
Mata Aldo rasanya hampir ke luar saat Ia tiba di sebuah tempat dengan pintu gerbang yang tinggi bak istana megah, hal yang tidak pernah Aldo duga bahwa bangunan yang gagah itu adalah milik isteri tercintanya.
Kini Aldo tahu ke napa Ia begitu susah untuk bertemu Jeje kala itu, semua orang tentu bingung saat akan memberitahunya mengenai mansion utama Jeje. Setelah Aldo mengoreksi sendiri dari bibir Jeje, Jeje memiliki 5 mansion dan salah satunya mansion utama yang kini ada di hadapan Aldo.
Mansion Jeje ini terletak di pinggiran kota, jauh dari hiruk pikuk kota. Sebelum masuk ke jalan ini tadi, Aldo di suguhi dengan pemandangan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Aldo memperkirakan kalau umur pohon saja sudah puluhan tahun atau mungkin hampir se abad. Maka dari itu, Aldo tidak akan tahu jika Ia nekat mencari mansion Jeje waktu itu.
"Open." sebuah gerbang menjulang tinggi yang membatasi jalanan dan bangunan itu terbuka hanya dengan satu kata yang di ucapkan isterinya.
Aldo menatap isterinya, tahu akan ke bingungan Aldo Jeje tersenyum.
"Semua desain rumah ini di buat dengan kontrol jarak jauh dan dengan suara. Hanya suaraku dan anak-anak saja, akan tambah nanti dengan suaramu." Aldo rasanya pusing sekali mengetahui bagaimana otak cantik isterinya itu bermain.
Semua yang ada dalam hidup Aldo kini berubah menjadi ke hidupan yang sangat modern, semua bergantung pada tekhnologi yang di kembangkan Jeje. Hingga mansionnyapun di desain khusus dengan tekhnologi yang Will punya, hanya dalam semalam Will bekerja dan paginya mansion Aldo telah berubah.
Telfon rumah yang anti penyadapan dan juga CCTV yang menggunakan sensor suhu tubuh dan dapat mendeteksi data seseorang dengan membaca sidik jari atau bahkan DNA seseorang. Apalagi kartu identitas orang Indonesia yang sekarang berbentuk elektronik mempermudah Will memasang alat secanggih itu.
Rasanya perusahaannya tidak ada apa-apanya dengan ke mampuan Jeje mengenai pengembangan tekhnologi. Aldo hanya mampu mengangguk atas penjelasan Jeje.
Mobil yang membawa ke duanya telah masuk ke sebuah pelataran luas yang di penuhi bunga krisan warna-warni di samping kanan kirinya. Aldo menatap takjub bangunan yang berdiri kokoh bak istana negeri dongeng. Bukan warna-warni seperti harapan kalian, hanya rumah bercat putih dan juga gold yang menjadi ciri pemiliknya.
Aldo menatap bangunan yang jaraknya hampir 50 meter dari mobilnya melaju, bangunan itu menghadap jalan pelataran utama dengan pintu-pintu ukiran kayu.
"Itu bangunan apa?".
Jeje melihat arah pandang Aldo.
"Oh itu garasi mobil anak-anak jika mereka menginginkan di antar supir, kalau mereka tidak menginginkan supir ada di basement mereka masing-masing.".
"Masing-masing? Maksudmu si kembar juga?" Jeje mengangguk.
"Aku tidak bisa berlaku tidak adil pada mereka, apa yang Aku fasilitaskan pada Kakaknya maka Adiknya juga akan mendapatkannya." Aldo menatap Jeje dengan senyumnya.
Mobil mereka mendekati sebuah bangunan yang katanya adalah istana bagi anak-anak mereka. Itulah yang Jovan dan Jonas katakan padanya, membujuk Aldo juga untuk berkunjung ke Russia.
Aldo menatap sembilan bangunan yang berdiri kokoh di sana, jika tidak benar-benar teliti maka orang mengira itu hanya satu bangunan luas. Ada sembilan lantai dengan setiap lantai terdapat balkon, setiap balkon juga tertata dengan berbeda-beda benda. Aldo yakin bangunan yang paling luas dan besar itu adalah rumah utama keluarga Jeje di Russia. Balkonnya juga tertata bunga-bunga cantik, bangunan itu berada di tengah.
"Ke napa Kamu memilih sembilan lantai bukan sepuluh? Terasa ganjil." Jeje terkekeh.
"Hanya ingin, lagian angka tertinggi di dunia ini bagiku angka sembilan bukan sepuluh." Aldo menaikkan sebelah alisnya.
