan diri. Selama ini, jika ia ingin memberikan sesuatu pada Revan, Lina akan meletakkannya diam-diam di loker atau laci Revan.
__ADS_1
"Makasih bi" ujar Lina sambil mengambil uang kembalian.
Lina berlari kembali menuju lapangan basket, permainan masih berlangsung. Akhirnya ia menemukan Mirna yang berdiri paling depan menyemangati Rio.
"Astaga lo kemana aja sih?" ujar Mirna, matanya tidak berpaling dari pertandingan basket.
Lina menikmati pertandingannya, wajah Revan yang penuh keringat semakin memesona. Merah merona, kulitnya yang putih bersih seakan baru terlahir kemarin.
"Priittt" tak lama kemudian peluit panjang terdengar pertanda permainan selesai.
Tentu saja tim Revan yang keluar jadi pemenang, sejak Revan SMP pun dia sering memenangkan pertandingan basket. Reva. terlihat semakin bercahaya dengan keringat di wajahnya.
"Eh, dah selesai tu Lin, merapat yok, Lo kira gua gak sadar Lo dah beli minuman buat Revan, kuyy" ucap Mirna dengan kecentilan khasnya.
"Hati-hati dong Lin, gua kira kebiasaan SMP Lo dah berubah" ejek Revan.
Belakang ini, Revan selalu seperti itu, waktu SMP disaat Lina melakukan kesalahan lelaki itu pasti akan memakinya dengan kasar. Sekarang dia hanya sekedar meledek Lina, walaupun tetap menjengkelkan tapi gadis itu lebih bahagia, setidaknya perjuangannya memiliki peningkatan.
"Lo haus ngga?" ucap Lina ragu-ragu sambil menyodorkan minuman.
"Tumben otak Lo encer, andai Lo kasih gua puisi buatan Lo di keadaan ginikan gak lucu" ledek Revan.
"Deghh" jantung Lina berdetak lebih kencang. Apa maksudnya? jadi selama ini Revan tahu kalau Lina yang selalu mengirimkan puisi, coklat dan bunga kepadanya.
Lina mengira Revan hanya tahu dia pernah memberikan coklat satu kali. Tetapi ternyata ia salah, Revan tahu kalau Lina sering bahkan teramat sering memberikan coklat, bunga, dan puisi.
__ADS_1
"Hello ..." ucap Revan sambil melambai di depan wajah Lina.
"Kok Lo tahu gua yang ngirimin coklat, bunga dan puisi?" tanya Lina penasaran.
"Gua selama ini tahu, tapi pura-pura gak tahu aja, hahaha" tawa Revan iseng.
Revan menganggap Lina sama seperti Diandra. Awalnya mengejar Revan mati-matian, disaat Revan sudah cinta dia tiba-tiba menghilang.
Lina tidak mau menjadi sekedar bayang-bayang Diandra saja, pastinya dirinya dan Diandra berbeda. Diandra sudah berteman dengan Revan sejak kecil, sedangkan Lina baru berjumpa dengan Revan saat SMP dan pastinya cintanya jauh lebih besar dan tulus dibandingkan Diandra.
"Lo jangan suka ke gua ya Lin" ucap Revan setelah mereka menepi di pinggiran lapangan.
Apa maksudnya? hati Lina terasa sakit. Perjuangannya selama 5 tahun ini tidak ada artinya buat Revan? pikirnya kesal.
"Kenapa?" jawab Lina memberanikan diri.
"Gua gak suka sama Lo, gua maunya kita berteman aja, Lo mau kan temenan sama gua?" tanya nya dengan mata penuh arti.
Hati Lina hancur seketika tapi ia tidak akan menyerah, lihat saja, nanti kamu juga cinta pikir gadis itu. Lina diam saja tidak menanggapi perkataan dari Revan.
"Gabung bareng yang lain yok" pinta Lina yang dibalas anggukan dari Revan.
Mirna tersenyum melihat sahabatnya dan Revan jalan beriringan. Mungkin Mirna berpikir Revan akhirnya mulai menyukai sahabatnya, nyatanya Lina sudah ditolak secara tak langsung sebelum menyatakan perasaannya.
Tetapi biarlah, semuanya belum berakhir, masih ada satu tahun tersisa sebelum mereka tammat SMA. Lina harus benar-benar membuat Revan menyukainya sebelum waktu perpisahan SMA tiba.
__ADS_1