Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 8 : pohon Kamboja


__ADS_3

Matanya memerah, hidungnya juga. Air masih menghiasi kedua pipinya yang putih.


Dia berjalan sempoyongan, perutnya masih sakit akibat belum pernah di isi.


Dia berjalan menunduk. Hatinya terasa sakit, perasaannya tersayat-sayat, bukan karena pisau, tapi kata-kata, kata-kata yang kejam dan penuh kebencian, penuh kesakitan dan penyakit.


Sambil berjalan menunduk, dia tidak mempercayainya, dia sudah di nodai dua kali, dan bukan hanya satu orang melainkan 4 orang sekaligus.


Dia menjadi wanita yang rendah dan tidak berwibawa seperti dulu. Andai dia bisa mati dan mengakhiri hidupnya, maka sudah jauh-jauh hari dia lakukan.


Tapi alih-alih bunuh diri, bahkan untuk menjauh dan memegang pisau saja sudah sangat mustahil.


Dia menggigit bibirnya karena marah, kesal, benci, dan dendam. Dia melirik ke depan. Seorang Pria tampan dan gagah, tapi mempunyai hati iblis.


Dia ingin membunuhnya, memotong mayat-mayatnya, dan memberikannya kepada buaya. Mungkin para buaya tidak sudi di berikan daging pria kejam seperti itu. Mungkin juga para lalat tidak akan mengunjunginya.


Setelah berjalan beberapa meter, dia merasa kepalanya sangat sakit, sungguh sangat sakit. Dia memegang kepalanya. Dia berhenti, dan ingin berteriak, tetapi kesadarannya menghilang sebelum itu terjadi.


Tang li diam setelah mendengar suara xin mei terjatuh. Dia menghela nafas.


Ketika dia tersadar, dia sudah duduk di bawah pohon kamboja tua. Amat tua dan berdaun lebat. Beberapa bunga Kamboja berjatuhan menghiasi lantai.


Kerutan-kerutan nampak indah di kulit pohon Kamboja itu. Cabang-cabang sangat panjang dan banyak. Bunganya berwarna ungu yang indah. Xin mei dapat menghirup bau harumnya.


Di dekatnya ada sungai mengalir. Amat tenang alirannya, membuat siapa saja betah melihatnya, atau mendengar suara alirannya yang tenang.


Sejurus, tang li muncul, dia kemudian mendekati xin mei dan memberikan sekantong buah-buahan kemudian pergi dari sana.


Mengingat dirinya di perlakukan seperti itu, dia ingin mati saja, akan tetapi bisakah dia melakukannya? Bisakah dalam sikap normal seperti ini bisa dia lakukan?


Dia menghela nafas. Jika semua terjadi biarlah. Ibu akan mengerti dan memaafkanku. Pria itu jahat dan kejam, tapi setidaknya dia memberiku makan.


Xin mei makan buah yang di berikan tang li.


Satu jam kemudian, perutnya sudah lebih nyaman, tubuhnya lebih sehat dan bertenaga.

__ADS_1


Kini wajah cantik lebih bersinar dari pada sebelumnya. Meski di perlakukan seperti itu, tidak ada gunanya untuk mengingat, masa lalu biar masa lalu, xin mei ingin berusaha menghilangkan perasaan itu.


Meski sulit, dia akan berusaha. Walaupun akhirnya tidak bisa, setidaknya dia bisa hidup lebih nyaman.


Namun tiba-tiba dia berpikir, bagaimana jika dia hamil? Dan mengandung anak para bandit itu?


Xin mei tiba-tiba roboh. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika dirinya hamil dan mengandung.


Jika dia menggugurkannya, itu sama saja dengan membunuh. Jika membunuhnya, dia adalah ibu yang buruk dan durhaka.


Apa yang harus dia lakukan?


Air matanya mulai mengalir lagi. Dia menangis dan menangis.


“Kenapa? Kenapa aku harus seperti ini? Aku hanya ingin hidup damai bersama ibuku, melihatnya bahagia dan memiliki cucu. Apakah sesulit itukah untuk mendapatkannya?”


Dia menangis sejadi-jadinya. Memikirkan ini, membuat hatinya hancur. Dia memandang ke bawah. Kedua bahunya naik turun seiring dia menangis. Air matanya berjatuhan seperti hujan.


Suara langkah kaki terdengar dari jauh, semakin mendekat, dan mendekat.