"Dan angka nol adalah terendah, dan jika Aku memilih angka sepuluh maka Aku hanya akan mundur dari langkah. Kamu bayangkan angka sepuluh terdiri dari satu dan nol, sedangkan angka nol adalah terendah. Bukannya Aku akan mundur selangkah? Jika Aku balik filosofiku, dari nol ke angka satu bukannya Aku hanya maju selangkah. Aku tidak mau hanya step by step jika Aku bisa beberapa step. Maka dari itu Aku suka dari nol ke sembilan. Seperti satu kali dayung dua tiga pulau terlampaui." Aldo benar-benar tidak tahu jalan pikiran Jeje tapi Ia senang saat tahu isterinya itu begitu ambisius dalam hidupnya.
__ADS_1
Jika di lihat dan di pikir, Jeje terus melakukannya seperti itu. Melampaui batasan orang-orang yang berpikir selangkah demi langkah adalah pilihan utama mereka, tapi hello. Sekali lagi kita kadang juga harus logis bahwa dunia itu memang kejam saat kita berada di bawah. Dan untuk menghilangkan ke kejaman dunia, ya seperti Jejelah mereka berpikir seharusnya. Mengubah takdir mereka dengan cara mereka sendiri.
"Kamu ingin kita keliling atau nanti Kamu bersama Will?" Aldo mengusap surai panjang wanitanya itu lalu tersenyum.
"Kamu istirahat saja biarkan Will yang menemani Aku keliling rumah." Jeje mengangguk patuh, lagian Ia juga butuh mandi karena baru mendarat dan badannya sangat lengket.
"Baiklah, nanti Aku akan siapkan air hangat untukmu mandi." kata Jeje setelah Ia dan Aldo turun dari mobil, Aldo mengangguk.
"Bersenang-senanglah Al." Aldo terkekeh lalu mengecup kening isterinya.
"Aku jauh lebih senang jika nanti malam kita menghabiskan waktu bersama." Jeje memutar matanya.
"Tidak perlu Kamu ingatkan Al, setiap malam sejak pertemuan kita bukankah itu saja yang Kamu minta?" Aldo terkekeh geli, apalagi raut Jeje yang cemberut seperti anak kecil membuatnya sangat gemas.
"Itu tugasmu Sayang, Aku sudah lama merindukanmu pelukanmu dan semua yang ada pada dirimu. Jadi jangan salahkan Aku." Jeje hanya mendengus lalu mengangguk pasrah, apa boleh buat jika Aldo sudah mengatakan sebuah ke wajiban seorang isteri.
"Terserah padamu saja." Jeje meninggalkan Aldo yang tersenyum geli, menatap punggung Jeje hingga hilang dari mata Aldo.
"Dad." Aldo memutar tubuhnya.
"Will." Will tersenyum.
"Sangat." Will terkekeh.
"Aku akan menjadi guidemu hari ini, jadi kita mulai dari mana?" Aldo mengedikkan bahunya.
"Kau yang mengenal tempat ini Will." Will mengangguk.
"Bagaimana kalau basement dulu, Aku ingin pamer pada Dad." Aldo terkekeh.
"Baiklah."
Aldo dan Will menaiki sebuah mobil sport Ferrari Will yang akan membawa ke duanya pada basement dari rumah Jeje.
"Ini semua mobil kami, ini adalah rumahku Dad." Aldo menatap ratusan mobil sport dan mobil santai yang berjajar rapi. Aldo sampai di buat tidak percaya jika Jeje memfasilitaskan semua mobil ini pada Will.
"Semua Adikmu punya?" dan anggukan Will membuat Aldo semakin pusing, bukan hanya milyaran mobil-mobil itu. Ada yang lebih dari 4 triliun juga.
"Aku paling suka yang itu Dad." Will menunjuk mobil berwarna hitam pekat dengan lampu yang mungkin sudah di modifikasi oleh Will.
"Itu Lamborgini terbaru, namun sudah Aku modifikasi seperti pesawat tempur." dengan cepat Aldo menatap Will yang sibuk menyetir.
__ADS_1
Bukan hanya mobil, di basement bawah rumah Will juga terdapat motor-motor anak jaman sekarang. Lalu jalan penghubung antara basement rumah Will dan Lian, itu kata Will.
"Ini basement Lian dan Heln, Lian tidak banyak mempunyai mobil karena sering kali Aku hancurkan." kepala Aldo menoleh ke Will.
