Future Husband

Future Husband
File 2


__ADS_3

Dahlan merasa heran, sepulang dari Russia Tuannya itu teramat sangat bahagia. Senyum tidak pernah luntur tersungging dari ke dua sudut bibirnya. Aldo bahkan tidak hentinya beraktivitas dengan hati senang. Hingga kini, Dahlanpun tidak tahu isi dari secarik kertas itu. Semua yang bersangkutan dengan Nonanya sangat misteri tapi yang jelas Ia bisa bernafas lega jika Tuannya itu mampu bangkit kembali.


Bangkit dari terpuruk di mana Aldo akan menghabiskan banyak waktunya untuk berdiam di kamar melamun dan bekerja tanpa henti. Tubuh Aldo bahkan jauh dari kata kurus jika orang yang melihatnya saat pria itu selalu tampil perfectionis. Dahlan merasa sangat bersyukur ketika saat tiba di Russia meski tanpa ke pastian akhirnya senyum itu hadir kembali.


"Dahlan, hari ini Aku akan pergi ke tempat syuting." Dahlan sampai terbengong mendengar ucapan Aldo. Bukan tipe Aldo sekali mau bersusah payah dan ke panasan melihat bagaimana syuting iklan untuk produk yang mengisi webnya sekalipun. Aldo selama ini tidak pernah meninjau langsung setiap syuting apapun untuk mengisi webnya yang memang selalu membutuhkan iklan dan informasi terbaru setiap menitnya.


Dahlan mengangguk. Mengiyakan saja apa yang di inginkan Tuannya, apalagi hanya meninjau bukan untuk ikut syuting.


"Baik tuan, syuting akan di lakukan tepat jam 9 pagi ini." Aldo mengangguk. Lalu membuka berkasnya yang sudah banyak saat Ia meninggalkan kantor beberapa hari untuk bertemu sang istri.


Aldo begitu fokus pada berkasnya, sampai-sampai Ia tidak tahu bahwa terjadi ke gaduhan di luar sana.


"Saya akan melihatnya Tuan." Dahlan meminta izin untuk mengusir pengganggu ke tenangan sang Tuan.


Dahlan tidak mau acara tenang Tuannya terganggu oleh hal-hal yang tidak penting. Meski Aldo sama sekali tidak ada tanda-tanda terganggu sedikitpun. Pria itu masih saja sibuk berkutat pada berkasnya meski suara di luar benar-benar sangat gaduh.


Aldo mendongak, melihat Dahlan yang hampir sampai pada pintu. Namun sayang, pintu lebih dulu terdorong dari luar. Membuat Dahlan hampir terjungkal ke belakang.


Pintu terbuka lebar, menampilkan wajah sahabatnya serta Kakak Iparnya yang sudah merah padam. Aldo hanya mampu mendengus kala suara umpatan yang pertama Ia dengar dari seorang Zalano.


"Sial Lo Do." Aldo tidak menanggapi. Menanggapi Alan yang sedang dalam mode marah seperti ini bukanlah pilihan baik. Aldo memutuskan untuk kembali berkutat pada berkasnya, membiarkan Alan mengomel sampai pria itu menutup bibirnya sendiri. Lagian Aldo juga tidak tahu alasan Alan marah hingga seperti itu.


'Brakkk'


"Apa sih Lan? Lo enggak tahu apa kalau kerjaan Gue segunung?" protes Also yang tidak tahan karena Alan menggebrak mejanya. Alan mendesis tidak suka. Dengan bersidekap dada Ia berkata.


"Berkas Lo enggak seberapa Do, Gue dua hari nunggui Lo dan Lo sama sekali enggak muncul. Lo bayangkan saja!" Aldo tetap pada posisi mengerjakan berkasnya namun tetap mendengar ocehan Alan. Aldo memprotes Alan tadi namun tidak mengalihkan fokus Aldo dari berkas-berkasnya.

__ADS_1


Menatap Alanpun bahkan tidak, dan sejengkel apa Alan pasti semua tahu. Alan sangat ingin mencabik Aldo kalau saja Ia tidak ingat bahwa Aldo adalah suami ke sayangan Adiknya serta sahabat terbaiknya.


"Lo bodoh atau apa?" Alan berkata dengan mendudukkan bokongnya pada kursi di hadapan meja kerja Aldo. Dahlan hanya menatap ke duanya dan fokus pada pekerjaannya. Tiak ingin ikut dalam adu mulut ke duanya, karena dapat di pastikan Ia akan kalah sebelum mengeluarkan satu kata saja.


Aldo mendongak menatap Alan.