“......”


“kau tidak memikirkan, bagaimana kah diriku jika aku mengandung anak bandit itu? Dan bagaimanakah tanggapan para Warga jika mereka mengetahui, aku adalah wanita murahan! Aku hanya ingin satu hal darimu! Jika aku mengandung, kau harus membawa anak ini pergi jauh-jauh. Aku tidak mempedulikannya. Jika kau tidak mau, aku akan membunuhnya.”


Xin mei tertawa, bukan senang tapi kesedihan yang amat mendalam.


“Aku terlalu bodoh! Sungguh bodoh! Kau tidak akan mempedulikanku. Kau akan lebih tenang jika aku mengandung bukan? Dan menerima cemohan dan gosip yang tiada tara.” Dia kembali tertawa seperti orang gila.


......................


Hari itu adalah hari yang seperti neraka baginya. Hari itu juga dia mulai tidak makan dan menahannya. Dia baru mengetahui, jika dia tidak makan, dia akan mati dan terbebas.


Hari-hari demi hari berlalu. Tang li membawa xin mei ke kedai untuk makan. Di bawah matahari yang menyengat, mereka berdiri di depan kedai.


Suara orang terdengar dari dalam. Suaranya amat menyenangkan, membuat xin mei menelan ludah.

__ADS_1


Dia mencium bau harum makanan yang ada di dalam, oh sungguh tergodalah hatinya untuk pergi memakan makanan yang ada.


Perutnya bersuara. Dia memegangnya. Perut yang kurus dan sedikit berisi. Dia bertambah kurus lagi.


Tangan dan kakinya kini terasa lemah dan terlihat sedikit tulang-tulangnya, sudah beberapa hari dia menahan makan dan sedikit sekali makan. Dan lagi pula tang li sedikit memberinya makan.


Tidak peduli entah bagaimana xin mei, lelaki itu sungguh kejam, bahkan dia tidak akan segan-segan memukul xin mei jika tidak berjalan.


Xin mei tidak berani, mana mungkin. Namun dia tidak tahan sehingga mencari jalan lain.


Jika dia marah, maka dia akan selalu mengatakan untuk bunuh diri, maka di sinilah tang li tidak berani. Maka duduklah dia menunggu xin mei beristirahat.


Ketika tidak sanggup lagi, dan lagi, xin mei terus melakukan itu, dan mengancamnya, ternyata pria di depannya sangat takut akan kematiannya.


Namun suatu hari, tang Li berani memukulnya dan mengores tangannya sangat dalam, membuatnya takut dan tidak berani melakukan itu. Jika dia lelah, maka akan berusaha, dan berusaha berjalan


Pernah suatu kali, dia pingsan, tapi bukannya di tolong, dia di biarkan saja tergeletak begitu saja. Perutnya sangat sakit, dia sangat ingin membutuhkan pertolongan, tapi di sekelilingnya hanya hutan belantara.


Dia mulai menangis dam mengerti, bagaimana rasanya berada di ambang kematian. Ketika dia sudah putus asa, tang Li datang dan membawa makanan. Selain itu, Tanpa xin mei harapkan pria itu menyembuhkannya.


Hari ini, Meski dia di ajak pergi ke kedai makan, dia tidak akan makan. Selain karena takut kepada tang li, dia juga tidak ingin makan, toh juga dia akan menjadi wanita bordil.


Namun mengapa tang li tidak memberinya makan dan terus menyiksanya?


Mungkinkah mulai hari ini dia akan mendapatkan makan yang enak?


Tidak, xin mei tidak akan menerimanya, dia lebih baik menjadi seperti ini, dan menjadi wanita buruk rupa, dia akan mencari cara.


Selain satu kebaikan tang li, xin mei juga bersyukur karena tidak merasakan gejala-gejala orang mengandung. Hatinya gembira, walaupun mendapatkan pengalaman yang buruk.


Lama betul mereka berdiri di depan kedai. Tang li menghela nafas dan mendekati xin mei.


Dia meraih tangan kurusnya. Walaupun kurus, tangan itu masih cantik dan membuat laki-laki ingin memegangnya.


“a-apa yang akan kau lakukan?” berbagai pikiran negatif mulai bermunculan di pikirannya. Dia memikirkan apa pria di depannya akan menjualnya, Apakah ada sesuatu yang lainnya?

__ADS_1


__ADS_2