"Ke napa?" Will tersenyum, meski matanya terus fokus pada jalan di dalam basement. Memutar kemudi agar tidak menabrak tiang beton yang menyangga rumah mereka.
"Lian berbeda Dad, Dia lebih bandel dari kami. Tapi Mom terus ketat mengawasinya, siapa sangka bocah tengil itu adalah pemuda paling jenius di antara kami." Aldo menatap Will seolah berkata, benarkah? Will menatap Aldo sejenak dan mengangguk.
"Ya, Lian dapat menggabungkan struktur atom yang terurai menjadi sebuah bahan yang dapat menghancurkan paling kecil kota Petersberg ini menjadi abu secara ke seluruhan dalam waktu beberapa detik. Mendekati struktur nuklir yang menjadikan Nagasaki dan Hiroshima kota mati." mata Aldo terbelalak.
"Inilah mengapa kami sangat mengawasi setiap gerak-gerik Lian, dan Mom tidak ingin Lian menjadi penjahat.".
"Bukankah mudah menjadi penjahat saat kalian memang sangat jenius? Lagian bukankah mudah kalian melawan Jeje?" Will menatap Aldo terkejut, Will tidak menyangka Aldo akan bertanya seperti itu. Namun Will juga dengan cepat terkekeh.
"Untuk apa menjadi penjahat Dad?" Will tidak menjawab langsung.
"Kalian memiliki ke mampuan yang mumpuni." Will menggeleng pelan.
"Dad, Kau tahu. Kami semua tidak tahu jika tidak Mom yang mengajari kami dari nol akan ke mampuan kami. Dan Dad beri tahu Aku alasan yang konkrit ke napa kami harus menjadi penjahat, apa karena sebuah ke mampuan dan ke jeniusan?" Aldo mengangguk.
"Bisa saja." jawab Aldo acuh, Will tertawa sejenak.
"Kami tidak akan melakukan ke jahatan Dad." Will kembali menerawang hidupnya sebelum bertemu Jeje.
"Bagiku pertemuanku dengan Mom adalah Ke sempurnaan Tuhan yang adil pada ke hidupanku. Dulu, untuk satu suap nasi saja Aku harus baku hantam setidaknya minimal dengan 3 orang remaja yang 5 tahun lebih tua dariku. Tidak ada belas kasih, jika Aku kalah bisa saja 3 hari Aku tidak makan. Namun seorang remaja dengan seragamnya menolongku, merengek pada pria tua untuk mengadopsiku. Memberiku pertolongan pertama yang ternyata makanan yang tidak pernah Aku makan, bahkan saat Aku mengambil sisa makanan di sampah restoran. Makanan terlezatku saat itu, dan saat kini Aku tahu makanan apa itu. Rasanya remaja itu memang malaikatku, Aku hanya gelandangan yang ke laparan dan Dia memberiku makanan yang satu porsinya seharga 6 juta. Hanya steak dan Dia rela membelanjakan itu untukku." Will tertawa, tawa yang tersirat akan ke sedihan dan ke banggaan.
Will tidak menghentikan laju mobilnya mengelilingi basement yang sekarang sudah menuju basement ke Lima, basement milik Jeje. Aldo menatap Will, ke hidupannya jauh lebih baik saat kecil sampai sekarang meski Ia sudah ke hilangan Ibu sangat lama.
"Mom mengadopsiku dengan nama Bastian sebagai Ayah angkat kami, karena Mom masih terlalu muda untuk menjadi orang tua. Yah, meski penghasilan Mom saat remaja lebih dari cukup untuk menghidupiku." Will terkekeh.
"Wanita paling cantik." Aldo melihat setiap perubahan ekspresi Will. Ke kaguman Will akan Jeje begitu luar biasa. Maka sanggupkah Ia tidak juga mengagumi sosok isterinya itu? Jawabannya tidak mungkin.
"Ini koleksi mobil Mom, hanya sedikit. Karena Mom lebih suka yang cepat." Aldo tahu apa maksud yang cepat dari perkataan Will.
"Bantu Dad menjaga Mom." kepala Will menatap Aldo, Ia tersenyum. Kali pertama Aldo bereaksi setelah Ia bercerita panjang lebar.
"Kami selalu melakukannya." Aldo tersenyum, menepuk bahu Will seperti seorang Daddy yang percaya sepenuhnya terhadap puteranya.
"Mau kita lanjutkan." Aldo mengangguk sebagai jawaban.
Madiun,13/07/20
__ADS_1