Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 39 : mari kita akhiri


__ADS_3

Dai Heng, nama laki-laki bersama Yulan. Seorang laki-laki yang juga menjual kerajinan berupa bola kepada setiap anak-anak. Dia juga adalah seorang ahli pedang yang tersembunyi di desa. Dan memiliki tingkat keahlian seorang master. Lalu, mengapa dia memilih menjadi pedagang dan menyembunyikan keahlian pedangnya, dari pada pergi ke salah satu sekte menjadi anggota di sana dan menerima kehormatan?


Jika kau bertanya tentang itu, kita harus kembali ke masa lalunya. Dia terlahir di keluarga bangsawan yang memandang kualitas tubuh dari pada sikap. Dia terlahir dengan kemampuan yang sangat buruk dari pada saudara-saudaranya. Seperti keluarga yang lainnya, tentu saja dia di asingkan oleh keluarganya, bahkan ibu dan ayahnya lebih memperhatikan adiknya dari pada dirinya sendiri.


Menyesal terlahir sebagai seseorang yang bodoh, adalah sikap percuma dan tidak berguna. Maka dia selalu melakukan latihan dan latihan. Tetapi semua usahanya seperti tersedot dalam lubang hitam, yang semua itu tidak ada artinya.


Kemudian, suatu hari dia bertemu dengan penjual kerajinan yang bertanya mengapa dia terlihat murung.


Karena tidak ada orang yang mau mendengarkan di keluarga dan memperhatikannya, dia menceritakan semuanya kepada pedagang itu.


Pedagang itu merasa prihatin dengannya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, itu semua telah terjadi, tetapi dia bisa memberikan semangat kepadanya.


Dia pun berkata, “Lakukan terbaik yang bisa kau lakukan, tanpa memandang hasil jika hasil itu membuatmu lebih buruk.”


“Aku tidak bisa, tidak ada orang seperti itu.”


“Aku hanya menyarankan.”


Maka hari-hari pun berlanjut, hingga dia mendapatkan jawabannya. Dengan kalimat-kalimat yang telah menjadi motivasinya dan semangatnya bertahun-tahun, dia ingin kalimat-kalimat itu menjadi penuntunnya kini saat berhadapan dengan sosok terkuat yang pernah dia lawan.


“Jika ujung pedangku sudah menunjukmu, maka aku harus mengalahkanmu saat ini, tidak peduli apakah akan terasa sakit atau tidak, aku tidak peduli. Pedang terbuat dari bahan yang sangat keras, jika penggunanya lemah, maka dia tidak layak untuk memegangnya.” Ujar Dai Heng kemudian melangkahkan kaki kanannya, Setelahnya bergerak maju.


Kedua mata Dai Heng di penuhi tekad yang tinggi. Setiap langkahnya di penuhi semangat yang membara.


Namun, Tang Li memandangnya dingin seperti sedang meremehkannya. Dia kemudian mengangkat pedangnya. Lalu, mengayunkannya ke depan.


Bilah pedang itu bergetar hebat, menimbulkan suara tajam. Tepat pada saat itu, puluhan pedang muncul di belakangnya dan berputar-putar.


“keluarkan semua yang kau bisa,” ucap Tang Li tenang, tetapi dia sebenarnya sangat menghormati lawannya saat ini.


Dai Heng menarik kedua sudut bibirnya dan berteriak, “Tidak ada yang lebih baik berlatih tanpa pertarungan hidup dan mati. Dewa pedang! Mohon bimbingannya!”


Dia bergerak lebih cepat, bahkan bayangannya tertinggal jauh darinya.


Tepat ketika Tang Li berkata dan dai Heng berujar, puluhan pedang melesat dengan kecepatan tinggi dan arah yang berbeda-beda, tetapi memiliki target yang sama.


Dai Heng menghentikan langkahnya mendadak, membuat cekungan di tanah dan mengayunkan pedangnya. Suara-suara denting- dentingan terdengar saat dia menangkis semua serangan pedang Tang Li.


Kecepatannya sangat cepat saat dia menangkis – nangkis semua pedang yang datang. Walaupun sangat cepat, Tang Li dapat melihat dengan jelas setiap gerakan yang di lakukannya. Sangat jelas, jika keahlian berpedang pria paru baya di depannya tinggi, tetapi di bandingkan dengan dirinya, itu masih jauh.


Tang Li melambaikan tangannya ke belakang.

__ADS_1


Pedang-pedang yang menyerang, tiba-tiba berhenti dan bergerak mundur di belakang Tang Li.


Dengan wajah tanpa ekspresi, Tang Li bertanya, “Apakah kau yang telah mencuri uangku?”


Meski dia sudah tahu kebenarannya, dia masih meragukan apakah yang diketahuinya benar atau tidak.


Sebagai seseorang ahli pedang, dia merasa malu jika orang di depannya bisa mencuri uangnya, dengan ilmu yang di milikinya.


“Dewa pedang, anda tidak perlu bertanya tentang itu lagi. Semuanya sudah jelas. Anda ingin menangkap pembunuh dan pencuri itu? Mereka sudah bertemu dengan anda sekarang di saat ini. Semuanya akan berakhir setelah pertarungan ini selesai. Mohon jangan membuang-buang waktu.”


Tang Li mengangguk sembari melihat dai Heng berlari mendekatinya dengan wajah yang di penuhi tekad yang membara dan tujuan mutlak yang sangat diinginkan. Melihatnya membuatnya tenggelam dalam imajinasi belasan tahun sebelumnya.


Sembari melihat kedua tangannya yang penuh coretan-coretan dan luka akibat pedang, Tang Li kecil menggenggam erat kedua tangannya. “Ini hanya luka kecil, tidak apa-apa.”