"Ke napa Lo kirim berkas aset Lo ke Gue, terus pakai jasa pengiriman lagi. Dan mobil? Oh ya mobil itu, maksudnya apa? Jangan bilang Lo sudah mau mundur buat berjuangkan cinta Lo ke Jeje." Aldo tidak paham dengan apa yang di bicarakan Alan kali ini. Aset? Aset apa? Alan sama sekali tidak tahu arah pembicaraan ini.


"Lo enggak lagi-?" Alan menggantungkan ucapannya. 


"Jangan bilang Lo enggak tahu apa-apa soal ini?" Aldo hanya mampu diam. Mengambil sebuah berkas yang tadi di lempar oleh Alan. Setelah pria itu mendobrak pintu dan juga sebelum pria itu mengomel tadi.


Mata Aldo ingin ke luar rasanya.


"Lo dapat ini dari mana?" Aldo benar-benar tidak tahu soal ini semua. Bagaimana bisa? Aldo menatap Alan meminta penjelasan dan di sini beru semua tahu jika ke duanya sama-sama tidak tahu akan pembicaraan mereka yang tadi saling menyalahkan.


"Lo coba buka semuanya, satu persatu." Aldo melakukan apa yang Alan perintahkan. Tangannya tidak berhenti bergetar kala membuka lembar demi lembar kertas-kertas penting miliknya itu.


Membuka setiap lembar berkas yang isinya begitu berharga bagi Aldo dengan teliti dan tidak terlewat satupun. Bahkan Aldo sampai tidak tahu jika berkas itu sudah ada di luar kuasanya. Bagaimana bisa?.


Di sana, di salah satu lembar berkasnya Aldo dan Alan menemukan secarik kertas. Aldo ingat betul kertas ini, Aldo membuka laci meja kerjanya dan 'deg' jantung Aldo berdegup sangat kencang.


Aldo tidak mau berlama-lama. Di bukanya kertas yang terselip itu dan rasanya seperti hancur. 


'Aku menjaganya karena tunanganmu yang memintanya, Ia mengambil hakmu secara diam-diam. Dan ketika ajal telah memutuskan dunia kalian, Ia tidak sanggup untuk memohon maaf padamu. Ia memintaku untuk mengembalikannya padamu, dan sekarang tugasku telah usai mengenai ini' 


Aldo lagi-lagi meremasnya, menyesali segala yang Ia tuduhkan pada satu wanita yang sebenarnya dari awal adalah pelindungnya. Semua hartanya tidak berguna sama sekali jika wanita itu tidak kembali. Andai, andai saja Ia bisa memeluknya. Aldo akan sangat bahagia melakukan itu.

__ADS_1


Alan sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada Aldo.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Aldo tidak menjawab. Ia hanya memberikan senyum pada Alan dan kemudian menyimpan semua berkas asetnya pada laci mejanya. Menyimpannya untuk Dia yang telah mau menyimpannya dengan baik selama ini. Dan Aldo merasa bodoh, Dia yang istimewa dan Aldo menuduhnya. Membuat Dia yang di cintainya pergi saat ini, tidak ada ke pastian. Tapi saat Dia membuat perjanjian untuk kembali, Aldo merasa sangat bahagia. Sebahagia Dia menanti ke datangannya juga berita bahagia yang akan Dia bagi dengannya.


"Mobil apa yang Lo dapat?" pertanyaan Aldo memang tidak nyambung sama sekali tapi Alan mendadak jadi exited.


"Lo tahu, mobil sport jenis Mc Laren 720s Spider. Gilakan tuh? Tapi siapa orang yang gila seperti itu? Demi Gue yang mau terima itu berkas Lo, Dia belikan Gue mobil semahal itu." Aldo hanya mampu tersenyum dalam hati.


'Segila Adik Lo yang buat Gue jatuh terlalu dalam mencintainya Lan' 


Tapi itu untuk Aldo simpan dalam hati.


"Lo ikut Gue!" Alan menaikkan satu alisnya.


"Ke mana?" Aldo hanya diam dan berdiri, melangkah ke luar ruangannya.


"Gila Lo, Gue kaya Dahlan saja di belakang Lo!" protesan Alan hanya Aldo tanggapi dengan senyuman. Alan yang marah-marah sudah hilang berganti dengan candaan, semudah itu dan Aldo sangat bersyukur kenal dengan pria seperti Alan dalam hidupnya.


Tubuhnya terhenti untuk menunggu Alan menyamakan langkahnya. Dahlan sendiri hanya membuang nafas dan mengikuti ke dua Tuannya.


"Dasar labil.".


"Lo yang labil, dasar." dan ke duanya hanya tertawa. Mereka berdua adalah sama-sama manusia labil jika berurusan dengan wanita.


Madiun,03/07/20


__ADS_1



__ADS_2