Gadis Bordil

Gadis Bordil
Chapter 50 : Sebuah mangkuk soup


__ADS_3

Keesokan harinya, Tang Li berdiri di bawah pohon bersama Jia Hu.


Jia Hu bertanya, “Apakah kau benar-benar ingin pergi sekarang?”


Tang Li mengangguk.


“Aku tidak akan bisa melarangnya, tapi jika kau mau, kau bisa di sini lebih lama.”


Tang Li tidak menjawab.


Jia Hu kemudian memandang pemandangan Kota Chang’an dan tersenyum menikmati betapa indahnya kota itu terlihat dari tempatnya berdiri.


“Kakak Tang, kau harus bisa melindungi kekasihmu untuk kedua kalinya.”


“Oleh karena itu, aku harus pergi ke kota Chang’an terlebih dahulu, kemudian pergi menyelesaikan mereka.”


“Kau harus berhati-hati.”


Tang Li mengangguk, kemudian menoleh ke belakang. Di sana Xin Mei telah berganti pakaian dan mendekatinya.


Ekspresi mungil dan cantik itu membuat Tang Li tertarik dengannya.


Xin Mei memandangnya dengan tatapan dalam, kemudian berlari mendekati Jia Hu.


“Kakak Jia, aku akan pergi sekarang.”


Jia Hu menoleh. “Jika ada waktu tolong mampir, aku akan membuatkanmu bubur yang lebih enak dari sebelumnya.”


“Pasti.”


Jia Hu tersenyum, kemudian bertanya, “Xin, hati-hati di jalan, pria yang bersamamu itu akan selalu memangsamu. Aku tidak mau wanita cantik sepertimu di lakukan seperti itu.”


“Tidak akan lagi terjadi kak. Tang Li telah bersikap lebih baik dari sebelumnya.”


Mereka bercakap-cakap sebentar lalu akhirnya pergi dari sana.


Jia Hu kemudian masuk ke dalam.


Ketika tidak jauh dari sana, Xin Mei memegang tangan Tang Li, tapi Tang Li tidak mau dan melepaskannya. Ada kecanggungan sedikit di antara mereka.


Mereka lalu berjalan dalam bisu di pagi hari itu.


Ketika di siang hari, mereka makan di sebuah kedai yang ada di pinggir jalan.

__ADS_1


Setelah makan, Xin Mei bertanya, “Setelah kau mengantarkanku ke rumah bordil, apa yang akan kau lakukan?”


“Pergi ke pegunungan dan menikmati sisa hidup.”


“Sangat membosankan.”


Tang Li tidak menjawab.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dari pagi hingga sore dan malam. Mereka kadang-kadang berlatih pedang bersama, dan Xin Mei karena mengantuk di gendong dalam keadaan tertidur.


Cuaca kadang-kadang sangat tidak bersahabat, tapi dengan cuaca itu mereka semakin mendekat, tapi Tang Li berusaha menjauh.


Hingga akhirnya mereka tiba di gerbang Kota Chang’an.


Xin Mei tersenyum. Ada perasaan bahagia dan sedih menatap Gerbang kota itu. Dia bahagia karena telah tiba, tapi bersedih karena telah akan berpisah dengan Tang Li dan kemudian menjalani hidup yang menyedihkan.


Tang Li memandang dengan dingin dan berjalan ke dalam gerbang.


Xin Mei terdiam memandangnya, kemudian ikut pergi bersama.


Orang-orang sangat ramai berada di kota Chang’an. Penduduknya sangat ramah, mereka beberapa kali menyapa Xin mei dan Tang Li. Xin Mei senang, tapi Tang Li menatapnya dengan dingin. Para pedagang makanan yang tidak pernah Xin Mei lihat membuatnya tertarik ingin mencicipinya, namun apa daya, dia tidak punya uang sekarang.


Dengan wajah sedih menatap perutnya. Dia lalu memandang langit-langit biru cerah. Jika dia tidak mendapatkan makanan setidaknya langit masih terlihat cerah dan tersenyum kepadanya.


Xin Mei tersenyum tipis. Tapi kemudian tiba-tiba perutnya berbunyi tidak enak. Segeralah pipinya memerah dan dia malu di dengar orang-orang. Wajahnya tiba-tiba cemberut. Dia berusaha menyembunyikannya, tapi gagal.


