Future Husband

Future Husband
Bab 19


__ADS_3

Selama pergelangan kaki Lina keseleo, Mama memutuskan untuk tidak liburan semester ini. Gadis itu benar-benar sedih dengan keputusan Mama.


Tetapi mau bagaimana lagi, ini juga demi kesembuhan kakinya. Lina lebih sering menyibukkan diri di kamar, sesekali ia akan keluar ke halaman rumah untuk berlatih jalan dan hasilnya tentu masih sakit.


"Liburan kan hampir sebulan sayang, kalo kamu udah sembuh baru kita pergi liburan ya" jelas Mama.


Lina hanya mengangguk patuh dan menghabiskan cemilannya. Mirna mengabarinya bahwa sahabatnya itu akan pergi liburan ke Lombok, Lina bahagia dan sedikit jealous.


"Bawain oleh-oleh yang banyak buat gua" balas Lina singkat pada Mirna.


Lina belum sempat berterimakasih kepada Revan yang sudah mengobatinya. Gadis itu mencari hp di sekitar tempat tidurnya, search nama Revan dan memberanikan diri untuk menghubungi duluan.


"Thanks ya Rev buat kemarin, Lo dah nolongin gua banget" isi pesannya singkat dan padat.


Selang tiga menit terdengar suara notifikasi dari hp Lina. Terlihat pesan balasan dari Revan si pangeran impiannya.


"Santai Lin, btw kaki lo gimana sekarang?" balas nya dalam pesan WhatsApp.


Lina langsung kegirangan melihat pesan balasan dari Revan. Lina teriak-teriak nggak jelas dan mencubit gemas Teddy boneka kesayangannya.

__ADS_1


"Lebih lumayan dibandingkan kemarin" balas Lina dengan cepat.


Setelah lima menit tidak ada lagi pesan balasan. Lina kesal dan jengkel, dalam hati ia menggerutu, pesan dari Revan ia balas dengan hitungan detik sedangkan lelaki itu begitu lama membalasnya. Lina merasa tidak diprioritaskan.


"Emangnya Lo siapa Lin, pacar juga bukan" ujar hati Lina.


Setelah setengah jam menunggu, bunyi notifikasi kembali berbunyi dari handphone Lina. Gadis itu buru-buru mengecek handphonenya.


"Bagus deh, kasian yang gak bisa liburan wkwk, btw sorry lama soalnya gua di suruh Mama beli minyak goreng ke minimarket tadi" jawab lelaki itu lebih panjang dari yang Lina duga.


Lina tersenyum-senyum sendiri memandangi layar ponselnya. Dia telah suudzanan kepada Revan.


Gadis itu kemudian memanggil si mbok untuk membawa beberapa cemilan ke kamarnya. Bibirnya tidak pernah berhenti tersenyum ketika melihat handphone.


"Gua juga gak liburan, Papa gua lagi ada job" balas Revan lagi.


"Hiakkkkkkk" Lina teriak kegirangan.


Nasib mereka sama dan mungkin saja ini pertanda jodoh. Rasanya Lina ingin loncat-loncat di atas tempat tidurnya jika pergelangan kakinya tidak keseleo.

__ADS_1


"Tok...tok...tok... Mama boleh masuk sayang?" terdengar suara Mama bergetar seakan mau menangis.


"Masuk Ma" jawab Lina penasaran.


Tidak biasanya Mama seperti itu, biasanya Mama selalu riang gembira. Lina melihat Mama dengan air mata bercucuran masuk ke kamarnya.


"Sayang kamu siap-siap ya, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Mama terisak-isak.


"Kenapa Ma? Siapa yang sakit?" tanya gadis itu.


Mama terdiam sejenak dan kemudian meluapkan tangisannya di pelukan putri semata wayangnya. Mama menceritakan apa yang terjadi kepada Lina.


"Papa kecelakaan sayang, sekarang lagi di rumah sakit, Mama takut" ucap Mama di sela-sela tangisannya.


Lina terdiam tidak dapat mengucapkan apa-apa seakan mulutnya terkunci. Setelah berpelukan beberapa saat untuk saling menguatkan, Lina dan Mama bergegas ke rumah sakit. Mereka diantar oleh supir karena si mbok melarang Mama untuk menyetir di keadaan Mama yang sedang kacau.


Selama perjalanan ke rumah sakit mereka lebih banyak diam. Lina dan Mamanya berpelukan, suara isak Mama masih terdengar sayup-sayup di telinga Lina. Gadis itu mengusap pundak Mamanya untuk menguatkan.


Terlihat jelas kasih sayang Mama kepada Papa yang begitu besar. Lina belum pernah melihat Mama menangis seperti ini. Hatinya sakit dan ia tidak tahu harus berbuat apa, gadis itu terus-terusan berdoa untuk kesembuhan Papa.

__ADS_1


__ADS_2