Dia kemudian mengambil pedang kayu pendek yang telah di berikan Liu Fang. Kemudian mendekati batang kayu yang berdiri di bawah kerimbunan keindahan warna merah muda pohon persik.


Dia lalu mengayunkan ke arah batang pohon itu. Satu kali ayunan membuat tangannya terasa sangat sakit. Namun, tekadnya yang kuat membuatnya tidak mundur.


Di genggam erat pedang itu dan menenangkan diri, menganggap rasa sakit hanya datang dari pikiran bukan tangannya, dia melakukannya lagi.


Dia terus berlatih dan berlatih sembari di temani kelopak-kelopak bunga persik yang berjatuhan di tiup angin.


Waktu menunjukkan di siang hari, tubuh Tang Li sudah bermandikan keringat, tubuhnya sudah sangat lemah dan nafasnya sudah terputus-putus. Namun, dia masih berusaha mengayunkan pedangnya sembari memikirkan jika kelak dia pasti akan membalaskan dendam kedua orang tuanya.


Di sore hari, dia terbangun di bawah pohon persik. Liu Fang langsung melemparkannya sebuah pedang lalu bertanya, apakah dengan bekerja keras seperti itu, dia akan menjadi kuat dan mencapai keinginan untuk membalaskan dendam kedua orang tuanya?


Tang Li penuh keyakinan menjawab iya. Dia ingin membunuh orang itu dan membalaskan kedua orang tuanya. Jika dia bermalas-malasan dia tidak akan pernah mendapatkannya.


“Mengapa kau sangat bertekad melakukannya?” Liu Fang mendekati Tang Li dan memegang bahunya.


“Aku sudah berkata, itu semua demi kedua orang tuaku. Di dunia ini, mereka adalah sosok yang sangat berharga bagiku, aku tidak akan pernah tenang jika belum melakukannya.”


“Tanpa peristiwa itu juga, kehidupanmu tidak akan berwarna. Berlatihlah dengan giat, jangan pernah peduli orang-orang yang membuatmu terhambat.”


Tang Li mengangguk. “Pasti.”


......................


Dua bilah pedang itu menimbulkan suara yang sangat nyaring ketika bertemu satu sama lainnya, membuat binatang-binatang dan serangga berterbangan karena kebisingannya.


Tang Li menghilangkan semua pedang-pedang terbangnya setelah melihat tekad yang di miliki Dai Heng.

__ADS_1


Dengan tanpa perasaan, dia melakukan serangkaian serangan kepada Dai Heng. Gerakannya sangat lembut dan tenang. Namun bagi Dai Heng, dia terpojok dan terus dipukul mundur, hingga dia tidak punya pilihan selain melompat mundur.


“Apa yang membuatmu melakukan semua ini?”


Dai Heng terkejut setelah mendengarnya. Dia merasakan hatinya yang paling dalam tersentuh akibat ucapan itu. Membuatnya bertanya-tanya, kekuatan apa yang dimiliki sehingga membuat seseorang sepertinya.


Dai Heng terdiam beberapa saat lalu menjawab, “semuanya demi sesuatu yang sangat penting dan berharga di dunia ini, selain dunia ini sendiri.”


Dia diam lagi mengenang senyuman manis putrinya dan panggilan khasnya. Dia ingin berkata lagi, namun Tang Li menyela.


“Demi putrimu, aku sudah mengetahuinya. Dia sudah mati karena sakit. Kau dan istrimu tidak rela dia pergi dan melakukan ini semua.”


“Iya, apakah itu salah!?”


Tang Li memejamkan mata dan menggeleng. “Tidak, tidak salah. Tidak ada yang salah. Namun, aku ingatkan, putrimu lahir karena keinginanmu dan menderita karena ulahmu, dia sudah kembali dan sudah tenang, apakah itu belum cukup membuatmu tenang?”


“Omong kosong! Itu tidak benar. Dia meninggal karena takdirnya yang buruk. Aku ingin mengubahnya, dia layak mendapatkannya.”


“Semua orang layak mendapatkannya. Tetapi itulah kebenarannya...”


Dai Heng diam sejenak memikirkannya. Dari semua kejadian, putrinya memang lahir atas cintanya kepada istrinya, dan tentunya itu adalah ulahnya. Dia lalu bertanya, Apakah benar dia yang menyebabkannya?


Tentu saja, jawab iya, jika bukan karena dia memulainya, itu semua tidak akan pernah terjadi. Setelah mendapatkan jawabannya, dia lalu bertanya kepada Tang Li, gadis itu juga dalam bahaya karena dirinya, mengapa tidak membiarkannya pergi dari pada tersiksa di dunia ini.


“Karena dia tidak ingin mati.”


“jika begitu, putriku juga tidak ingin mati, oleh karena itu, aku menyelamatkannya.”


“apakah dia pernah berkata seperti itu?”


Dai Heng terkejut, kemudian tertawa terbahak-bahak. “siapapun juga tidak ingin mati di dunia ini!”


“Tetapi ada yang menginginkannya.”


“kau benar, itu tidak lain adalah gadis yang kau bawa, dewa pedang pembohong ini telah membohongiku, gadis itu ingin mati bukan sebaliknya. Aku melihat dengan mataku sendiri, jika dia ingin sekali di bunuh.”


“Apakah kau tahu jika itu benar di dalamnya?”


Dai Heng dengan pasrah menggelengkan kepalanya. “siapa yang tahu hati manusia?”


Dia kemudian melanjutkan, “Aku berdiri di sini karena keinginanku, dan kau juga melakukan hal yang sama. Mari kita akhiri di sini. Tidak ada yang salah. Kau benar, hanya ada pemenang.”

__ADS_1


Tang Li mengangkat pedangnya dan menatap Dai Heng dengan serius.


“Kau benar, mari kita akhiri.”


__ADS_2