Setelah beberapa saat, dia berjalan lagi dan tertegun, ketika salah satu jendela yang ada di lantai dua bangunan di depannya terbuka. Seorang wanita berumur 30 tahunan muncul menjulurkan tubuh indahnya. Baju putih itu sangat berkilauan ketika tersinari matahari.


Wanita itu menyadari tatapan Xin Mei, kemudian memandangnya. Dia tersenyum tipis yang sangat lembut, kemudian melambaikan tangannya dengan pelan.


Xin Mei merasa malu dan tidak enak telah memandangnya. Dengan malu-malu dia melambaikan tangannya. Kemudian bergegas ke depan berlari dan menabrak orang-orang sambil meminta maaf.


Kemudian dia berhenti. Dengan bertumpu di kedua lututnya, Xin Mei mengatur nafasnya. ‘kenapa aku harus memandangnya?’


Setelah nafasnya menjadi tenang, dia baru menyadari jika dia telah kehilangan Tang Li. Dia lalu menepuk dahinya. “Kenapa lagi-lagi seperti ini?”


Kejadian ini telah berulang kali terjadi, namun kali ini terjadi lagi. Xin Mei selalu berpikir, mengapa bisa kehilangan Tang Li secepat itu, dan selalu bertanya bagaimana pria itu dengan teganya meninggalkannya. Dia tidak tahu siapa yang harus di salahkan dalam setiap kejadian ini.


Xin Mei menghela nafas. Ketika itu seseorang menepuk bahunya. Dia terkejut.


Wanita tadi datang menepuknya. Ketika melihat Xin Mei terkejut, dia menutup mulutnya dan tertawa kecil. Dia tidak menyangka dengan tepukan kecil itu membuat gadis itu terkejut.


“Kau membuatku terkejut.”

__ADS_1


Wanita itu mengabaikan komentar Xin Mei. “Nona, mengapa kau memandangku tadi, apakah kau mengenalku?”


Xin Mei berpikir sebentar untuk mencari jawaban. Tapi karena tergesa-gesa, dia sulit untuk menjawabnya. “Itu, itu... Itu... Karena hiasan rambutmu! Ah, iya benar, rambutmu.”


Wanita itu kemudian memandang dalam ke arah mata Xin Mei, membuatnya tidak nyaman. Kemudian dia tersenyum, lalu mengambil jepit rambut yang ada di kepalanya.


“Ini jepit rambut bunga Lily laba-laba merah yang sangat menawan, jika kau menyukainya, ambillah.”


Xin Mei ragu-ragu memandang jepit rambut itu. Dia tidak pernah berpikir untuk menyukainya, apalagi memintanya. Itu hanya alasan untuk dirinya.


“Tidak usah.”


“Tidak apa-apa.” Wanita itu kemudian menyentuh rambut Xin Mei dan memasangnya dengan pelan.


“Kau lebih cantik dari sebelumnya.”


“T-terima kasih.” Xin Mei menjadi tidak enak.


“mari.”


Wanita itu kemudian memegang tangan Xin Mei dan menariknya. Dia membawa Xin Mei masuk dan duduk di salah satu meja.


Wanita itu kemudian mengangkat tangannya. “Aku memesan dua sup sayur!”


“Baik!” Ujar seseorang yang ada di dalam.


“A-aku tidak lapar.”


“Oh, benarkah?” wanita itu tersenyum. Tidak beberapa lama terdengar rintihan perut Xin Mei, yang membuatnya malu.


Wanita di depannya tidak berkomentar. Dia menyadari apa yang telah terjadi, tapi tidak berbicara apa pun.


Tidak beberapa lama, akhirnya dua mangkuk soup datang. Cairannya sangat bening dan bau segar menyebar dari sana, membuat Xin Mei tertarik mencobanya.


Dia kemudian menggenggam mangkuk sup itu dan mengangkatnya.


Wanita yang ada di depannya tersenyum.


Ketika dia ingin meminumnya, tiba-tiba seseorang telah menampar mangkuk itu hingga terjatuh dan tumpah. Dia terkejut dan memandang soup yang telah terjatuh.


“Bodoh.” Satu kata keluar dari mulut sosok yang berdiri di belakangnya.


Dia tahu siapa yang telah berkata seperti itu, tapi entah mengapa suara itu membuatnya sangat takut sekarang. Dia tidak berani menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2